Minggu, 22 Oktober 2017

PENJAJAH ITU DIRIMU SENDIRI


Senin, 07 Agustus 2017 | 14:14:20 WIB


/

"…dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”, Undang-Undang Dasar 1945. Belanda sudah diusir dari Bumi Pertiwi, Jepang juga sudah tidak berkuasa lagi atas negeri ini. Kita adalah bangsa yang merdeka. Namun, pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar merdeka dari ‘penjajahan’ diri sendiri?

Salah satu unsur penting suatu kemerdekaan itu adalah ‘berdaulat’. Secara mendasar, berdaulat itu dapat diartikan sebagai sebuah keadaan yang bebas dalam menentukan keputusan atas dirinya sendiri tanpa gangguan dari pihak mana pun. Bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang mempu mengatur dirinya sendiri tanpa interpensi dan tekanan (penjajahan) dari pihak mana pun. Begitu juga diri yang berdaulat adalah pribadi-pribadi yang terbebas dari tekanan apa pun atau siapa pun dalam menentukan keputusan akan hidupnya sendiri.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya dalam dirinya sendiri terdapat berbagai penjajahan yang sangat sulit dibumihanguskan. Lihat saja, sudahkah diri anda benar-benar terbebas dari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, berjudi, narkoba, korupsi, dan lain sebagainya? Belum lagi menghadapi pemberontak yang bernama ‘malas’. Hebatnya, penjajah-penjajah ini ternyata hadir 24 jam dan terus bercokol pada setiap orang yang tidak mampu memerdekakan dirinya.

Semua bentuk penjajahan ini ada dalam diri. Jadi penjajah sesungguhnya itu adalah diri sendiri. Orang-orang yang mampu berdaulat atas dirinya adalah orang yang berhasil mengusir segala bentuk ‘penjajahan’ tersebut. Dirinya dengan tegas, setegas para pahlawan bangsa ini, menyatakan ‘tidak’ pada Belanda dan Jepang. Jika bertemu penjajah, pilihannya cuma satu; membunuh atau dibunuh. Tidak ada kata bersahabat dengan para penjajah.

Anehnya, saat ini banyak orang yang ‘bermesraan’ dengan para penjajah dirinya. Mereka tunduk dan bertekuk lulut tanpa perlawanan sedikit pun. Ketika kemerdekaan dirinya direnggut oleh rokok dan rasa malas, misalnya, dia seakan menikmati penjajahan itu. Rokok yang jelas-jelas mendatangkan keburukan dan kerusakan pada kesehatannya atau rasa malas yang bisa menghancurkan masa depannya, ia biarkan bertahta dalam diri. Terjajah!

Untuk menjadi orang yang merdeka dan berdaulat atas dirinya, paling tidak ada beberapa hal yang dapat dijadikan senjata. Pertama, ‘goal setting’ yang kuat. Orang-orang yang memiliki tujuan hidup yang kuat, jelas dan terukur, tidak akan mudah ‘dijajah’ oleh apa pun. Orang-orang semacam ini tahu persis apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dilawan, termasuk godaan yang datang dari dalam dirinya sendiri.

Jika sesuatu yang datang dari dalam dirinya tidak bersesuaian dengan ‘goal setting’ yang telah ia tentukan, maka ia akan lawan habis-habisan. Jika seorang mukmin memiliki tujuan hidupnya adalah surga Allah, maka godaan dan rasa malas untuk tidak mengerjakan tahajjut pada malam hari misalnya akan dapat ia atasi. Dapat dipastikan ia akan ‘angkat senjata’ menyatakan perang terhadap godaan itu.

Maka ‘goal setting’ sangat penting sebagai ‘tank baja’ senjata penghancur segala bentuk penjajahan yang datang dari dalam diri sendiri. Goal setting yang baik pula akan menjadi benteng pertahanan terhebat tempat berlindung dari segala bentuk gempuran peluru yang datang menerjang.

Kedua, berjuanglah! Kemerdekaan itu diperjuangkan bukan hadiah dari penjajah. Begitu juga halnya terhdap penjajahan dari dalam diri yang harus diperjuangkan. Perjuangan memerlukan pengorbanan. Hanya orang-orang yang memiliki tekad yang membaja kemudian yang akan terus dan terus berjuang untuk mencapai apa yang ia impikan.

Perjuangan diperlukan kerja keras. Tidak mudah untuk keluar dari zona nyaman (comport zone) bagi orang-orang yang telah terlanjur dininabobokan oleh para penjajah dirinya. Enak menikmati asap rokok yang membunuh, nyaman mengikuti rasa malas, terlena dengan godaan korupsi yang menjerat diri, dan tindakan-tindakan lainnya memerlukan tenaga besar untuk melawannya.

Akhirnya, penjajah terhebat itu ternyata bersembunyi dan bercokol dalam diri sendiri. Jika tidak mencoba memerdekakan diri, maka tidak akan ada makna kemerdekaan itu. Merdeka yang sesungguhnya adalah berdaulat atas diri dan bangsanya. Merdeka! #BNODOC218082017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments