Rabu, 22 November 2017

Pilkada Jawa Barat 2018 Sebagai Pertaruhan Partai Golkar


Selasa, 14 November 2017 | 09:57:26 WIB


/

TIDAK terasa tahun depan adalah tahun politik, khususnya bagi Daerah-daerah yang menjalankan pilkada serentak 2018. Pesta demokrasi tahun depan adalah ''pemanasan'' sempurna untuk pertaruhan sesungguhnya, Pemilihan Presiden dan wakil presiden serta pemilihan anggota legislatif 2019.

Untuk Pilkada serentak 2018 akan diselenggarakan 171 daerah, 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Ada beberapa daerah yang dianggap sebagai daerah representatif untuk pilpres 2019 yaitu DKI Jakarta, Jawa barat, Jawa timur dan Jawa tengah. Diantara daerah tersebut baru DKI Jakarta yang telah melaksanakan Pilkada, sementara daerah sisanya baru akan dilaksanakan pada tahun 2018 yang akan datang.

Berbicara mengenai Pilkada Jawa barat tentu akan sangat menarik, bagaimana tidak Jawa barat adalah salah satu daerah politik terbesar, terutama jika menyangkut kepentingan politik nasional. Banyak pengamat beranggapan bahwa pihak yang bisa memenangi pilkada Jabar mempunyai kans yang besar pula untuk memenangi Pilpres atau Pilleg 2019. Apakah hal itu berlebihan? Tidak, karena Jawa barat adalah Provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia (Jumlah penduduk Jawa Barat sekitar 43,02 juta jiwa, Survey BPS 2015).

Sudah ada beberapa bakal calon Gubernur yang muncul untuk pilkada Jabar 2018, sebut saja Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan calon petahanan Wakil Gubernur Jabar saat ini Dedy Mizwar. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA menggelar survei elektabilitas cagub Jabar pada September 2017 lalu. Hasilnya, Ridwan Kamil masih dominan.Hasil survei menunjukkan elektabilitas Ridwan Kamil di atas bakal cagub lainnya, yaitu sebesar 14%. Di posisi kedua ada Deddy Mizwar dengan elektabilitas 5,9%. Di tempat ketiga ada Dede Yusuf 3,7% yang diikuti Dedi Mulyadi 3,1%.

Sejauh ini Ridwan Kamil sudah mengantongi dukungan dari Golkar, Nasdem, PKB dan PPP. Sementara itu Dedi Mulyadi berpeluang diusung oleh PDIP dan Dedy Mizwar hampir pasti dicalonkan oleh duet Gerindra-PKS.

Partai Golkar secara mengejutkan lebih memilih memberikan dukungan kepada Ridwan kamil dibandingkan Dedi Mulyadi sebagai calon Gubernur Jabar 2018, hal ini bisa dibilang mengejutkan karena Dedi Mulyadi merupakan kader asli partai Golkar dan memiliki elektabilitas yang cukup baik di daerah Jawa Barat. Pemberian dukungan Golkar kepada Ridwan Kamil memantik protes keras dari kader-kader Golkar Jabar khususnya simpatisan dan relawan Dedi Mulyadi, mereka menganggap bahwa keputusan Golkar memberikan dukungan kepada Ridwan Kamil sebagai bentuk ketidak percayaan Golkar terhadap kadernya sendiri.

Cukup mengejutkan memang keputusan partai Golkar ini, Golkar sebagai partai besar terlihat seperti "ketakutan" untuk mengusung kadernya sendiri yang notabennya adalah salah satu kader terbaik Golkar di Jawa barat. Dedi Mulyadi yang sekarang menjabat sebagai Bupati Purwakarta dan juga ketua DPD I Golkar Jabar dikenal sebagai tokoh yang cukup terkenal di tanah Pasundan terutama bagi warga pedesaan, hal ini tidak lain karena Dedi sering turun dan aktif di masyarakat dan tidak segan untuk membaur bersama masyarakat. Berbanding terbalik dengan Ridwan Kamil yang identik dengan kepala daerah kekinian dan mewakili masyarakat perkotaan.

Pengamat Politik Jabar Asep Romli mengatakan keputusan Golkar untuk mengusung Ridwan Kamil bisa saja menjadi "blunder" politik untuk Golkar sendiri, hal itu dikarenakan kultur masyarakat Jawa Barat mudah bersimpati bahkan empati dengan orang lain yang sedang dizalimi, dengan pandangan sekarang jelas Dedi mulyadi sedang dizalimi dan bisa saja dukungan masyarakat Jabar berbalik arah mendukung Dedi mulyadi. Melihat dinamisnya perpolitikan di Jawa barat semua kemungkinan masih akan terbuka. Masyarakat akan menilai dan memutuskan apakah pertaruhan yang dilakukan oleh partai Golkar akan berbuah manis atau malah jadi ""senjata makan tuan" untuk Golkar.

Pada akhirnya penulis berharap, pesta demokrasi pada tahun 2018 di Jawa barat dan daerah lainnya dapat terselenggara dengan sebaik-baiknya dan masyarakat dapat berperan aktif dalam memilih pemimpin mereka sendiri, karena pemimpin berkualitas lahir dari pemilih yang cerdas dan sistem yang baik pula. Penulis ingin menyampaikan pesan bagi para calon pemimpin negeri ini, belajarlah untuk mengabdi, memenuhi panggilan negeri.

Penulis adalah Wakil Bupati Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi


Penulis: Deki.R.Abdillah
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments