Jumat, 26 Mei 2017

Aktualisasi Identitas Jambi


Senin, 29 Agustus 2016 | 09:45:36 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

MUNGKIN banyak masyarakat Jambi  tidak tahu dengan identitas tanaman dan binatang yang menunjukkan simbol-simbol Jambi. Hal ini disebabkan simbol hidup tersebut sudah mulai punah dan memang tidak dilestarikan dan diaktualkan.

Kota Brebes (Jawa Tengah) dengan simbol bebek, aktualisasinya di sepanjang jalan Brebes banyak yang berjualan telor bebek dan telor asin. Telor asinpun ada macam-macam jenisnya ada telor asin yang belum direbus, telor asin rebus, telor asin bakar, telor asin yang sudah dimasak mata sapi.

Jambi dengan identitas binatangnya  harimau, seolah kita tidak pernah lihat lagi harimau, karena keberadaannya di hutan dan itupun sudah mulai langka. Anehnya, gambar harimau dalam bentuk patung hanya kita lihat satu-satunya di depan kantor Dinas Parawisata Provinsi Jambi di Kota Baru.

Sebenarnya penulis lebih senang jika identitas animal Kota Jambi adalah angso duo. Mungkin pertanyaan itu yang terpikir dalam benak orang orang yang berkunjung di Kota Jambi. Simbol angsa memang banyak sekali bertebaran di setiap penjuru Kota Jambi, mulai dari gerbang masuk menuju bandara, di aneka persimpangan, di atap rumah dan gedung gedung, di tugu dan monumen, bahkan di dalam pakaian pun ada.

Angsa yang dimaksud disini bukan angsa beneran tapi gambar/ukiran/patung/motif dan segala macam design yang berbentuk angsa. Di Jambi angsa ini lebih dikenal dengan sebutan angso duo alias angsa dua alias two geese. Angso duo ini adalah simbol ciri khas yang seharusnya melekat sebagai identitas Kota Jambi, sama seperti siger di Bandar Lampung, selembayung di Pekanbaru, bunga raflesia di Bengkulu, dan atap bagonjong di Sumatra Barat.

Lalu kenapa simbol identitas Kota Jambi Harimau? Mengapa bukan angso duo? Ternyata angso duo ini ada hubungannya dengan cerita asal usul berdirinya Kota Jambi. Banyak sekali versi cerita angso duo ini, namun bukti keberadaannya tidak pernah ditemukan sehingga dianggap sebagai legenda fantasi yang diceritakan turun temurun saja.

Salah satu versi  ceritanya sebagai berikut: konon jaman dahulu kala sekitar tahun 1500-an, hiduplah seorang raja kerajaan Melayu yang bernama Orang Kayo Itam yang sakti dan pemberani (mungkin nama ini sekaligus menjelaskan kekayaan dan bentuk fisiknya). Orang Kayo Itam ini menikahi putri dari Temenggung Merah Mato dari Sumatra Barat (Pagaruyung) yang bernama Putri Mayang Mangurai.

Sebagai hadiah pernikahan, mertuanya memberikan sepasang angsa jantan dan betina serta Perahu Kajang Lako. Mereka disuruh untuk melepaskan sepasang angsa tersebut ke Sungai Batanghari dan mengikuti kemanapun kedua angsa tersebut berenang. Bila Angsa itu berhenti dan membuat sarang untuk bertelur, maka lokasi tempat berhentinya angsa itu adalah lokasi untuk membentuk kerajaan baru.

Singkat cerita, akhirnya mereka menemukan lokasi kerajaan baru tersebut yang kini dikenal sebagai Kota Jambi. Makanya Kota jambi dikenal juga sebagai Tanah Pilih.. ya, tanah yang dipilih oleh angsa.

Persoalannya yang muncul adalah  walaupun Kota Jambi terkenal dengan simbol angso duo, namun tidak pernah ditemukan orang menjual telor angsa seperti di Brebes. Kalaulah ada inisiatif masyarakat beternak angso dan telornya dijual, tentu ini menjadi daya tarik parawisata, bahwa kalau ke Jambi untuk mencari telor angsa.

Beralih ke identitas tanaman Jambi, menurut penulis sudah tepat pinang merah yang dalam bahasa Jawa disebut Jambe (pinang merah). Hal ini penulis yakini karena penamaan suatu daerah itu tidak lepas dari sejarah antropologisnya.

Misalnya kenapa di Batanghari ada nama jembatan Emas, setelah penulis tanyakan ternyata dahulu di daerah tersebut banyak terdapat pisang Emas. Kenapa ada nama Palmerah? Ternyata dahulu daerah tersebut tanahnya berwarna merah dan dimanfaatkan masyarakat setempat membuat batu bata merah.

Ketika mahasiswa strata satu penulis pernah merangkap kuliah di dua kota yaitu Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret di Surakarta (Solo). Kalau dari Solo menuju Yogya naik bis, setelah Klaten kernet (stockard) berteriak Jambe, Jambe.... untuk mengingatkan kalau ada penumpang yang akan turun di sana.

Lantas penulis bertanya dengan penumpang disebelah bangku: apa makna Jambe itu, ternyata maknanya adalah pinang merah. Berarti cocok dengan istilah nama Kota Jambi. Sayangnya tanaman pinang merah yang dahulu banyak jadi hiasan di tengah kota Jambi semakin menghilang, diganti dengan kembang dan pohon yang bukan simbol Jambi.

Kampus terbesar dan jumlah mahasiswa terbanyak di Jambi membuat sebutan Kampus Pinang Masak, tapi pohon dan pinang masaknya tidak pernah nampak. Mari kita aktualisasikan identitas Jambi dengan wujud yang nyata dengan banyak tanaman pinang merah di pekarangan dan taman-taman jalan, serta menggalakkan ternak telor angsa.

Agar terealisasikan harapan ini, Pemda Kota Jambi  idak ada salahnya bekerjasama dengan Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan Universitas Jambi sehingga di kota Jambi akan banyak ditemukan tanaman pinang merah dan telor angsa. Dengan demikian Jambi bukan hanya dikenal sebagai kota karet, kota tempoyak, dan Gentala Arasy-nya.


Penulis: *)Penulis adalah dosen Fisipol Universitas Jambi dan ketua penulis opini Pelanta Jambi.
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments