Jumat, 24 November 2017

Momentum Aktualisasi Sumpah Pemuda


Senin, 30 Oktober 2017 | 13:39:25 WIB


/

TEPAT pada tanggal 28 Oktober adalah salah satu momen yang penting bagi sejarah Indonesia, terkhusus dikalangan para pemuda. Pada tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda, sebagai tumpuan berdirinya suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada tanggal 27-28 pemuda dari berbagai kalangan dan daerah melakukan kongres. Kongres tersebut bertujuan untuk mempersatukan arah gerakan kepemudaan yang dulunya lebih bersifat kedaerahan menjadi kebangsaan. Pada hari yang kedua 28 Oktober akhirnya keputusan kongres melahirkan apa yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Tiga rumusan hasil yang dikeluarkan 28 Oktober 1928 tersebut, berhasil mengubah arah pergerakan pemuda yang awalnya pergerakan kedaerahan dan kesukuan untuk melawan penjajahan kolonial hindia-belanda berubah menjadi gerakan kebangsaan yang kokoh  bertujuan memerdekakan tanah air Indonesia.

Pemuda mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Untuk mempersatukan entitas kedaerahan dan kesukuan yang melekat pada para pemuda, mereka mengaku berbahasa yang satu, bahasa Indonesia. Bahasa merupakan alat perekat yang mempersatukan seluruh keberagaman pemuda saat itu. Pada tanggal 28 Oktober juga merupakan hari pertama lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dihadapan pemuda kongres yang hadir saat itu, dan hal tersebut semakin membakar semangat para pemuda untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan sebagai gerakan menuju Indonesia merdeka.

Sejak lahirnya sumpah pemuda, gerakan-gerakan selalu menjadi penentu arah perjalanan sejarah Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 juga merupakan bentuk dari pergerakan pemuda yang menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka dengan segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa 10 November 1945 juga merupakan gerakan pemuda yang menolak pendudukan kembali Belanda kedalam wilayah administrasi Indonesia. Peristiwa runtuhnya rezim orde lama pada tahun 1966 dan runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 juga merupakan hasil dari gerakan pemuda dan mahasiswa.

Setelah runtuhnya orde baru, tidak ada lagi rezim otoriter yang mengontrol setiap gerakan-gerakan kepemudaan, Indonesia memasuki era demokrasi dimana kebebasan berekspresi, berpolitik, berpendapat dan kebebasan mengembangkan diri seluas-luasnya tanpa dibatasi. Namun, sudah saatnya pemuda mengaktualisasikan gerekan-gerakannya agar tidak tergilas oleh perkembangan zaman dalam mendukung cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

Tantangan pemuda dalam era globalisasi saat ini adalah kapitalisme global dan masuknya budaya barat yang tidak relevan serta budaya timur (westernisasi dan hedonisme)  yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia sendiri. Tantangan kapitalisme global menempatkan pemodal sebagai actor utama dalam mengendalikan kehidupan. Ini yang tentu harus kita waspadai, dan pemuda harus turun ambil bagian secara signifikan. Karena kapitalisme global ini akan menindas siapa yang lemah secara ekonomi, dan yang lemah akan dijadikan alat produksi bagi pemilik modal.  Maka dari itu, kita harus memiliki kemapuan dan pengetahuan dalam bidangnya masing-masing untuk dapat mengelolah kekayaan Indonesia secara mandiri serta pemuda Indonesia mampu bersaing secara global.

Tantangan kedua, westernisasi dan hedonisme, budaya kebarat-baratan dan hodon tidak cocok hidup di negara Indonesia. Saat ini kehidupan yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia sering menjadi pemerosotan mentalitas pemuda bangsa. Seperti, cara berpakaian sering melanggar norma-norma yang berlaku dalam budaya Nusantara, tindakan-tindakan kekerasan dikalangan pemuda semakin tidak terbendung, perang candu (Narkoba) yang terjadi saat ini semakin hari semakin jauh dari esensinya. Maka dari itu pemuda harus menjadi pioner untuk menegakkan budaya sendiri, sebagai warisan nenek moyang dan para the founding fathers.

Dalam menghadapi perkembangan jaman. Gerakan-gerakan pemuda harus berubah dan harus selalu aktual mengikuti jamannya. Jika pada tahun 1928, gerakan pemuda diarahkan untuk mendorong terwujudnya Indonesia merdeka. Maka di tahun 2017, gerakan-gerakan kepemudaan harus diarahkan untuk kemajuan bangsa Indonesia, khussunya kemajuan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh gerakan-gerakan wirausaha dan entrepreneurship. Dengan begitu, gerakan-gerakan kepemudaan menjadi actual dengan konteks jamannya.

Potensi pemuda yang saat ini generasi teknologi yang berkembang di era sharing economy harus dimanfaatkan dengan baik untuk kemajuan bangsa dan negara. Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 adalah momentum yang baik bagi seluruh organisasi kepemudaan dan seluruh elemen yang terkait dengan pemuda untuk mendorong dan mengasah potensi pemuda Indonesia bergerak untuk menuju kebangkitan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaannya.

Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda inilah, mari kita bersatu untuk terus meningkatkan rasa nasionalisme dalam rajutan persatuan dan kebhinekaan. Hanya dengan model intelektual organic, yakni intektual yang bersenyawa dengan rakyat, menjadi corong kegelisahan wong cilik, untuk merubah nasibnya. Belum dapat kita katakana bahwa negara ini merdeka jika masih ada istilah simiskin, sisusah dan sikelaparan. Artinya, kemerdekaan itu harus memberikan ruang untuk hidup layak bagi seluruh rakyat. Bukan malah rakyat yang punya negara susah untuk mencari makan dibuminya sendiri, karena ini namanya ironis ditengah alam kemerdekaan.

Ingatlah bahwa proklamator Republik Indonesia Ir. Soekarno selalu yakin dengan potensi kekutan pemuda Indonesia. “Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, tapi beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”. Selamat Hari Sumpah Pemuda wahai para pemuda Indonesia pelurus masa depan !!
            
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi


Penulis: Samuel Raimondo Purba
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments