Minggu, 25 Juni 2017

Cuaca Ekstrim, Penderita ISPA dan Diare Meningkat


Rabu, 01 Maret 2017 | 14:30:23 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

BANGKO - Cuaca ekstrim yang melanda wilayah Kabupaten Merangin belakangan ini tidak hanya menyebabkan bencana. Tapi juga menyebabkan meningkatnya penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Diare.

Puskesmas Pematang Kandis mencatat terdapat 329 penderita Ispa sepanjang bulan Februari dan angka ini meningkat sejak cuaca ekstrim melanda. Dan anak-anak paling banyak terjangkit ISPA.

"Ada peningkatan untuk penderita ISPA yang kita tangani. Paling banyak anak-anak jumlahnya 282, sedangkan dewasa berjumlah 47 orang," kata dr Sephelio, Kepala Puskesmas Pematang Kandis, Bangko.

"Memang anak-anak jumlahnya lebih tinggi, karena usia anak-anak juga agak rentan terkena penyakit. Apa lagi dengan kondisi cuaca seperti saat ini," tambahnya.

Selain ISPA, angka penderita diare juga meningkat. Data Puskesmas Pematang Kandis per Ferbruari sebanyak 46 orang, sedangkan bulan Januari berjumlah 34 penderita.

"Cuaca seperti saat ini yang rentan itu diare, angkanya juga meningkat bulan Februari sebanyak 46 penderita. Sementara penderita diare bulan Januari berjumlah 34 orang," sebutnya.

Sephelio menyebutkan, angka penderita ISPA dan diare hingga saat ini tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan sudah mulai pahamnya masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat.

"Kita juga sering melakukan penyuluhan dan sosialisasi. Jadi masyarakat semakin paham untuk menjaga kebersihan lingkungan dan sudah paham mengatasinya," terangnya.  

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merangin, Solahuddin mengatakan, secara umum penderita ISPA dan diare di Merangin angkanya masih stabil.

"Kalau laporan secara keseluruhan masih stabil, tidak ada yang terlalu menonjol. Mungkin ada yang meningkat di wilayah puskesmas tertentu, tapi kalau kalau secara umum masih stabil," katanya.

Solahuddin menyebutkan justru yang sangat dikhawatirkan dengan kondisi cuaca saat ini adalah demam berdarah. Namun disebutnya hingga saat ini belum ada laporan khasus.

"Yang kita khawatirkan itu DBD. Karena perkembang biakan nyamuk itu cepat dengan hujan yang terus menerus dan adanya air tergenang. Ada satu kasus DBD aja itu sudah heboh, sejauh ini belum ada," tuntasnya.


Penulis: Riki Saputra
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments