Rabu, 23 Agustus 2017

ANTAR - JEMPUT ANAK ITU, 'TUGAS NEGARA'


Kamis, 10 Agustus 2017 | 05:40:54 WIB


/

Mengantar dan menjemput anak di sekolah itu adalah salah satu bentuk pengabdian terbaik orang tua kepada bangsa dan negara ini. Itulah yang disebut dengan ‘tugas negara’. Dinas! 

 

Dimana korelasinya? Perhatikan baik-baik! Nasib bangsa dan negara ini pada masanya nanti akan diserahkan kepada generasi penerus dari generasi ke generasi. Itu artinya, anak-anak yang sedang anda antar dan jemput itulah dipastikan akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini. Di tangan mereka diserahkan sepenuhnya nasib bangsa dan negara ini. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, hancurlah masa bangsa ini. 

 

Maka, dengan mengantar dan menjemput anak-anak anda di sekolah itu hakikatnya anda sedang menjalankan tugas negara yaitu sedang mempersiapkan generasi penerus bangsa ini dengan baik.

 

Semakin serius mengurusi anak-anak maka semakin besarlah kontribusi anda terhadap masa depan bangsa ini. Kesannya sepele. Tapi sesungguhnya inilah kontribusi terbesar kepada bangsa ini. Banyak yang mengira bahwa ‘tugas negara’ itu hanya diemban oleh para pejabat negara yang dikawal ke sana kemari itu. Ingatlah, mereka yang saat ini menjabat adalah hasil jerih payah generasi sebelumnya (orang tua) yang telah menyumbangkan segala daya dan upaya yang dimiliki. 

 

Sekali lagi, jangan dianggap remeh tugas orang tua terhadap pembentukan generasi muda yang berkualitas di negari ini. Sadarilah, itulah tugas negara sesungguhnya yang dibebankan kepada anda sebagai orang tua yang tidak kalah beratnya dengan para pejabat negara lainnya. Sama-sama pejabat! 

 

Mengapa pula salah satu tugas negara itu adalah mengantar dan menjemput anak sekolah? Sebenarnya, kegiatan ini jauh lebih penting dari tugas anda di kantor. Sudah selayaknya tugas ini didahulukan karena ini tuga negara. 

 

Tugas ini mendatangkan begitu banyak menfaat. Beberapa diantaranya, pertama, terjalinnya ikatan emosional antara orang tua dan anak. Coba perhatikan perbedaan anak-anak yang diantar oleh orang tuanya dengan  anak-anak yang tidak diantar. Dapat dipastikan anak-anak yang diantar oleh orang tuanya jauh lebih senang, bahagia, dan ceria datang ke sekolah. Dengan kondisi psikologis seperti ini, anak-anak akan lebih siap menghadapi berbagai aktivitas di sekolah. 

 

Lebih-lebih, ketika anak dilepas dengan pelukan dan ciuman kasih sayang sebelum melangkah menuju gerbang sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Saat dipeluk itulah orang tua dapat menitipkan pesan, “sekolah yang baik ya, Nak. Jadilah sang juara untuk kehidupanmu”. Yakinlah, pesan ini akan menjadi energi begitu besar bagi sang anak dalam mengikuti segala bentuk kegiatan di sekolahnya. Gak percaya? Coba aja!

 

Kedua, membentengi anak dari berbagai pengaruh negatif. Kira-kira masih maukah atau masih ada kesempatankah anak-anak untuk bolos jika yang mengantar dan mejemputnya adalah orang tuanya sendiri? Saya dapat memastikan, anak-anak yang ‘diburu’ Satpol PP di sejumlah warnet bermain game-online dengan seragam sekolah itu adalah anak-anak yang orang tuanya sibuk dan tidak sempat mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Orang tuanya abai!

 

Belum lagi persoalan merokok, pergaulan bebas dan narkoba. Saya rasa, kegiatan mengantar dan menjemput anak di sekolah adalah salah satu cara efektif untuk membentengi generasi muda bangsa ini dari jahatnya narkoba. Sudah saatnya pemerintah mencanangkan Gerakan Antar-Jemput Anak Sekolah oleh orang tua. Jangan hanya hari pertama masuk sekolah saja, tapi setiap hari. Konsekwensinya, pemerintah harus mengubah jam kerja orang tua. Dan, jam masuk dan pulang sekolah anak-anak harus pula disesuaikan sedemikian rupa. 

 

Akhirnya, antar dan jemput anak sekolah oleh orang tua adalah tugas terbaik yang dipersembahkan kepada negara. Ini tugas negara terberat yang diemban orang tua untuk mempersiapkan generasi bangsa ini. Laksanakanlah tugas ini sebaik mungkin sehingga kelak bangsa dan negara ini diwarisi oleh generasi-generasi yang tangguh. Selamat bertugas! #BNODOC221082017

 

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments