Sabtu, 21 Oktober 2017

KOMPETISI TANPA MEMBENCI


Selasa, 26 September 2017 | 14:47:30 WIB


/

SETIAP orang dipastikan ingin manjadi nomor satu. Siapa pun dia pasti ingin diakui yang terhebat dan tampil sebagai pemenang. Ini adalah salah satu sifat bawaan manusia yang dianugrahkan oleh Allah untuk mengarungi hidup ini. Dengan sifat ini kemudian manusia akan terus berikhtiar untuk menjadi yang terbaik.

Jika sudah setiap orang menginginkan hal yang sama, maka dampak logisnya adalah terjadinya kompetisi (rebutan). Sederhananya, jika ada satu bola diperebutkan oleh banyak orang, maka akan terjadi pelombaan untuk merebut bola tersebut. Diyakini hanya orang terbaiklah yang akan mendapatkannya.

Persoalannya, bagaimana kompetisi itu dilakukan? Hal ini yang menarik untuk diperbincangkan pada artikel singkat ini. Untuk memenangkan suatu kompetisi itu artinya harus ‘menyingkirkan’ banyak orang. Seorang atlit bela diri harus menjadi pemenang dengan memukul jatuh lawannya di dalam arena. Seorang pelari harus berlari meninggalkan lawan-lawannya. Seorang politisi harus mengumpulkan sejumlah suara pendukung untuk mendapatkan kekuasaan. Seorang siswa harus lebih unggul dari teman sekelasnya agar menjadi rangking satu. Dan seterusnya.

Apa pun kompetisi yang dilakukan, maka akan tercipta dua kutub yang berlawanan yaitu pemenang dan pecundang. Siapa yang terbaik akan keluar sebagai ‘the winner’, dan yang terkalahkan akan menepi dengan label ‘the looser’.

Namun harus dicatat, pemenang sejati adalah siapa saja yang mampu memenangkan pertandingan tapi lawan merasa tidak dikalahkan.

Itulah yang sering saya sampaikan bagaimana melakukan kompetisi tanpa membenci. Membuat orang yang dikalahkan merasakan kebahagiaan dengan kemenangan sang juara. Orang-orang yang dikalahkan menerima kekalahan mereka dan bahkan mendukung kemenangan yang diperoleh. Itu baru keren!

Jika begitu, untuk keluar sebagai pemenang, tugasnya tidak hanya memenangkan pertandingan tetapi juga memenangkan hati orang-orang yang dikalahkan. Jika ada orang yang menang tapi lawan tidak bisa menerima kemenangan tersebut maka kemenangan itu belumlah lengkap. Kemenangan dengan menggoreskan luka di hati lawan adalah kemenangan yang masih ‘cacat’.

Agar suatu kemenangan itu menjadi begitu sempurna, maka kompetisi yang dilakukan tidak boleh menggunakan cara-cara yang tidak terhormat. Salah satu cara terhormat itu adalah dengan mengikuti aturan main yang sudah ada. Kompetisi apa pun diyakini memiliki aturan main atau peraturan yang harus diikuti oleh para peserta kompetisi. Maka, pemenang sejati tidak akan melanggar aturan untuk menjadi pemenang.

Kemenangan yang didapat dari sebuah kecurangan hakikatnya bukanlah sebuah kemenangan tapi sebuah kegagalan yang nyata. Kemenangan semacam ini dapat dipastikan tidak akan mendatangkan kepuasan apa pun bagi dirinya. Bahkan sebaliknya, banyak diantara mereka yang memenangkan suatu kompetisi dengan kecurangan membuat diri mereka semakin tertekan dan merasa bersalah terhadap diri dan orang lain. Jika pun disanjung dan dijunjung, sesaat pada ‘pesta’ kemenangan itu saja, setelahnya akan terlupakan. Namun pemenang sejati akan terus terpatri di hati.

Ingatlah bahwa kompetisi dalam hidup ini adalah sebuah keniscayaan. Bukankah kita yang hidup hari ini adalah juga hasil kompetisi satu sel benih (spermatozoa) yang berhasil membuahi satu sel telur (ovum). Tapi kompetisi itu kemudian tidak membuat benih-benih yang lain ‘sakit hati’. Boleh jadi, benih-benih lain mengucapkan selamat dan sukses dengan penuh kebanggaan.

Akhirnya, jadilah pemenang sejati dalam hidup ini. Lakukan kompetisi apa pun tanpa harus membenci. Pemenang sejati akan memenangkan pertandingan dengan beridiri di atas aturan main dan peraturan yang ada juga menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. #BNODOC268092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments