Jumat, 26 Mei 2017

Arab Saudi dan Iran Putus, Diplomat Diusir


Selasa, 05 Januari 2016 | 11:19:48 WIB


Masyarakat Iran melancarkan protes kepada Arab Saudi yang telah mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr sambil membakar foto pangeran Sultan bin Abdul Aziz al-Saud.
Masyarakat Iran melancarkan protes kepada Arab Saudi yang telah mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr sambil membakar foto pangeran Sultan bin Abdul Aziz al-Saud. / FOTO: AFP

RIYADH - Protes warga yang berujung pada pembakaran gedung kedutaan dan kosulat Arab Saudi di Iran berbuntut panjang. Pemerintah Arab Saudi pada Minggu malam (3/1) akhirnya memutuskan hubungan dengan Iran.

Menlu Arab Saudi Adel al-Jubeir di Riyadh mengumumkan secara resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Dengan begitu diplomat Iran harus angkat kaki dari Saudi dan Saudi menarik diplomat mereka di Iran.''Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran dan meminta seluruh anggota misi diplomatik Iran untuk pergi dalam kurun waktu 48 jam,'' ujar Jubeir.

''Selama ini Iran selalu melakukan intervensi negatif dan permusuhan dalam isu-isu yang berkaitan dengan Arab dan selalu disertai dengan perusakan,'' tambahnya mengacu pada serangan di gedung kedutaan besar Saudi di Iran.

Menurut dia, Pemerintah Saudi telah meminta Iran memastikan keamanan di kedutaan besarnya. Namun, kenyataannya, Pemerintah Iran tidak bekerja sama dan gagal melindungi kedutaan yang mengakibatkan perusakan dan pembakaran. Dia juga menuding Iran telah mendistribusikan senjata serta memasukkan sel-sel teroris di wilayah Timur Tengah.

Pemerintah Saudi mendapatkan dukungan dari Bahrain. Kemarin (4/1) Pemerintah Bahrain juga mengikuti langkah Saudi untuk memutuskan hubungan dengan Iran. Bahrain juga memberikan waktu 48 jam bagi diplomat Iran untuk hengkang dari negaranya. Bahrain menuding Iran telah melakukan campur tangan yang berbahaya terhadap urusan internal negara-negara teluk.

''Serangan di keduataan besar Saudi merupakan bagian dari pola yang sangat berbahaya dari kebijakan sektarian yang harus diperangi dalam rangka menjaga stabilitas dan keamanan di seluruh wilayah (Timur Tengah),'' tegas Pemerintah Bahrain. Seperti Saudi, Bahrain juga menuding Iran ikut andil dalam mendukung pemberontakan Syiah yang mencuat di negara-negara Arab pada 2011.

Uni Emirat Arab (UEA) tidak mau ketinggalan mendukung Saudi. Sejak awal masalah eksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr bersama 46 orang lainnya mencuat, Bahrain dan UEA memang langsung merapatkan dukungan ke Saudi.

Tapi berbeda dengan Bahrain, UEA tidak mengambil langkah frontal. Mereka hanya mengurangi jumlah perwakilan diplomatik mereka di Iran. Begitu pula sebaliknya. Jumlah diplomat Teheran di Abu Dhabi juga akan dibatasi.


Penulis: AFP/Reuters/BBC/CNN/sha/c20/ami
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments