Sabtu, 21 Oktober 2017

Education Smart School (ESS) Berbasis Kearifan Lokal


Sabtu, 22 April 2017 | 13:46:33 WIB


/

CITA-cita kemerdekaan Indonesia yang dirumuskan oleh para  founding father sangat jelas. Itu tertuang dalam alinea ke empat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dimana berbunyi “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Kalimat itu memang pada dan jelas serta gampang untuk diucapkan. Tapi sulit untuk diimplementasikan. Pertanyaannya, sudah sejauh manakah cita-cita itu terealisasikan? khususnya dalam hal “Mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Pendidikan sangat penting dalam mewujudkan negara yang sejahtera. Tapi itu  butuh political will dari otoritas pemerintah maupun dari kontribusi korporasi. Hal ini tidak hanya berguna untuk daya saing ekonomi ASEAN maupun Global. Secara politik, memang sudah ada keinginan pemerintah mewujudkan cita-cita kemerdekaan itu. Terbukti UU tentang pendidikan mewajibkan kucuran anggaran sebesar 20%.
Hanya saja, sampai sejauh mana  efektivitas dan efesiensinya.  Itu masih menjadi pertanyaan. Mengingat, sistem pendidikan yang efektif dan efisien merupakan hal penting yang harus diperhatikan . Namun fenomena sekarang ini masih jauh dari harapan (das sain das solen).
Dewasa ini ada banyak kasus tentang kejahatan yang melibatkan insan pendidikan. Seperti maraknya pelecehan seksual terhadap siswa, penculikan dan kekerasan terhadap siswa. Kemudian, kriminalisasi terhadap guru, penggorokkan dosen oleh mahasiswa, dan kasus-kasus lainnya.
Di skala Provinsi Jambi sendiri, tanggal 13 April 2016 guru Sekolah Dasar (SD) yang melakukan pencabulan terhadap 7 orang muridnya di Kabupaten Muaro Jambi (JambiekspresNews). Kemudian di level nasiona, ada pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS), siswa yang disodomi oleh karyawan serta guru disekolah tersebut? Belum lagi selesai kasus itu, Indonesia kembali digemparkan oleh kasus yang terjadi di Sumatera Utara. Dimana mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggorok dosennya ketika bertengkar mengenai skripsi. Ada ratusan bahkan ribuan rentetan kasus lain yang bahkan lebih kejam dari kasus tersebut .
Kemanakah kemuliaan nilai-nilai luhur yang selalu digaungkan selama ini? Apakah tidak mampu kita wujudkan sekolah yang diidam-idamkan tokoh nasional kita Ki Hadjar Dewantara, yaitu  seperti Taman Siswa? Sekolah dengan penuh kebahagiaan, sekolah yang menyenangkan ketika mengikuti prosesnya. Sekolah dengan penuh kebahagiaan berarti sekolah yang jauh dari kekerasan, penculikan, dan pelecehan seksual. Serta sekolah yang menyenangkan ketika mengikuti prosesnya berarti sekolah sesuai dengan basic atau sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sehingga mereka bisa membedakan antara tempat sekolah dan kuliah dengan rumah hantu dan diskotik. Antara panci yang selalu kena tekanan suhu panas dengan taman yang indah dan meriah. Apabila kedua hal tersebut dapat dirasakan dan dinikmati oleh pelajar maupun pengajar, maka untuk melanjutkan roda pemerintahan di negeri ini sepuluh, dua puluh, atau seratus tahun kedepan akan berjalan secara equilibrium (baca: seimbang).
Problem pendidikan di bumi pertiwi ini tidak sebatas itu,. Berdasarkan data yang penulis dapatkan menyatakan bahwa “Jumlah pengangguran di Indonesia pada 2016 dinilai mencapai titik terendah sejak 1998. Kementerian ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri mencatat jumlah pengangguran pada 2016 mencapai 5,5 persen atau sekitar 7,02 juta orang atau lebih rendah dibanding 2015 yakni sebesar 5,81 atau setara dengan 7,45 juta orang. Selain penurunan persentasi pengangguran penduduk yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengan Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), Persentase penduduk berpendidikan diploma I, II, III juga menurun. Namun tingkat pengangguran lulusan Universitas malah meningkat dari 5,34 persen menjadi 6,22 persen menurut Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik (Tempo.co, Jakarta. 04 Mei 2016). Pengangguran lulusan SD sampai Diploma menurun, namun anehnya pengangguran lulusan sarjana malah meningkat. Ada apa dengan sarjana muda terbaik bangsa? Apakah mereka tidak mampu bersaing dengan lulusan tingkat pendidikan dibawahnya? Apakah status symbol lebih penting bagi masyarakat ketimbang apa yang dapat dikerjakan (what will be done)?
