Senin, 18 Desember 2017

Profesionalisme Kerja Dalam Perspektif Islam


Rabu, 06 Desember 2017 | 11:27:36 WIB


/

PROFESIONALISME kerja merupakan salah satu dari ajaran-ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Istilah professional secara umum dapat diartikan sebagai bentuk melakukan sebuah pekerjaan secara total dan menurut aturan-aturan yang berlaku.

Professional dalam kerja merupakan hal yang sangat dituntut dalam upaya membawa sebuah lembaga atau organisasi baik negeri maupun swasta mencapai tujuan yang telah digariskan.

Dalam Islam salah satu bentuk professional kerja yang dicontohkan oleh Rasulullah pada saat perang Uhud. Kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Karena harta, kondisi semula menjadi terbalik, kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin.

Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat pahit bagi umat Islam karena mereka melalaikan amanah yang diberikan Rasulullah dan tidak professional dalam bekerja akibat terpengaruh godaan harta.

Berdasarkan kisah perang Uhud terlihat bahwa dalam melaksanakan kerja yang telah ditetapkan dan digariskan oleh Rasullulah sebagai pimpinan dalam perang Uhud dilaksanakan secara tidak professional oleh umat muslim yang telah diperintahkan dan diarahkan oleh Rasulullah. Tidak professionalnya kaum muslim saat itu diakibatkan oleh sesuatu yang bersifat duniawi yaitu “godaan harta”. Situasi yang dialami umat muslim pada saat itu, terjadi juga pada saat sekarang namun pada case yang berbeda.

Pada masa sekarang “godaan harta dan nepotisme” memberi pengaruh besar dalam menentukan dan melakukan kerja. Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam.

Sebagai muslim, tentunya kita sepakat untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna). Ini mengidentifikasikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia, mulai dari perkara duniawi hingga persiapan kita untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan duniawi di akherat nanti.

Dalam Islam, orang yang melakukan suatu pekerjaan sangatlah dituntut untuk berlaku sesuai profesinya masing-masing dan peringatan keras bagi mereka yang tidak mengindahkan himbauan ini sebagaimana sabda Rasulallah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari : Rasulullah SAW bersabda: “Jika sebuah urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”(HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Profesional ini sangat penting karena menduduki posisi penting kecintaan Allah SWT pada mereka yang bekerja dengan professional. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka ia itqan (professional) dalam pekerjaannya.”(HR Baihaqi dari Aisyah r.a). dalam konteks hadis diatas, semakin menjelaskan kepada kita, bahwa Islam adalah agama yang meletakan dan menekankan nilai-nilai profesionalitas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan oleh umatnya.

Gagasan yang terkandung dalam ajaran keagamaan merupakan titik tolak untuk melakukan suatu tindakan terhadap sesama manusia, lingkungan sekitarnya dan ciptaan Tuhan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu berusaha meningkatkan faktor-faktor yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan atas dirinya sendiri, walaupun faktor-faktor tersebut sangat sulit memperolehnya dengan jalan yang jujur dan benar.

Dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan antara keinginan atau kebutuhan atau dengan kata lain terjadi pertentangan (konflik) antara kebutuhan batin dengan kebutuhan fisik. Pada keadaan yang lebih makro, konflik dapat terjadi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, karena perebutan faktor pemuas kehidupan yang sangat terbatas dan memperolehnya memerlukan teknik dan metode tertentu, baik sesuai norma-norma maupun yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku pada mereka.

Budaya tersebut mengidentifikasikan ketidak professionalan kerja yang dilakukan oleh individu sebagai makhluk ciptaan Allah yang seharusnya menempatkan dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan aturan dan petunjuk pelaksanaan.

Bila nepotisme dan suap menjadi azas dalam dunia kerja, maka pegawai yang diterima  tidak lagi  professional dan transparan, tidak lagi berdasarkan kualifikasi yang benar. Sehingga terjadilah ketidak adilan, dimana orang-orang yang memenuhi syarat terzhalimi dan orang yang seharusnya pantas memegang amanah pekerjaan dan jabatan, tersingkirkan.

Lalu, apa yang bisa diharapkan dari bentuk tidak profesionalnya individu yang berkuasa? Mengapa ke-empat karakter (sidiq, amanah, fatonah, tabliqh) yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah tidak mampu diterapkan untuk meningkatkan professional kerja? Ini menjadi tanggungjawab para individu yang berkuasa dalam menjalankan roda-roda kekuasaannya.

Ajaran agama dan nilai moral seolah tidak lagi mempan membendung kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme serta menghindarkan umat manusia dari kecenderungan berkhianat, menyimpang dan berdusta. Nasehat agama dan para tokoh agama kehilangan wibawa, moral dan ritual ibadah mandul tidak memberi pengaruh pada perilaku keseharian. Seharusnya setiap ibadah mampu merubah perilaku lebih bagus dan mental lebih baik sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla tentang shalat, “ Sesungguhnya shalat itu mampu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Al-Ankabut 29:45).

Namun catatan kejahatan agama, moral dan kemanusiaan tidak berkurang.Sebab utama adalah keimanan yang lemah, kesempatan terbuka lebar, lingkungan yang mendukung dan sanksi hukum yang tidak tegas terhadap pelaku bahkan sebagian pelakunya ada yang tidak tersentuh hukum sama sekali. Jadi, benar apa yang dikatakan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar maka shalatnya tidak bisa disebut shalat bahkan akan menjadi bumerang bagi pelakunya.

Dosen Luar Biasa Fak. Syariah UIN. STS JAMBI


Penulis: Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments