Rabu, 18 Juli 2018

Cerita Rakyat Diharapkan Perkuat Identitas Masyarakat Jambi


Senin, 16 November 2015 | 11:19:02 WIB


Acara revitalisasi nilai budaya dalam cerita rakyat Jambi sebagai upaya peningkatan identitas lokal masyarakat Jambi
Acara revitalisasi nilai budaya dalam cerita rakyat Jambi sebagai upaya peningkatan identitas lokal masyarakat Jambi / Hendro

JAMBI - Berdasarkan analis tematik terhadap "Bujang Jambi", dan empat versi cerita Puteri Pinang Masak, yang didalamnya ditemukan delapan nilai budaya, yakni kecerdikan, keberanian, kesaktian, tolong menolong, patuh pada pimpinan, pantang menyerah, musyawarah, dan rela berkorban.

Bentuk revitalisasi nilai-nilai budaya ini diharapkan mampu meningkatkan dan memperkuat identitas masyarakat Jambi. "Dengan ditemukannya aturan dan hukum adat Jambi yang memuat nilai-nilai budaya tersebut, diharapkan tingkatkan identitas masyarakat Kambi," kata Fitria, dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi dalam acara revitalisasi nilai budaya dalam cerita rakyat Jambi sebagai upaya peningkatan identitas lokal masyarakat Jambi.

Selain itu, ia juga berharap masyarakat Jambi dapat menjaga, merawat cerita rakyat Jambi dari pengaruh globalisasi, dan melakukan perekaman, penelitian, dan memperkenalkannya kepada generasi selanjutnya. Cara, bisa dengan  memasukan dalam bagian dari muatan lokal materi pelajaran di sekolah-sekolah.

"Juga harus ada kesadaran masyarakat Jambi untuk mentaati dan menjalankan norma-norma adat dan hukum adat yang memuat nilai-nilai budaya dalam sehari-hari," ujarnya.

Dengan adanya upaya revitalisasi diharapkan rasa cinta masyarakat Jambi sebagai pemilik cerita tersebut dapat ditumbuhkembangkan dan rasa memiliki semakin kuat. Sehingga dapat menciptakan identitas yang kuat pada masyatakat Jambi. "Ini mencirikan masyarakat Jambi memiliki budaya," tandasnya.

Sementara itu Yundi Fitrah, guru besar Sastra Indonesia di Universitas Jambi (unja), mengatakan pada masa kemerdekaan sastra adalah alat perjuangan dalam menguatkan persatuan. Puisi-puisi Toto S. Bachtiar menyuarakan cinta tanah air dan perjuangan melawan Belanda yang akamn berusaha kembali menguasai Indonesia.

Namun, kata Yundi, pada masa orde baru, sastra kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pengarang tidak memiliki kebebasan dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. "Ini bisa saja diduga bahwa pengarang-pengarang Jambi masih menikmati masalah kemanusiaan yang terjadi di Jambi belum terselesaikana," katanya. "Ini patut dipahami, karena pengarang memiliki peranan dan kepedulian ke arah memanusiakan manusia," pungkasnya.


Penulis: Hendro
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments