Sabtu, 16 Desember 2017

Bahasa Indonesia, Nasibmu Kini


Senin, 30 Oktober 2017 | 13:57:11 WIB


/

DI Indonesia, bulan oktober selalu diperingati sebagai bulan bahasa. Selain karena momentum memperingati hari sumpah pemuda pada 28 November, bulan bahasa juga dimaknai sebagai upaya untuk mewarisi budaya dan seni Indonesia, khususnya yaitu bahasa Indonesia.

Di Indonesia, bahasa Indonesia menjadi sarana utama untuk membangun komunikasi antar individu yang belum saling mengenal satu sama lain. Bahasa Indonesia juga dinilai memiliki nilai budaya yang sangat dalam, mengingat keberagaman suku yang ada di Indonesia hanya dapat diakomodir oleh Bahasa Indonesia itu sendiri. Lalu, bagaimanakah kabar bahasa Indonesia saat ini ?

Salah satu mata pelajaran yang diuji pada Ujian Nasional mulai dari SD, SMP, hingga SMA sederajat adalah Bahasa Indonesia, menurut data yang dihimpun dari data.go.id, nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) khusus pelajaran Bahasa Indonesia pada tingkat SMA turun dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2015, rata-rata nilai UN SMA berada pada nilai 61,29, pada tahun 2016, nilai rata-rata UN turun 6,51 poin menjadi 54,78.

Sedangkan pada tahun 2017, nilai rata-rata UN turun 4,36 poin, menjadi 50,42.  Hal ini menandakan bahwa masyarakat, khususnya pelajar memahami bahasa Indonesia secara verbal, namun tidak sepenuhnya memahami secara teoritis. Turunnya nilai rata-rata nilai UN pelajaran Bahasa Indonesia menjadi tolak ukur menurunnya kualitas berbahasa Indonesia yang ada pada masyarakat, khususnya para pelajar.

Turunnya nilai rata-rata UN pelajaran bahasa Indonesia pasti bukan tanpa sebab, faktor pendidik juga perlu dikaji dalam hal ini. Standar kompetensi guru juga mempengaruhi keberhasilan seorang pelajar dalam memahami pelajaran di sekolah.

Namun faktanya, pada tahun 2015, nilai rata-rata Uji Kompetensi Guru (UKG) Bahasa Indonesia cukup rendah, hanya mendapat 47 poin. Sementara, idealnya nilai standar yang harus dimiliki oleh guru yaitu sebesar 80. Jelas sekali, rendahnya nilai UKG sangat mempengaruhi nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia. Kualitas pembelajaran dan pengajar yang rendah membuat ilmu yang diserap juga tidak maksimal.

Kepala Balai Bahasa Indonesia Jateng, Pardi Suranto, mengatakan bahwa rendahnya nilai UKG para guru Bahasa Indonesia sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar didalam kelas. Hal ini biasanya diakibatkan oleh rendahnya minat baca para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia yang dinilai memiliki bebas moral yang cukup kuat, mengingat Bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-hari yang acap kali digunakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari sisi pendidikan, sepertinya bisa kita simpulkan bagaimana nasibbahasa indonesia saat ini.

Seperti yang penulis sebut diatas, bahasa indonesia menjadi media berkomunikasi, baik secara tulisan, lisan, maupun bahasa tubuh. Para ruang publik biasanya kita sering menjumpai rambu-rambu atau tanda seperti dilarang merokok, Buka/Tutup, dan lain-lain. Namun saat ini, penggunaan bahasa Inggris lebih mendominasi dibandingkan bahasa indonesia.

Dilarang merokok cenderung ditulis dengan No Smoking, lengkap dengan ikon rokok yang sedang mengeluarkan asap kemudian diberi garis miring pada rokok tersebut. Atau yang lebih familiar saat ini yaitu akses Internet. Akses Internet Gratis lebih sering menggunakan kalimat  free Wifi dibandingkan Akses Internet Gratis melalui jaringan Wifi.

Penggunaan bahasa indonesia para ruang publik kota menjadi perhatian kita bersama, khususnya pemerintah terkait. Penggunaan bahasa indonesia pada ruang publik secara tidak langsung melatih kemampuan berbahasa yang baik kepada masyarakat, di samping lebih mudah untuk dipahami. Bahasa indonesia juga menjadi identitas yang perlu dipelihara, selain sebagai identitas nasional, bahasa indonesia juga bisa dikategorikan sebagai bahasa umum yang mampu dipahami oleh seluruh masyarakat dipenjuru negeri.

Oleh karena itu, harapannya semakin banyak rambu-rambu diruang publik yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai media dalam berkomunikasi kepada masyarakat.

Kedua contoh diatas bisa jadi gambaran bagaimana keadaan Bahasa Indonesia saat ini, tatkala arus gloalisasi semakin hari semakin Deras, disitu pula kondisi bahasa indonesia kita semakin terkuras. Baik terkuras secara kualitas maupun kuantitas.

Secara kualitas, kita dapat mengukur dari segi pendidikan, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia yang sudah penulis paparkan diatas, betapa menyedihkannya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia tingkat SMA, yang menjadi tolak ukur kemampuan berbahasa sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Kemudian secara kuantitas, bagaimana penggunaan Bahasa Inggris lebih mendominasi digunakan pada ruang publik dibandingkan penggunaan Bahasa Indonesia. Inilah kabar Bahasa Indonesia saat ini.

Pada akhirnya, harapan penulis dan harapan kita semua tentunya, mari kita tingkatkan kembali penggunaan Bahasa Indonesia, dimanapun dan kapanpun. Melalui momentum Sumpah Pemuda ini, harapnnya penggunaan bahasa indonesia bisa lebih dibumikan lagi.

Sudah 89 tahun kita merajut asa melalui sumpah pemuda. Bahasa Indonesia adalah aset bangsa yang tidak ternilai harganya, kemampuannya untuk menyatukan suku bangsa yang ada pada Tanah Air kita adalah salah satu kemampuannya yang tidak dapat dinilai dengan uang. Jika mulai dari sekarang kita sudah mampu mengoptimalkan penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik, mampukah kita memprediksi bagaimana Nasib bahasa indonesia dimasa yang akan datang ? Tentunya semoga semakin baik. Semoga saja !


*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fisipol, Universitas Jambi, asal Kabupaten Bungo


Penulis: Daniel Estomihi Purba
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments