Kamis, 25 Mei 2017

Nilai Banyak Kejanggalan, Hakim Minta Panitia Lelang Jalan Suak Kandis Disidik


Senin, 09 Januari 2017 | 21:52:36 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengerjaan jalan Suak Kandis-Desa Simpang dengan terdakwa Apit, Widodo, dan Ali Abie, Senin (9/1), kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikir) Jambi. Pada sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaskaan Tinggi (Kejati) Jambi menghadirkan lima orang saksi, yang semuanya adalah kelompok kerja (Pokja) atau penitia lelang proyek pengerjaan jalan senilai Rp 10 Miliar yang bersumber dari anggaran APBD Provinsi Jambi tahun 2012.

Ketua Pokja Ombar Sibarani, dan empat orang anggotanya Purwanto, Nur Arpa, Rupinus dan Atman, dicecar oleh majelis hakim dengan pertanyaan soal tahap lelang, sehingga memenangkan PT Kosambi Laksana Mandiri.

Ombar Sibarani menjelaskan, bahwa pada awalnya ada 52 perusahaan yang menjadi peserta lelang. Namun setelah proses evaluasi, hanya 15 perusahan dinyatakan memenuhi syarat. Kemudian diseleksi lagi, tinggal 4 perusahaan yang dinyatakan layak ke tahap seleksi administrasi.

“Dari 4 itu, kemudian menjadi dua yaitu PT Kosambi Laksana Mandiri dan PT Bina Kosindo Persada. Dan PT Kosambi jadi pemenang,” kata Ombar, ketua Pokja yang saat ini telah pensiun.

Namun dalam pelaksanaanya, majelis menilai bahwa PT Kosambi tidak punya kemampuan dalam melakukan pekerjaan senilai Rp 10 miliar tersebut. Selain itu, Pokja tidak melakukan uji kemampuan terhadap PT Kosambi.

“Tapi kenyataannya PT Kosambi tidak mampu bekerja, seharusnya Pokja melakukan uji kemampuan, ini tidak dilakukan,” kata Barita Saragih, ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara ini.

Menurut majelis semestinya Pokja ini diminta pertanggungjawab secara hukum. “Jaksa, apakah Pokjanya sudah diproses hukum?,” Tanya Barita Satagih. “Sejauh ini belum,” jawab jaksa Insyayadi.

“Seharusnya mereka ini juga diproses. Ini bisa ditindaklanjuti sesuai fakta persidangan,” timpal Barita lagi.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments