Sabtu, 21 Oktober 2017

DUSUN SAGO


Sabtu, 07 Oktober 2017 | 09:50:21 WIB


/

Sago adalah nama dusun kecil tempat saya dilahirkan.

Kini dusun itu melebur dalam wilayah Desa Paseban, Kecamatan VII Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi. Dulu desa ini memang benar-benar kecil. Tapi sekarang, seiring pertumbuhan penduduk sudah menjadi desa besar dengan jumlah penduduk yang banyak. Pinggiran sungai sudah ditinggalkan. Rumah-rumah kemudian berjejer padat memenuhi pinggir jalan. Sesekali pulang kampung, banyak rumah-rumah yang tidak saya kenali karena pertumbuhannya begitu pesat.

Saya hanya ingin sedikit bernostalgia memutar waktu beberapa tahun silam. Menelusuri waktu sambil memetik makna yang tersimpan.

Saya ‘hijrah’ dari kampung sekitar tahun 1996. Lebih kurang 21 tahun lalu. Tulisan ini paling tidak dapat dijadikan potret kehidupan desa kami sebagai ganti selfie. Jangankan S8, S1 saja waktu itu belum ada, hehehe.

Pada masanya, kehidupan masyarakat kami berpusat di pinggir Sungai Batang Hari. Rumah-rumah berjejer di pinggir sungai. Mata pencaharian masyarakat berladang dan berkebun karet. Sebagian besar kebutuhan kehidupan seperti beras, sayur mayur dan lauk pauk di dapat dari berladang dan sungai. Di pasar pekan (pasar sekali seminggu) hanya mencari kebutuhan sandang dan beberapa kebutuhan lain seperti minyak goreng dan garam.

Sungai Batang Hari juga menjadi sumber utama supply ikan bagi masyarakat. Datuk (kakek) saya salah seorang nelayan sungai yang setiap hari menangkap ikan dengan secara tradisional. Setiap hari keluarga kami pasti makan ikan. Selalu saja Datuk dapat ikan patin besar dengan berat di atas sepuluh kilo. Saya selalu dapat jatah kepala. Mak nyos...hehehe.

Air sungai tidak ‘butak’ seperti sekarang ini. Ia jernih mengalir dengan tenang. Lihat pantun berikut ini;

Batanghari aeknyo tenang
Sungguh pun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati.

Kata ‘merusak hati’ bukan pula membuat sakit hati tapi bermakna, jika anda telah berkenalan dengan anak Jambi dipastikan jatuh hati. ‘Jatuh hati’ dalam artian yang lebih luas bahwa anak-anak Jambi selalu enak dijadikan sahabat. Itulah ‘budak’ Jambi. ‘Dari dulu hingga nanti’ anak Jambi selalu hidup dengan nilai-nilai. Walaupun kini mulai diusik oleh narkoba dan pergaulan bebas.

Sungai ternyata tidak hanya dijadikan sumber kehidupan bagi masyarakat di kampung ini, tapi menjadi arena bermain bagi kami anak-anak kampung. Suatu saat ketika sedang mengajarinya berenang di kolam renang, si kecil Zaid bertanya, “abi dulu di mana belajar berenang?”. Saya jawab, “dulu waktu kecil abi punya ‘kolam renang’ panjang sekali, airnya jernih, banyak ikannya lagi, dan gratis. Nama kolamnya ‘Sungai Batang Hari”, hehe

Seingat saya tidak pernah ada training khusus untuk belajar berenang. Orang tua dulu tidak khawatir yang terlalu berlebihan terhadap anak-anaknya. Mereka masih membebaskan anak-anak hidup dan berkembang bersama alam. Mereka memberikan ‘jatah’ kepada alam untuk mendidik anak-anak mereka. Tidak terlalu banyak larangan terhadap anak-anak sehingga bebas menjelajah semak-semak dan sungai-sungai. Paling yang sering kami dengar dari mulut mereka adalah peringatan, “hati-hati”.

Bagi saya pribadi, saya rasa ini adalah kearifan lokal yang harus diakui sebagai pembentuk mental dan kepribadian yang dimiliki. Kehidupan kampung masa anak-anak ini menjadikan saya selalu memiliki kebebasan dalam menentukan jalan hidup. Tidak perlu terlalu takut untuk menjelajah dunia, hutan belantara, semak belukar, laut dan sungai, kota dan desa di muka bumi ini. Tapi ingat kata orang tua, “hati-hati”.

Pertanyaannya, masih adakah ‘jatah’ alam dalam pendidikan anak-anak kita hari ini? Atau sudah diambil seluruhnya oleh ruang kelas ber-AC dan monitor komputer plus gadget?

Ternyata, dusun kecil itu telah menjadi ‘sekolah’ kehidupan yang hebat dalam hidup saya. I Love Sago. #BNODOC27807102017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments