Senin, 23 Oktober 2017

LOMBA MANCING KEBANGSAAN


Minggu, 01 Oktober 2017 | 13:05:50 WIB


/

Saya diminta oleh kawan-kawan di Forum Diskusi Jambi (FDJ) untuk memberikan sedikit materi motivasi pada kegiatan ‘Lomba Mancing Kebangsaan’. Mungkin sedikit terdengar ‘aneh’. Bagaimana pula lomba mancing dikaitkan dengan kebangsaan. Biasanya, berbicara wawasan kebangsaan (wasbang) itu di meja seminar atau di ruang kelas. Tapi buat saya, malah menarik dan menantang. Bahwa, persoalan kebangsaan itu boleh diperbincangkan di mana saja selagi dengan cara-cara yang baik dan positif.

 

Memperbincangkan wawasan kebangsaan di kolam pemancingan bersama para pecinta ikan tentu merupakan hal yang positif. Kegiatan semacam ini sungguh perlu mendapat apresiasi dan acungan jempol. Sebagai salah seorang dewan pembina, saya selalu berdecak kagum dengan kreatifitas-kreatifitas anak-anak muda yang berhimpun dalam organisasi ini. Tugas kita tentunya terus mengobarkan semangat mereka yang muda agar terus membara untuk berkontribusi pada bangsa dan negara ini. 

 

Tema dari kegiatan ini adalah ‘Memelihara Sportifitas, Merajut Kebersamaan dalam Perbedaan’. Sebuah tema besar tentang wawasan kebangsaan yang direfleksikan melalui joran (tangkai pancing) dan umpan. Keren!

 

Lantas bagaimana menghubungkaitkan memancing dengan wawasan kebangsaan? Jangan khawatir. Ada banyak hal positif yang dapat dimaknai dari kegiatan memancing. Mari kita lihat hubungan itu melalui pelajaran yang dipetik dari filosofi memancing.

 

Pertama, alat dan strategi. Anda tidak bisa mendapatkan ikan di kolam pemancingan jika tidak memiliki alat dan strategi-strategi. Alat tentunya paling minim ada pancing (joran plus tali dan kail) dan umpan. Pancing dan umpan pun harus pula disesuaikan dengan kondisi kolam dan ikan yang ada di dalam kolam itu. Tidak mungkin anda membawa pancing besar (untuk memancing di laut) untuk memancing ikan di kolam yang kecil. Atau sudah sudah jelas ikan yang ada di kolam adalah ikan lele malah yang dibawa umpan memancing ikan hiu.

 

Dalam berbangsa dan negara ini juga demikian. Kita harus terus berjuang memberikan kontribusi yang terbaik dengan ‘alat’ dan ‘cara’ yang baik pula. Janganlah pula atas nama bangsa dan negara tetapi alat dan cara yang digunakan tidak tepat. Hasilnya juga tidak baik.

 

Kedua, melatih kesabaran. Kesabaran salah satu hal yang paling diuji dalam memancing. Sabar dalam banyak hal, diantaranya sabar menunggu ikan memakan umpan. Sebar dalam waktu yang tidak ditentukan, bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Ketika ikan sudah kena pancing pun harus sabar. Sabar melakukan tarik ulur hingga ikan bisa dinaikkan ke darat. Jika tidak sabar, bisa-bisa pancing putus.   

 

Begitu juga dalam berbangsa dan bernegara ini. Banyak hal hari ini yang dapat memprovokasi kita hingga bisa melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Lebih-lebih di zaman dunia media sosial (medsos) hari ini. Banyak fitnah sana sini. Untuk menghadapi itu semua tentu dengan kata kunci; sabar. Sabar artinya tidak mudah terpancing dan bijaksana dalam menghadapi hal-hal negatif yang muncul.

 

Ketiga, selalu optimis. Rasanya tidak ada orang yang pergi memancing dengan mental pesimis. Saya yakin tidak ada yang berkata, “Kayaknya saya gak dapat ikan hari ini”.  Jika itu yang ada dalam benak para pemancing, pasti tidak jadi mancing. Para pemancing selalu optimis. Tidak hanya sekedar optimis dapat ikan, tapi juga yakin sekali dapat banyak dan besar-besar. 

 

Bangsa ini harus juga dibangun di atas optimisme yang besar. Lihatlah para pejuang kemerdekaan ini. Bambu runcing yang dijadikan senjata bukan penghalang menghadapi senjata canggih atau tank baja para penjajah karena mereka memiliki optimisme yang jauh lebih besar dari senjata-senjata tersebut. Optimisme harus dimiliki oleh setiap anak negeri ini!

 

Akhirnya,  sediakan alat pancing dan umpan yang tepat, datanglah dengan kesabaran dan optimisme yang besar. Berlombalah dengan menjunjung tinggi  nilai-nilai sportifitas. Dan, aplikasikanlah semua filosofi memancing ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ingat, yang tidak boleh, lomba memancing kerusuhan, hehe. #BNODOC27301102017

 

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor:


TAGS:


comments