Semua itu karena pemerintah menciptakan sistem pendidikan yang tidak efektif dan efisien berdasarkan kearifan lokal untuk pelajar. Mestinya pendidikan itu untuk perbaikan karakter dan pengembangan kualitas diri yang sesuai dengan potensinya masing-masing, namun sekarang ini pendidikan hanya dianggap sebagai tiket menuju kelas sosial yang lebih tinggi. Gerakan kerja, kerja, kerja dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan problem ini, baik dari sistem pendidikan, fasilitas yang memadai, dan yang terpenting ialah Law Envorcement. Menurut saya, penyebab semakin bertambahnya angka pengangguran di sektor lulusan sarjana salah satunya ialah terbendungnya potensi yang dimiliki oleh pelajar, tak ada dorongan atau wadah yang jelas untuk berbuat sesuatu sesuai dengan basicnya. Dunia pendidikan hanya dianggap jenjang formalitas pendidikan, sedangkan substansi dari jenjang itu sendiri tidak dinikmati.
Sehingga dunia pendidikan dianggap seperti rumah hantu atau diskotik, khususnya di dunia perkuliahan. Rumah hantu, karena ada banyak hal menakutkan seperti dosen killer, absen, dan tugas. Diskotik, karena disitu bisa tempat judi, konsumsi narkoba, dan tempat berkeliarannya ayam kampus (fresh chicken). Mata kuliah sedikitpun tidak seksi untuk dipelajari, ataupun didalami, tugas kuliah cukup sebagai syarat untuk menenangkan hati dosen, dan sikap tidak peduli terhadap apapun kegiatan positif mahasiswa. Oleh sebab itu tidak heran ketika waktu sudah tiba, toga telah dikenakan, tetapi berujung pada pengangguran. Investasi yang sangat merugikan yang sudah dilakukan oleh orang tua.
Oleh sebab itu untuk meminimalisasi penyumbang pengangguran dari sektor pendidikan, maka penulis menyarankan untuk menerapkan sistem pendidikan yang sifatnya:
•    Pendaftaran dan seleksi dilakukan secara transparan dan bersih serta terjangkau untuk seluruh warga masyarakat Indonesia.
•    Pelatihan dan penelitian (Praktek) sangat dominan dibandingkan belajar teks book.
•    Rehabilitasi apabila poin yang terdapat di Electric-Education Smart School (E-ESS) setiap mahasiswa berkurang lebih dari 50%
Konsep E-ESS sangat mengedepankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal baik dalam kostum, interior ruangan, dan budaya sopan santun terhadap pelajar dan pengajar di lingkungannya. E-ESS rutin mengadakan kompetisi atau Olympiade School berbasis kearifaan lokal sesuai dengan potensi masing-masing mahasiswa. Olympiade School bernuansa tradisional dalam setiap dinding ruangan dan fasilitas yang digunakan. Pengajar hanya sebagai pengarah, pemotivasi, dan memfasilitasi proses pendidikan ini sesuai dengan nilai-nilai luhur suatu daerah dan kondisi Geopolitik daerah tersebut.
Pendidikan formal hanya sedikit, seringkali mengadakan pelatihan, penelitian, dan yang bersifat praktek lainnya. bagi setiap mahasiswa yang poin di E-ESSnya dibawah 50%, maka akan dilakukan rehabilitasi atau bimbingan, untuk pemulihan ulang semangat belajarnya. Nilai akhir cukup ditentukan dari jumlah prestasi yang diraih atau capaian dalam bentuk penelitian. Ketika ada berbagai kompetisi dunia, baik cabang olahraga, seni, akademik, akan bisa diikuti oleh mahasiswa. Maka akan menyumbangkan kebanggan tersendiri bagi bangsa Indonesia terhadap institusi ini.
Jadi Negara harus bertanggungjawab terhadap pengangguran yang disumbangkan oleh buruknya kualitas pendidikan. Jika dibiarkan itu berarti Negara mendididik orang menjadi tidak terdidik. Negara menghabiskan anggaran hanya untuk melahirkan pengemis-pengemis baru. Indonesia masih tidur, dan cita-cita itu masih berlanjut di dalam dunia mimpi para founding father. (Penulis adalah mahasiswa Fisipol Universitas Jambi)









Penulis: Deno Agustrianto
Editor:


TAGS:


comments