Rabu, 22 November 2017

Efek Kota Panik


Senin, 13 November 2017 | 20:55:53 WIB


/

ORANG Malaysia tidak betah berlama-lama di Jakarta. Pusing mereka kalau di Jakarta. Pusing bukan berarti putar-putar dalam bahasa Malaysia asli, tapi pusing dalam artian bikin kesal. Mereka katakan Jakarta adalah kota panik, karena sering macet.

Bagi mereka yang pernah tinggal di Jakarta, apalagi tidak punya fasilitas kenderaan pribadi, bisa cepat emosian karena stres. Kalau ada masyarakat yang salah jalan atau kurang perhatikan etiket berkendaraan di Jakarta, maka sumpah serapah akan didapatkan. Dalam lagu “Stres” ciptaan Rhoma Irama dikatakan, dikatakan macet terlalu lama bisa bikin stres.

Penulis punya rekan pernah kuliah di Jakarta, kebetulan menghadapi masalah ketika berinteraksi dengan lingkungan kerja dalam organisasi dan lingkungan masyarakat. Bawaannya selalu emosi, ujung-ujungnya ngajak berantam/bertinju. Singkat kata, cara-cara penyelesaian yang dilakukannya tidak mencerminkan lagi sebagai orang yang berpendidikan tinggi, sehingga rasa hormat sayapun jadi berkurang gara-gara gaya preman alias primitif yang lebih ditonjolkannya.  Padahal yang bersangkutan salat lima waktunya tidak pernah ketinggalan dan tepat waktu lagi, juga puasa sunat tidak pernah ketinggalan.

Penulis juga punya tiga orang anak, dan ketiga-tiganya di kuliahkan di Jakarta. Ketika masih di Jambi, mereka anak-anak yang penyabar dan tidak emosian. Namun setelah pulang lagi ke Jambi, gampang sekali tersulut emosi. Bedanya mereka tidak brutal, baru sebatas mulut. Memang dalam agama juga mengajarkan kita, kalau kita marah cukup menyentuh mereka dengan hati, kalau tidak mempan paling keras dengan kata-kata saja.

Namun upayakan dengan bahasa yang asertif, tegas, dan santun. Bukan dengan bahasa yang agresif, yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Seperti seseorang komplain ke BPN, stigma yang sebelumnya selama ini tidak tepat waktu dan prosedur berbelit-belit, walaupun sudah ada perbaikan namun tetap saja ada masyarakat beranggapan berurusan dengan BPN sama saja dengan berhadapan dengan muka tanah. Stigma ini berpengaruh dalam pola komunikasi jika complaint dengan pihak pelayanan di BPN.

Jika dengan kalimat agresif, semula pihak BPN mau menjawab secara baik, tentu akan terpancing untuk meng-counter, bukan lagi sikap melayani. Inilah effek dari komunikasi agresif terhadap lawan bicara. Jika dicari akar penyebabnya, tidak lain karena effek kota panik tersebut.

Bagaimana Kota Jambi?

Akankah kota panik ini terjadi dengan kota Jambi? Fenomena mulai nampak, karena solusi dengan visi untuk jangka panjang sampai sekarang belumlah nampak. Action penguasa kota, baru sebatas pemolesan alias memberi bedak pupur menjadikan kota Jambi menjadi cantik dan sedikit dengan pelebaran jalan kota Jambi  yang dilakukan oleh pemda Provinsi Jambi.

Namun ini hanya bisa bertahan dalam beberapa tahun saja, kemudian macet lagi, ditambah lagi tempat parkir di kota Jambi memang terbatas. Akibatnya ruas pinggir jalan digunakan juga untuk parkir. Akibatnya ruas jalan raya menyempit kembali. Ada tiga opsi jika mau agar Jambi dimasa yang akan datang kota Jambi tidak mau menjadi kota panik seperti Jakarta.

Pertama buat kota baru, tapi benar-benar baru bukan hanya sekedar nama, seperti kota baru sekarang. Nama kota baru tapi fasilitas lama. Buat betul kota baru seperti bukit Jalil di Malaysia, ruang parkir luas dan ditata untuk kota masa depan, lengkap dengan pusat-pusat pelayanan masyarakat serta akses kesana gampang dan yang lebih penting lagi tidak macet.

Kedua. Pindahkan ibukota Jambi ke Muaro Bungo, jelas betul ruang parkirnya masih cukup luas. Kota ini dibangun seolah 30 tahun yang lalu penguasa daerahnya, seolah  sudah paham betul dengan visi membangun kota. Ketika realisasikan fly over, jangan hanya angan-angan. Lihat provinsi tetangga seperti Palembang dan Pakan Baru, pembangunan fly over begitu pesatnya.  

Momentum pemilukada serentak tahun 2018, merupakan momentum memilih pemimpin yang benar-benar memiliki visi yang jauh ke depan. Bukan hanya sekedar memilih pemimpin dengan membanggakan prestasi sekarang dan bukan pula membicarakan asli putera daerah atau bukan. Konkrit,  apa solusinya agar kota Jambi dimasa yang akan datang menjadi kota modern punya daya saing, sehingga layak dikatakan sebagai sebuah kota yang ideal.  

Jika tetangga dari provinsi lain bertandang ke Jambi, tidak mengatakan Jambi masih kalah dengan kota mereka. Hal yang lebih penting kita antisipasi adalah kota Jambi di masa yang akan datang tidak menjadi kota panik yang dapat menjadi masyarakatnya gampang tersulut emosi dengan melakukan tindakan brutal.  

Mari kita berkomitmen untuk memilih pemimpin yang memikirkan agar kota Jambi menjadi kota impian, bukan hanya kota tambal sulam yang menjurus menjadi kota panik. Namun harus diingat, bukan sekedar visi, misi dan programnya saja yang bagus. Lebih penting lagi adalah programnya terukur.

Kepada panelis mari merubah mind set tidak sekedar bertanya visi, misi dan program, tetapi tanyakan secara detail bagaimana mewujudkan program tersebut secara riel. Dari mana sumber dana pembiayaannya dan berapa tahun target penyelesaiannya.

Saya yakin kandidat tidak bisa berbohong lagi ketika debat kandidat. Ingat kota adalah pemilih rational dan kritis, jadi tidak bisa dibohongi lagi, kecuali masyarakat kota yang marginal.

Penulis adalah dosen Fisipol Unja dan Ketua Unja Kampus Sarolangun, serta ketua Pelanta Jambi


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments