Selasa, 17 Januari 2017

Torium, Nuklir Hijau Ramah Lingkungan


Kamis, 29 Desember 2016 | 14:24:51 WIB


MASA DEPAN: Yudiutomo Imardjoko memaparkan manfaat torium di Graha Pena Surabaya kemarin.
MASA DEPAN: Yudiutomo Imardjoko memaparkan manfaat torium di Graha Pena Surabaya kemarin. / dok/jawapos

ALERGI terhadap penggunaan teknologi nuklir sebagai sumber energi alternatif di dalam negeri sepertinya bakal menemukan solusi. Sebab, para pakar energi kini terus mengembangkan pemanfaatan torium (thorium).

Torium yang oleh para pakar disebut nuklir hijau dianggap lebih ramah lingkungan. Tapi, energi yang dihasilkan jauh lebih dahsyat daripada uranium. Torium merupakan salah satu jenis nuklir di samping uranium. Namun, limbah radioaktif yang dihasilkan torium jauh lebih rendah daripada uranium. Karena itulah, torium disebut nuklir hijau.

Salah seorang ilmuwan dalam negeri yang getol mengembangkan torium adalah pakar nuklir dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yudiutomo Imardjoko. Yudi (sapaan Yudiutomo) menjelaskan, penggunaan torium tak memerlukan pengayaan seperti pada uranium. Cukup dimurnikan, torium sudah bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan.

Selama ini pengayaan uranium juga tidak bisa lagi dilakukan di dalam negeri. "Harus dilakukan di luar negeri sehingga kita tidak bisa kendalikan produksinya," ujar mantan direktur utama Batan Teknologi (BatanTek) itu dalam diskusi di kantor Jawa Pos di Surabaya kemarin (27/12).

Mantan konsultan energi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) itu menyebut torium sebagai jalan menuju kemandirian dan ke­daulatan energi. Sebab, torium jauh lebih dahsyat daripada uranium. Limbah torium juga tidak bisa dijadikan senjata nuklir. Relatif lebih aman.

Selama ini di dalam negeri masih terjadi alergi terhadap penerapan teknologi yang berbau nuklir. Salah satunya disebabkan ketakutan ancaman radiasinya. Nah, limbah torium justru bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Salah satunya untuk sterilisasi bahan pangan, obat, dan alat-alat kesehatan. Umur limbahnya juga lebih singkat daripada uranium. "Jika limbah uranium bisa bertahan hingga 10 ribu tahun, limbah torium hanya butuh sekitar 15 tahun," ucap Yudi.

Bukan hanya itu, keberadaan torium di perut bumi Indonesia juga lima kali lipat lebih banyak daripada uranium. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan ada 210 ribu-280 ribu ton kandungan torium di Indonesia. Keberadaannya tersebar di berbagai daerah. Antara lain di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Barat. Torium banyak ditemukan di daerah yang memiliki tanah jarang atau rare earth.

Tenaga yang dihasilkan torium juga dahsyat. Untuk kebutuhan satu gigawatt listrik selama satu tahun, hanya diperlukan 1.000 kg torium. Torium memiliki densitas energi tertinggi di antara bahan baku energi lainnya.

Sebagai perbandingan, 1 ton torium sama dengan 200 ton uranium. Atau setara dengan 3,5 juta ton batu bara. Jika 1 kg batu bara dapat menyalakan lampu 100 watt selama 4 hari, dengan torium lampu yang sama bisa menyala hingga 4 ribu tahun!

Jika Indonesia bisa memanfaatkan potensi tersebut, problem kebutuhan energi akan banyak teratasi. "Inilah cara paling baik. Maka dari itu disebut green nuclear," kata Yudi.


Penulis: (gun/bri/c9/nw)
Editor:
Sumber: jawapos.com

TAGS:


comments