Senin, 11 Desember 2017

Menjadi Sosok Kartini Masa Kini


Sabtu, 22 April 2017 | 12:02:19 WIB


/

PERINGATAN Hari Kartini setiap tanggal 21 April memang selalu membuat kita terpesona. Sosok perempuan tangguh itu berjuang untuk kebaikan tanpa kenal menyerah. Ya, jika Raden Ajeng Kartini berjuang untuk meninggikan derajat  kaum perempuan di zamannya, maka kaum perempuan saat ini harus menjadi penerusnya.

Kartini yang kala itu mempunyai tekad menjadikan para perempuan Indonesia mempunyai persamaan derajat dengan laki-laki. Setiap perempuan  mempunyai hak memperoleh pendidikan tinggi. Beliau dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang gigih  memperjuangkan emansipasi. Mengingat,  dulu perempuan tidak bebas menuntut ilmu. Adat istiadat yang menyatakan perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur masih mengekang.

Beranjak dari sejarah Kartini, pertanyaan kemudian muncul apakah perempuan-perempuan saat ini sudah memiliki mental dan sikap seperti sosok Kartini ? Mungkin sebagian orang akan ada yang mengatakan ya. Dan sebagian lagi tidak. Sebenarnya sosok Kartini seperti apa yang diharapkan?

Mengutip perkataan dari Bung Karno “ Perempuan itu seni”. Perempuan layaknya hiasan. Namun apakah seni hanya sebatas hiasan semata? Seni haruslah memiliki nilai estetika. Dimana karya seni itu mempunyai nilai-nilai keindahan, begitu juga perempuan.

Perempuan layaknya seni yang harus memiliki nilai jual tinggi. Perempuan diharapkan mampu menjadi agent of change (agen perubahan). Karena seyogyanya masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan selalu identik dengan urusan domestik (kebutuhan rumah tangga saja). Apalagi problematika yang dialami sebagian kaum hawa ini dihadapkan oleh pilihan yang sulit ketika sudah berumah tangga. Apakah harus melanjutkan karir atau berkontribusi waktu penuh untuk keluarga. Sehingga masih banyak beranggapan “ Ah! Percuma saja berpendidikan tinggi toh ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga”. Pola pikir close-minded (pikiran sempit) itulah yang harus kita ubah.

Banyaknya pelbagai kasus atau peristiwa yang terjadi, tidak benar jika kita memposisikan perempuan sebagai manusia kelas dua. Perempuan harus diposisikan setara dengan laki-laki. Kita ambil saja contoh, dalam ranah perpolitikan. Perempuan dipandang tidak pada takdirnya ketika memasuki publik-politik. Tentu saja pandangan ini tidak adil pada perempuan dan akhirnya mereka merasa disingkirkan. Hal ini didasarkan pada sebuah pemahaman, jika perempuan-perempuan selama ini sebagai pengurus anak, pengatur keuangan keluarga, maka bangsa ini tidak akan maju. Sudah seharusnya perempuan dilihat sebagai pendorong dalam kemajuan bangsa.

Langkah perempuan untuk menopang waktu yang semakin kejam dan memikul beratnya perkembangan teknologi mengharuskan perempuan memiliki kesadaran tinggi akan pendidikan berintegritas. Kita jangan hanya berpangku tangan dan mengharapkan penghasilan dari pasangan.
Kejarlah cita-cita dan mulailah memikirkan tantangan masa depan. Mulailah memperkaya otak dan memperkokoh mental. Karena perempuan bukan hanya cerdas, tapi juga berani melangkah dua langkah di depan.

Selalu berpikir positif dalam segala hal dan mengalahkan rasa pesimis. Karena setiap hal baik ataupun buruk pada dasarnya pasti akan berlalu. Setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Jangan mudah menyerah dan berputus asa menggapai cita-cita. Meskipun hambatan yang kita rasa sangat sulit dan mematahkan rasa ambisius diri. Percayalah,  proses tidak akan menghianati hasil. Mari kita sama-sama menjadi penerus RA Kartini. Caranya, dengan meng-upgrade diri menjadi perempuan berpendidikan dan berkelas.

Penulis adalah Mahasiswi fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Jambi


Penulis: Erlina
Editor:


TAGS:


comments