Sabtu, 27 Mei 2017

Cara Tepat Kuliah Cepat


Jumat, 14 April 2017 | 16:26:18 WIB


/

Beberapa waktu lalu saya ‘ditodong’ sekelompok mahasiswa di tengah jalan dari kelas menuju ruang dosen. “Kami ingin masukan dari Bapak, bagaimana cara cepat lulus kuliah?”. Dihentikan di tengah jalan seperti ini memang sudah sering saya alami. Saya tahu mereka adalah anak-anak muda yang antusias untuk menggapai cita-cita mereka. Banyak pula diantara mereka yang lebih suka diskusi-diskusi kecil informal seperti ini ketimbang duduk di ruang seminar. Begitu juga saya, tidak pernah melihat tempat untuk sekedar berbagi semangat kepada siapa saja. Sering pula ‘seminar motivasi’ di kantin, di tangga kampus, di jalan, di depan kelas, di lobby, dan sebagainya. Selagi mendatangkan manfaat, kenapa tidak. Toh, memang hidup harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya memberi manfaat bagi orang lain.

 

Mungkin saya juga tidak terlalu fantastis dalam menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Biasa saja, tapi paling tidak, masih dalam batas-batas kewajaran. On time! Saya menyelesaikan S1 di Univeristas Gadjah Mada selama 4 tahun 4 bulan. S2 di Univeristi Kebangsaan Malaysia 2 tahun (ada kisah unik. Dilihat tahunnya 2008-2011. Saya seharusnya ujian Jumat, 30 Des 2010. Tapi tanggal 29 Malaysia memenangkan piala AFF dan hari berikutnya dinyatakan libur nasional untuk merayakan kemenangan itu. Jadilah ujian saya tertunda hingga awal Januari 2011). Kisah ini tak terlupakan. Bagaimana mungkin tendangan Mas Firman Utina berpengaruh pada ujian tesis saya, hehe. 

 

Apa jawaban pertanyaan di atas? Ada banyak cara yang dapat ditempuh. Tapi jika ditanya apa yang pernah saya lewati, saya mencatatat beberapa hal. Pertama, kerjakan shalat lima waktu. Sekali saja jangan pernah ditinggalkan. Menuntut ilmu itu jalan Allah maka jangan pernah tinggalkan Allah. Menuntut ilmu itu jalan menuju surga sebagaimana Rasulullah bersabda “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Jika jalan menuju surga saja dimudahkan, apa lagi jalan menuju wisuda. Mudah bagi Allah untuk memudahkan apa pun.

 

Kedua, kerjakan shalat sunnah tahajjud dan duha. Adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa jika kita menyediakan waktu untuk ‘curhat’ kepadaNya dalam tahajjut dan duha. Apa korelasi nyata tahajjut dan duha terhadap masa studi? Dengan mengerjakan shalat sunnah ini, pikiran jadi tenang dan hati jadi tenteram. Jika sudah demikian, pelajaran akan dapat diserap dengan baik. Tugas-tugas dari dosen serasa mudah untuk dikerjakan. Bahkan, menulis skiripsi dapat dilakukan dengan tenang dan rileks. Pasti cepat selesai!

Ketiga, muliakan kedua orang tua. Di kelas, sebelum memulai perkuliahan tidak jarang saya bertanya kondisi orang tua mahasiswa. Adakah orang tuanya yang sedang sakit? Sudahkah anda minta izin kuliah dengan orang tua sebelum ke kampus, walau hanya sekedar telfon, sms, atau melalui medsos? Mengapa ini penting? Bukankan ridha Allah ada pada ridha orang tua? Yang tinggal dengan orang tua, sebelum berangkat kuliah peluk erat orang tuanya sembari meminta didoakan agar dimudahkan segala urusan kampus. Yakinlah, semua rintangan akan menyingkir!

 

Keempat, jauhi maksiat. ‘wa laa taqrabu zinaa’. Jangan dekati zina dengan segala bentuk dan aksinya. Jika coba-coba ‘serempet-menyerempet’ akan berdampak pada pikiran dan hati. Pikiran jadi tidak jernih, hati jadi kelabu. Bawaanya suntuk dan ‘galau’. Bagaimana tidak, kegiatan-kegiatan ini adalah gaweannya syaitan. Iblis akan selalu menggoda untuk mengajak umat manusia kepada jalan kesesatan. Jika sudah tersesat, kapan mau sampai di ujung jalan? Ya, gak selesai-selesai. Jadilah mahasiswa abadi.

 

Kelima, kerja keras. Berusaha semaksimal mungkin dengan niat dan tekad yang kuat. Semua tugas yang diberikan dosen dikerjakan dengan baik. Tidak pernah absen di kelas. Investasikan sebagian besar waktu untuk belajar baik di kampus maupun di luar. Ikuti organisasi-organisasi yang dapat menambah pengalaman dan memperkaya pengembangan diri. Tidak mengenal kata mengeluh dan mengalah. Semua tantangan dihadapi dengan cerdas dan ikhlas.

 

Ingat, orang-orang bijak selalu berkata, dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu. Jalan menuju sukses itu tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang percaya akan adanya kebesaran Allah dan siap bekerja keras. Go..! #BNODOC10314042017

 

*Akademisi dan Motivator Pendidikan (Hypno-Motivation).

 


Penulis: Bahren Nurdin,MA
Editor:


TAGS:


comments