Jumat, 15 Desember 2017

SELOKO: PENTINGNYA KOMUNIKASI


Rabu, 19 April 2017 | 10:45:18 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

PADA tahun 2002, National Association of Colleges and Employers, Amerika Serikat, mengadakan survei terhadap 457 pimpinan untuk melihat komponen-komponen pencapaian keberhasilan. Hasilnya sungguh sangat mengejutkan ternyata kecedasan seseorang yang ditandai dengan Indeks Prestasi (IP) tinggi bukan merupakan komponen utama. Mereka menempatkan IP pada urutan ke 17. Itu artinya, menurut survey, orang-orang hebat ini tidak mengandalkan IP tinggi untuk sukses. Lantas apa yang menjadi komponen utama? Kemampuan berkomunikasi.

Saya ingat, beberapa waktu lalu pernah menjadi peserta seminar motivasi di Jakarta, salah seorang narasumber berkata “bahasamu menentukan nasibmu”. Anda tidak percaya? Coba saja, berdiri di hadapan bos anda dan caci makilah beliau. Bagaimana nasib anda selanjutnya? Ehem, minimal menerima surat ‘cinta’ peringatan atau bahkan harus mencari tempat kerja baru. Begitulah pentingnya komunikasi.

Menariknya, ternyata Seloko adat Jambi sudah sangat lama menempatkan komunikasi dan sikap sebagai rambu-rambu kehidupan masyarakatnya untuk mencapai kesuksesan. Perhatikan Seloko berikut ini:

Bejalan melintang tapak, bekato melintang pesko
Lenggang idak tepapas. Tegak idak ndak tesondak
Tanduk lancip ndak mengeno, Kelaso gedang ndak mendorong
Kecak lengan bak lengan, Kecak betis bak betis
Besutan di mato, berajo di hati.

Seloko ini perupakan peringatan untuk tidak melakukan hal-hal yang disebutkan. Kata ‘melintang’ dapat dimaknai menyalahi atau tidak sesuai dengan kelaziman yang ada. Seseorang berjalan seharusnya dengan telapak kaki lurus ke depan, bukan melintang ke kiri atau ke kanan. Di samping terlihat tidak lazim, juga membuat yang bersangkutan susah berjalan. Orang tidak bisa berlari jika telapak kakinya melintang. Begitu juga halnya dengan ‘melintang pesko’ yang seharusnya menggunakan bahasa yang tidak meninggi, baik dan sopan. Kalimat ‘bekato melintang pesko’ yaitu penggunaan kalimat-kalimat yang menunjukkan kehebatan dan membangga-banggakan diri (sombong).

Dalam berkomunikasi, ternyata masyarakat Jambi telah diatur sejak lama melalui petatah petitih Seloko adatnya. Mereka menyebutnya ‘sopan santun budi bahasa’. Paling tidak ada tiga unsur penting dalam komunikasi yang membentuk kesopanan dan kesantunan dalam berkomunikasi.

Pertama, pikir. Pikir itu pelata hati. Seloko berkata ‘berfikir idak sekali sudah, berunding idak sekali putus’. Itu artinya, sebelum mengucapkan sesuatu harus dipikir berulangkali. Apa manfaat dan dampak yang ditimbulkan dari kata yang terlontarkan. Jangan pula mengikuti amarah dan hawa nafsu yang kemudian mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dilontarkan. Dampaknya bisa kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. 'Mulutmu harimaumu'.

Kedua, tutur kata sopan santun. Pemilihan kata yang digunakan juga menjadi pertimbangan penting dalam komunikasi. Baik maksud yang ingin disampaikan, tapi jika dilontarkan dengan menggunakan kata-kata yang negatif, maka pesan kebaikannya tidak akan terutarakan. Hal ini juga dirumuskan dalam sebuah pantun adat “yang kurik itu kundi // yang merah itu sago // yang baik itu budi // yang indah itu bahaso.” Ada satu kesatuan yang utuh antara budi dan bahasa. Maka, orang-orang baik itu terlihat dari bahasa yang mereka gunakan.

Ketiga, mimik dan gaya atau yang lebih kita kenal dengan gesture. Janganlah menggunakan sikap dan tindakan yang tidak baik saat berkomunikasi. Hal ini dapat juga terlihat dari seloko ‘Kecak lengan bak lengan, Kecak betis bak betis. Besutan di mato, berajo di hati.’ Sikap yang merendahkan orang lain. Merasa dirinyalah yang paling hebat dan paling mulia di atas dunia ini.

Jika ditarik ke zaman sekarang, komunikasi itu bisa kita masukkan ke dalam dua bagian yaitu komunikasi langsung (direct) dan tidak langsung (indirect) atau verbal dan nonverbal. Komunikasi tidak langsung dapat menggunakan berbagai media, diantaranya komunikasi melalui media sosial seperti FB, Twitter, Istagram, dll. Jadi, tidak salah jika seseorang dapat dinilai dari apa yang ia tuliskan di media sosial yang ia miliki. Hati-hati, 'jarimu jerujimu'.

Akhirnya, di abad ini komunikasi menjadi penentu untuk sukses berhubungan dengan orang lain di tengah masyarakat. Hebatnya lagi, jauh sebelum National Association of Colleges and Employers melakukan penelitian pentingnya komunikasi, Seloko adat Jambi sudah mengaturnya sedemikian rupa. Hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Hebat! #BNODOC10819042017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments