Senin, 29 Mei 2017

Lubuk Larangan, Satu Lagi Potensi Merangin yang Diangkat ke Tingkat Nasional


Selasa, 10 Januari 2017 | 16:49:21 WIB


Bupati Merangin, Al Haris saat menebar bibit ikan
Bupati Merangin, Al Haris saat menebar bibit ikan / Riki Saputra

BANGKO - Keberadaan ratusan lubuk larangan yang tersebar di 24 kecamatan dalam Kabupaten Merangin, diangkat Bupati Merangin H Al Haris ke tingkat nasional. Lubuk larangan Merangin ini, sekarang sudah terdaftar di tingkat kementerian.

Dikatakan Al Haris, lubuk larangan yang menjaga habitat ikan sungai secara adat itu merupakan tradisi budaya masyarakat Merangin yang harus terus dipertahankan kebaradaanya.

“Saya akan terus memperbanyak jumlah lubuk larangan ini di setiap aliran sungai di Kabupaten Merangin, sehingga setiap desa harus punya lubuk larangan,” ujar Bupati saat meresmikan Lubuk Larangan Koto Rami Kecamatan Lembah Masurai.

Dengan pengelolaan lubuk larangan secara adat itu, bupati ingin mengajarkan kepada generasi muda bagaimana menjaga habitat sungai dengan baik. Semua peraturan terkait lubuk larangan itu, diatur dalam peraturan desa (Perdes).

Jika dilanggar, tegas Bupati, pastinya akan mendapatkan saksi adat. Sanksi itu, berupa denda beras 20 gantang,  kambing satu ekor, sekaligus selemak semanisnya serta uang tunai Rp 50 juta.

Diyakini, selain menjaga habitat ikan, lubuk larangan juga akan menjaga kebersihan sungai. “Ada beberapa sungai di Merangin yang tercemar akibat Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), dengan adanya lubuk larangan ini, tentu sungai terjaga dari pencemaran,” terang Bupati.
Setiap ada lubuk larangan yang dibuat masyarakat, bupati siap membantu menebarkan bibit ikan di lubuk larangan tersebut.

Untuk itu, bupati minta Dinas Perikanan Merangin memberi register guna menganalisis ikan apa ya cocok di lubuk larangan tersebut.
Saat meresmikan Lubuk Larangan di pangkal Jembatan Desa Koto Ramai, bupati menebar sebanyak 6.000 bibit ikan dari berbagai jenis. Lubuk larangan itu akan dibuka setelah tiga sampai lima tahun ke depan.

Sedangkan hasil penjualan ikan dari pembukaan lubuk larangan itu, digunakan untuk membangun desa, seperti membangun masjid dan sarana umum lainnya, atas peretujuan pemuka adat desa.


Penulis: Riki Saputra
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments