Kamis, 29 Juni 2017

Di Sarolangun, Kasus Cerai Meningkat


Kamis, 20 April 2017 | 13:22:55 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

SAROLANGUN - Kasus perceraian di Kabupaten Sarolangun, mengalami peningkatan dari tahun 2016 lalu. Hingga Maret 2017, Pengadilan Agama (PA) Sarolangun, telah menerima 79 perkara cerai yang dilaporkan. Baik cerai gugat, maupun cerai talak.

Sementara, sepanjang tahun 2016, PA menerima 204 perkara cerai. Alasan perceraian, lebih didominasi faktor ekonomi, yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara pasangan suami istri (Pasutri).

Selain faktor ekonomi, soal perselingkuhan yang diketahui pasangan lewat ponsel. Tidak tanggungjawab dan suami pengguna narkoba.

Tak hanya masyarakat biasa yang terlibat perceraian, tiga PNS Sarolangun juga tercatat tersandung konflik perceraian pada tahun 2017.

"Kalau melihat angka perkara yang kita terima hingga Maret 2017 ini, kasus perceraian memang cukup meningkat dari tahun sebelumnya. Tapi tidak begitu signifikan. PNS juga ada terlibat perceraian," ujar Ketua PA Sarolangun, Drs Yenisuryadi, melalui Bagian Hukum Panitera Muda, Arsad, Rabu (19/4).

Menurutnya, dari 79 perkara yang diterima PA Sarolangun, sebanyak 53 perkara telah diputuskan. Rata-rata, yang terlibat perceraian, berumur 23 sampai 45 tahun.

"Tidak semua perkara yang kami terima diputuskan. Ada juga yang mencabut perkara dan lebih memilih berdamai," jelasnya.

Selain perceraian, PA juga menangani dispensasi nikah di bawah umur. Dan sampai Maret 2017, ada tiga perkara yang telah ditangani. "Rata-rata menikah pada umur 16 tahun. Kita setujui saja, karena melihat alasan yang cukup kuat," katanya.


Penulis: Luncai Hendri
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments