Jumat, 24 November 2017

Pahlawan Kekinian Di Tengah Transformasi Penjajahan


Jumat, 10 November 2017 | 11:16:01 WIB


/

PENJAJAHAN di era modern sudah jauh berbeda dari buntuknya pada masa klasik berabad dan berpuluh tahun silam. Bentuk kolonial sudah bertransformasi dalam tampilan yang lebih menarik. Sehingga banyak orang yang tidak lagi menghindari “penjajahan” semacam ini. Justru sebaliknya, menikmati keterjajahan yang sedang menimpanya.

Sejarah telah berlalu. Kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia sudah semakin maju. Perjuangan rakyat Indonesia bukan lagi bicara tentang mengangkat bambu runcing atau menembakkan senjata api.

Perjuangan pada era melenial saat ini tidak bisa lagi disamakan dengan perjuangan di masa klonial. Ancaman yang dihadapi oleh Indonesia bukan lagi penjajahan dalam bentuk fisik. Tantangan saat ini lebih kepada peperangan (red: persaingan) secara ekonomi dan ideologi.
Penjajahan gaya baru.!

Ancaman ekonomi Indonesia salah satu contohnya. Dengan adanya komunitas pasar bebas ASEAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Jika tidak pandai-pandai menghadapi maka otomatis Indonesia akan terjajah oleh produk-produk dari negara lain. Barang dan jasa negara luar akan membanjiri pangsa pasar Indonesia.  Terjajahnya produk barang dan jasa Indonesia.!

Untuk menghadapi penjajahan yang sudah bertransformasi tentu tidak bisa lagi dihadapi dengan cara lama. Cara-cara konfensional tidak lagi ampuh karena penjajahan dalam bentuk baru ini sering mengecoh seolah itu adalah sebuah keuntungan. Namun sebenarnya yang dianggap menguntungkan tersebut adalah sebuah kerugian yang berhasil dikemas dalam bentuk lebih menarik.

Contohnya seperti maraknya berbagai jenis game online yang digandrungi oleh banyak remaja. Game online sebelumnya hanya dapat dimainkan dibeberapa tempat saja seperti di warnet. Kini para remaja sudah dimanjakan oleh berbagai permainan yang dapat dengan mudah diakses melalui telepon pintar. Artinya semakin meningkat jumlah anak-anak muda yang terpapar candu game online.

Secara tidak langsung pikiran, mental, dan karakter generasi muda terjajah oleh kemudahan itu sendiri. Sehingga menjadi pribadi yang piawai menikmati hasil, konsumtif! Tanpa memiliki kemampuan dalam mencipta dan menjalani proses, produktif!

Lalu coba lihat lagi bagaimana berbagai jenis media sosial menguasai Indonesia. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Line, BBM hingga sederet medsos lainnya ada di Indonesia . Berbanding terbalik dengan China yang melarang masuknya hal-hal tersebut. Dengan demikian mendorong anak dalam negeri untuk menciptakan karyanya sendiri. Sehingga jejaring sosial lokal berjaya.

Kita membutuhkan pahlawan-pahlawan kekinian untuk menghadapi tantangan baru. Pahlawan kekinian yang dimaksud penulis bukan dalam artian secara harfiah. Tetapi mewarisi sifat “kepahlawanan” dalam bersikap dan berprilaku. Keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan menjadi tatanan nilai prinsip yang tidak bisa tidak untuk dimiliki.

Bila kita mengambil makna menurut KBBI kata pahlawan memiliki arti yang lebih universal. Diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pejuang yang gagah berani!

Dalam penjelasan atas UU RI No. 20 Tahun 2009 disebutkan yang dimaksud dengan pahlawan nasiona adalah gelar yang diberikan oleh negara. Mencakup semua gelar yang pernah diberikan sebelumnya. Yaitu, Pahlawan Perintis Kemerdekaan, Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Proklamator, Pahlawan Kebangkitan Nasional, Pahlawan Revolusi, dan Pahlawan Ampera.

Bisa dikatakan pahlawan pada masa penjajahan Belanda itu hadir karena keterdesakan. Terdesak karena diperangi selama berabad-abad. Sehingga merasa harus balik melawan. Untuk lepas dari belenggu bangsa asing. Bukan sekedar tetesan air mata, tetapi bergelinang darah. Bukan hanya sirnanya harta benda, tetapi hilangnya nyawa. Tentu semua itu terjadi karena musuh yang dihadapin adalah nyata. Penjajahan yang dideritapun benar-benar dalam bentuk penindasan.

Namun sedari awal penulis mengatakan bahwa penjajahan saat ini berada dalam tampilan yang lebih menarik. Artinya pahlawan yang dibutuhkan juga harus relefan dangan musuh yang dihadapi.

Gambarannya jika virus penyakit yang menyerang tubuh dalam bentuk mikroba dilawan dengan obat antivirus. Maka penangananya akan berbeda jika menghadapi virus yang menyerang perangkat lunak komputer. Virus ini harus diserang dengan antivirus berbentuk aplikasi.

Begitu juga untuk menghadapi penjajahan laten. Pahlawan-pahlawan baru harus hadir. Menumbuhkan rasa sensitifitas karena terdesak hatinya melihat karakter dan mental bangsa yang dirusak secara perlahan. Penjajahan yang seakan-akan tidak ada tetapi ada dalam tubuh kita. Terbuai oleh aneka kemudahan yang menjadi awal tumbuhnya rasa malas. Kejayaan, kenyamanan, dan kebahagiaan semu membuat kita terlena dan melupakan etos kerja dan semangat juang.

Jadilah orang yang tidak mengenal lelah, pekerja keras, bekerja lebih keras dari orang lain. Pada akhirnya sebuah pertanyaan akan siapa pahlawan tersebut? Maka jawabannya adalah saya, anda, dan kita semua. Berpartisipasialah dan berikan sekecil-kecil kontribusi yang dapat kita perbuat untuk mewujudkan masyarakat adil makmur. Negara yang bisa berdiri diatas kaki sendiri.

Penulis adalah Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Jambi.


Penulis: Ozy Noveza
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments