Senin, 23 Oktober 2017

STOP MENJADI 'PENGEMIS INTELEKTUAL'


Selasa, 18 April 2017 | 10:37:02 WIB


/

PADA seminar-seminar motivasi pendidikan khususnya bagi para mahasiswa saya selalu sampaikan jangan sampai anda selamanya menjadi ‘pengemis intelektual’.

Menurut KBBI, pengemis adalah orang yang meminta-minta. Jadi, apa itu pengemis intelektual? Mereka yang mengaku intlektual (mahasiswa) tapi kerjanya setiap bulan menjadi peminta-minta kepada kedua orang tua.

Lebih ‘hebat’ lagi ada pula proses meminta itu dibumbui dengan ancaman. Sebagaian besar dari mereka tidak mengukui atau tidak merasa. Biasanya saya langsung ‘diserang’, “kami bukan mengemis, pak. Tapi minta pada orang tua sendiri. Kan sudah kewajiban orang tua!”

Betul, itu kewajiban orang tua. Tidak ada yang salah. Jangan cerita tentang kewajiban orang tua. Bagi orang tua, semua akan dilakukan demi masa depan anaknya. Saya katakan, pintalah uang dengan orang tua anda saat ini, pasti tidak akan keluar kata ‘tidak’. Tidak adapun uang dikantong, pasti akan dicarikan dengan segala upaya. Lebih-lebih bagi orang tua yang jauh dari anaknya. Mendengar anaknya kekurangan uang, apa pun akan dilakukan untuk dikirimkan secepatnya. Dari mencari pinjaman hingga menjual harta benda.

Syukur jika anda mempunyai orang tua yang berkecukupan, tapi jika anda terlahir di tengah keluarga yang kurang mampu, sudah saatnya berpikir meringankan beban orang tua. Ya, minimal meringankan. Saya sering sampaikan, jika untuk membeli pulsa menggunakan uang yang dirikimkan dari orang tua, maka setiap giga bite yang anda gunakan telah anda barter dengan keringat orang tua anda. Anda tukar keringat mereka dengan kesenangan anda menggunakan internet. Tega!

The POWER OF KEPEPET.
Salah satu cara untuk menanggalkan label ‘pengemis intelektual’ tersebut adalah dengan cara menciptakan kondisi-kondisi kepepet. Saya beri contoh. Ada orang yang kakinya terkilir. Nyaris tidak bisa berjalan. Coba lepaskan seekor anjing herder yang garang di belakangnya. Apa yang terjadi? Saya yakin dia akan berlari sekuat tenaga lebih kencang dari anjing itu dan lupa jika kakinya sedang sakit.

Sesungguhnya manusia itu memiliki kekuatan yang amat sangat luar biasa. Pada kondisi-kondisi tertentu ia akan mengeluarkan segala kemampuannya untuk menyelamatkan hidup. Maka kondisi inilah yang tidak tercipta pada sebagian besar mahasiswa saat ini. Mereka telah dimanja dengan berbagai kemudahan yang ada sehingga cenderung ‘cengeng’. Celakanya, jika mental ini menimpa mahasiswa yang kebetulan kurang mampu. Sudahlah tidak mampu, malas lagi.

Di sesi seminar saya tantang mahasiswa untuk mengirim pesan kepada orang tua mereka bahwa mereka tidak perlu dikirimi uang untuk tiga bulan mendatang. Ini untuk menciptakan kondisi ‘kepepet’. Dapat diyakini mulai saat itu mereka akan ‘mutar otak’ bagaimana cara untuk bertahan hidup. Tidak jarang tiga bulan kemudian mereka berkirim pesan kepada saya, “terima kasih atas motivasi Bapak. Sekarang, saya bersama teman-teman sudah punya usaha sampingan. Untuk pulsa gak minta lagi, Pak,”. Keren.

CERDAS MEMBACA PELUANG.
Ada begitu banyak peluang di seputaran kampus yang dapat dimanfaatkan. Usaha-usaha ‘ala mahasiswa’ selalu saja terbuka. Tinggal lagi, mau atu tidak. Hanya bagi mereka yang bermental ‘pengemislah’ yang tidak bisa melihat begitu banyak kesempatan yang ada. Saya beri contoh, jasa antar nasi bungkus. Cukup modal minyak motor dan brosur. Banyak juga mahasiswa yang malas membeli makan ke rumah makan. Ini peluang yang sangat baik. Terima pesanan, beli di warung langganan, antarkan dan dapat uang. Jika jasa antar untuk satu bungkus nasi dua ribu, hanya butuh sepuluh bungkus untuk menghasilkan uang dua puluh ribu per hari. Berapa sebulan? Tidak perlu minta lagi kepada orang tua untuk membeli pulsa dan minyak motor.

Masih banyak peluang-peluang lainnya. Kunci utamanya adalah mengubah mental ‘pengemis’ menjadi mental ‘mandiri’. Pemberi bukan peminta.

Akhirnya, stop menjadi ‘pengemis intelektual’ sekarang juga. Kasihani orang tua dan bantu ringankan beban mereka. Jadilah intelektual sejati yang menyelaraskan intelektualitas dan hati. Semoga. #BNODOC10718042017

*Akademisi dan motivator pendidikan Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments