Senin, 20 November 2017

Tanjabtim Masih Endemis Penyakit Kaki Gajah


Senin, 16 Oktober 2017 | 11:10:17 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

MUARASABAK - Kabupaten Tanjabtimur hingga kini masih termasuk salah satu daerah endemis penyakit kaki gajah (filariasis). Untuk menekan penyakit tersebut, Pemkab Tanjabtim melaksanakan pengobatan secara masal dalam dua tahun berturut-turut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Tanjabtim Hendriyanto mengungkapkan, dari 300 sampel yang diperiksa, ditemukan 4 sampel positif, dan penemuan cacing filaria itu agak padat.

"Kalau dalam pemeriksaan itu hanya ditemukan standarnya rata-rata di bawah 1 per sampel pemeriksaan, atau tiga saja yang ditemukan, tidak ngulang lagi minum obat filaria tersebut. Kini ditemukan 4 dari 300 sampel, dan ditemukannya agak padat cacing filarianya. Karena di atas tiga, satu kabupaten wajib minum obat filaria selama dua tahun berturut-turut, dan akan dimulai September 2017 ini," ungkapnya.

Dijelaskannya, di Jambi, selain Tanjabtim yang wajib melaksanakan minum obat filaria secara massal, ialah Kabupaten Tanjabbarat dan Muarojambi. Karena daerah tersebut juga endemis filariasis.

Hendri menjelaskan,  jika sudah positif terserang filaria, mereka wajib minum obat selama 12 hari secara berturut-turut. Namun bila terdapat yang sedang rawat jalan, ada atau tidaknya cacing filaria tersebut, maka secara teori satu kabupaten harus minum obat itu.  "Itu guna mencegah pengembangan filariasis. Ada maupun tidak cacing itu dalam tubuh, mereka wajib minum obat filaria ini demi pencegahan,"terangnya.

Penyebaran penyakit itu, melalui media gigitan nyamuk yang telah menggigit si penderita. Dalam teorinya, dengan sampai 5000 gigitan nyamuk yang membawa virus filaria tersebut.  "Intinya nyamuk yang membawa filaria itu tidak kemana-mana. Sementara filaria itu penekanannya tidak dapat dengan foging. Bila mereka sudah minum obat ini, sebanyak gigitan nyamuk itu tidak berpengaruh lagi ditubuh mereka yang sudah meminum obat tersebut.

Bila lambat diketahui ataupun penanganan terhadap masyarakat yang terserang vilaria ini lambat, mereka bisa cacat total. Alhamdulilah program minum obat secara masal ini mendapat dukungan dari pemerintah pusat," terangnya. Saat ini tercatat sebanyak 75 kasus filaria yang ditemukan di Bumi Sepucuk Nipah Serumpun Nibung, mayoritas terdapat di Kelurahan Talang Babat Kecamatan Muarasabak Barat.

 "Termasuk areal perkantoran ini sentralnya filaria. Sedangkan di Kecamatan Dendang, Muarasabak Timur dan Geragai sebagian kecil. Persoalan ini diupayakan ditangani dengan secepatnya, namun ini bukanlah persoalan mudah. Kita membutuhkan bantuan stake holder terkait untuk turut menghimbau kembali pegawainya. Sementara cara memakan obat itu perlu pemahaman tinggi. Bila ada cacing filaria di dalam tubuh, setelah minum obat dia akan bereaksi, seperti orang meriang. Tetapi kalau tidak ada tidak masalah,’’ tukasnya.


Penulis: Nanang Suratno
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments