Sabtu, 18 November 2017

Kapitalisme Sumber Bencana Kehidupan


Kamis, 18 Mei 2017 | 15:02:08 WIB


/

JIKA melihat fenomena hari ini, banyak sekali orang bermusuhan, saling sikut sikutan, jegal jegalan membuat kita heran.  Padahal, jika ditinjau dari sisi pendidikan, bukanlah lulusan SD. Jika dilihat hartanya, sebagian yang berprilaku seperti itu orang kaya.

Jika dilihat pangkatnya, mereka memiliki pangkat yang tinggi. Jika dilihat agamanya, sebagian sudah menunaikan rukun Islam yang kelima dengan titel haji didepan namanya. Lantas apa masalahnya, kok masih ada sifat hasut, iri, dengki dalam kehidupan mereka.

Ternyata itu berawal dari proses ideologisasi sejak dini terhadap mereka. Prilaku yang lebih menghargai orang kaya, berpangkat dan berkuasa dari mereka yang miskin telah mengubah persepsi seseorang akan nilai kehidupan.

Kehidupan dianggap bernilai apabila memiliki harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, dan kekuasaan yang mumpuni. Sehingga berlomba-lombalah semua orang mengejar hal tersebut.

Perlombaan inilah yang merupakan awal dari segala bencana dalam kehidupan ini. Sehingga ada yang rela bermusuhan dengan saudaranya sendiri demi berebut harta. Ada yang rela menghardik temannya sendiri demi sebuah pangkat. Ada yang tidak mau berbagi  kewenangan hanya demi kekuasaan.

Rasul SAW dalam hadistnya telah mengingatkan bahwa perlombaan mencari harta ada sumber mala petaka. Hal ini sesuai sabda, ”Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Perebutan kekuasaan juga telah mencoreng sejarah Islam. Dan ini menjadi pemicu fitnah kubra di masa sahabat, antara Ali r.a. dengan siti Aisyah r.a. dalam perang Jamal, antara Ali r.a. dengan Muawiyah r.a. dalam perang Siffin, antara Ali r.a. dengan kaum Khawarij.

Oleh karena itu, marilah kita tidak menuhankan harta benda pangkat dan jabatan. Ekonomi Islam tidak menjadi harta, pangkat dan jabatan sebagai tujuan. Tapi hanya sebagai alat untuk mencapai maslahah kehidupan di dunia dan akhirat kelak. Ketahuilah, dunia adalah permainan dan senda gurau. [QS. Al-Ankabuut (29). Kesenangan yang terlihat adalah  Kesenangan yang menipu. [QS. Ali Imran (3): 185]. Sifatnyapun hanya sementara. [QS. Ali Imran (3): 196-197. Dan sesuai dengan pesan  Rasulullah saw Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir. Semoga harta dan kekuasaan tidak melalaikan kita dari mengingat Allah.

(Penulis adalah GM Harian Metro Jambi dan Koordinator Wilayah Laskar Santri Nusantara Provinsi Jambi)


Penulis: Mohd Haramen SE ME Sy
Editor:


TAGS:


comments