Minggu, 24 September 2017

Tarif Listrik akan Picu Inflasi Triwulan II


Senin, 10 April 2017 | 14:58:47 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAMBI - Inflasi Provinsi Jambi pada triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 5,87% - 6,37% (yoy).  Carlusa Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Jambi mengatakan, kondisi ini meningkat dibandingkan proyeksi inflasi triwulan berjalan (4,93%-5,43% yoy), melewati batas atas target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1%.

“Kenaikan tarif tenaga listrik untuk pelanggan 900 VA, kenaikan harga rokok, kenaikan beberapa produk kebutuhan keluarga (consumer goods) dan kenaikan harga beberapa bahan pangan seperti bawang merah dan cabai merah akan menjadi penyeban kenaikan inflasi pada triwulan II-2017 ” jelasnya.

Menurutnya, inflasi Kota Jambi pada triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 6,11%-6,61% (yoy) sedangkan inflasi Bungo diperkirakan berada pada kisaran 3,69% - 4,19%(yoy).

Inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2017 secara keseluruhan diperkirakan berada pada kisaran 4,51% - 5,01%(yoy), meningkat dibandingkan realisasi inflasi tahun 2016 (4,39%).

Inflasi Kota Jambi diperkirakan berada pada kisaran 4,53%-5,03%(yoy) dan inflasi Bungo berkisar pada 4,33%-4,83%(yoy).

“Meningkatnya inflasi tahun 2017 utamanya didorong kenaikan harga beberapa komoditas administered price,” jelasnya.

Adapun jenis komoditas administered price yang mempengaruhi seperti tarif listrik, BBM, rokok dan tarif angkutan udara, kenaikan harga komoditas inti seperti barang-barang kebutuhan rumah tangga (consumer goods) dan biaya pendidikan serta kenaikan harga komoditas bahan pangan seperti bawang merah.

Beberapa potensi risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan (upside risk) antara lain kenaikan harga komoditas yang mendorong konsumsi barang dan jasa, kenaikan harga BBM, kenaikan tarif listrik untuk pelanggan non subsidi dan anomali cuaca.

Namun demikian, melemahnya ekspektasi konsumen yang tercermin dalam Survei Konsumen terkini berpotensi menahan laju inflasi.


Penulis: Sharly Apriyanti
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments