Selasa, 27 Juni 2017

Miris! Desa Manis Mato Muaro Jambi Terisolir, Fasilitas Pendidikannya Juga Memprihatinkan


Selasa, 10 Januari 2017 | 16:52:06 WIB


Fasilitas pendidikan yang memprihatinkan
Fasilitas pendidikan yang memprihatinkan / Sudir Putra

MUAROJAMBI - Akses jalan Desa Manis Mato Kecamatan Taman Rajo Muaro Jambi, sulit untuk dilalui. Desa Manis Mato kondisinya masih terisolir karena hampir tak tersentuh kebijakan pemerintah.

Untuk mencapai desa yang berada di ujung Kabupaten Muarojambi tersebut, masyarakat harus melewati Sungai Batanghari. Setidaknya perlu waktu enam jam lebih pulang pergi.

Kondisi ini diceritakan Dirman, Warga Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi yang mengaku memiliki keluarga di desa tersebut. Dikatakannya, bukan hanya akses jalan, listrik pun belum menyetuh desa tersebut.

Jika ingin mengunjungi keluarganya, dia biasanya naik motor melintasi Kota Jambi, melawati dua kecamatan Kumpeh dan Kumpeh Ilir.
"Nanti naik ketek mas, bisa dari Desa Tanjung atau dari Suak Kandis. Itu bayar Rp 20-30 Ribuan," akunya. Untuk ke lokasi, ia harus berangkat subuh. Karena jika kesiangan, akan sulit untuk pulang kembali ke Jambi.

"Ketek di sana paling ada lewat sebatas jam 6 sore mas, jika melebihi jam itu tidak ada lagi ketek yang lewat, paling pagi-pagi besoknya baru ada lagi," terangnya.

Di desa tersebut terdapat sebuah SDN 14, yang tak kalah memprihatinkanya. SD tersebut, hanya memiliki 2 PNS, dan 3 guru Hononer.
2 PNS yang bertugas salah satunya merangkap sebagai PLT Kepala Sekolah, yakni Nurkholis, yang sempat dibincangi metrojambi.com.
"Saya ini pelaksana tugas be bang, sudah tiga tahun, dari 2013 maren," katanya.

Dia menjelaskan, SD yang di pimpinya hanya memiliki 6 gedung saja. Yang masih layak pakai pun hanya 3 kelas, sedangkan sisanya, sudah rusak bagian atap dan plafonnya. “Kalau hujan, siswa harus belajar belajar di bawah rintikan air karena atapnya yang tak mampu menahan air yang menetes. Belum lagi kalau banjir pak, sampe 2 meter, kalau hujan juga becek, sampe ke dalam kelas," ceritanya.

SD tempatnya mengabdinya sejak 2010 tersebut juga sangat minim fasilitas. Jangankan perpustakaan, MCK pun tidak ada. Sehingga para siswanya untuk buang air besar dan kecil harus ke pinggir Sungai Batanghari. “Yang jelas bang, kami butuh nian bantuan kelas, MCK lah yang penting nian," harap Nurkholis.


Penulis: Sudir Putra
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments