Senin, 18 Desember 2017

Gaya Konsumtif Generasi Millenial


Rabu, 06 Desember 2017 | 14:43:43 WIB


/

GENERASI milenial adalah anak muda yang lahir pada rentan tahun 1980-an hingga 2000-an. Mereka akan menjadi yang terbesar pada tahun 2020. Kemahirannya menggunakan teknologi karena terlahir dan dibesarkan dengan internet dan piranti cerdas lainnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Generasi milenial hidup di era media sosial dan digital.

Apa-apa serba pamer dan diunggah ke media sosial. Oleh sebab itu, kebutuhan kongkow, belanja, smartphone baru, secangkir kopi mahal, hingga kartu kredit sudah menjadi kehidupan sehari-hari bagi generasi milenial. Pakar Perencana Keuangan Universitas Indonesia (UI) Zaafri Husodo membenarkan generasi milenial memiliki gaya hidup dan karakteristik kehidupan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kebiasaan hidup konsumtif dan modernisasi serta hedonisme membuat generasi milenial lupa diri untuk menabung bahkan berinvestasi.

Generasi milenial dikenal lebih senang mengerjakan sesuatu yang simpel atau instan. Uang mereka juga lebih banyak dihabiskan untuk makan di restoran atau nongkrong di kafe ketimbang harus bersusah payah memasak makanannya sendiri di rumah. Selain menghabiskan porsi uang mereka dalam jumlah banyak untuk makan di restoran, uang mereka banyak dihabiskan untuk membeli peralatan elektronik dan juga pakaian sesuai hobinya.

Generasi milenial cenderung menjadi sangat konsumtif seiring dengan berkembangnya teknologi. Seakan-akan teknologi telah menguasai hidup mereka. Apa saja yang dikerjakan pasti ada kaitannya dengan teknologi.

Gaya konsumtif generasi milenial sangat berbeda jauh dengan generasi zaman dahulu. Kalau orang dahulu jika ingin membeli sesuatu benar-benar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sangat dibutuhkan untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini berbanding terbalik dengan generasi milenial, mereka hanya memikirkan sesuatu hanya untuk kesenangan sementara.

Menurut teori Baudrillard, kini logika konsumsi masyarakat milenial bukan lagi berdasarkan use value atau exchange value melainkan hadir nilai baru yang disebut symbolic value. Maksudnya, orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan nilai tukar atau nilai guna, melainkan karena nilai tanda / simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.

Hal ini disebabkan karena beberapa bagian dari tawaran iklan justru menafikan kebutuhan konsumen akan keunggulan produk, melainkan dengan menyerang rasa sombong tersembunyi dalam diri manusia, produk ditawarkan sebagai simbol prestise & gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya.

Dari sinilah terjadi percampuran antara kenyataan dengan simulasi dan menciptakan hiperrealitas di tengah masyarakat, dimana yang nyata dan tidak nyata menjadi tidak jelas. Media secara perlahan membuat masyarakat jauh dari kenyataan, kemudian masyarakat secara tidak sadar akan terpengaruh oleh simulasi dan tanda (simulacra) yang ada di tengah-tengah kehidupan mereka.

Periode simulasi adalah ketika terdapat hal yang nyata dan tidak nyata. Hal yang nyata diperlihatkan melalui model konseptual yang berhubungan dengan mitos, yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Segala sesuatu yang menarik perhatian masyarakat konsumen (seperti seni ataupun kebutuhan sekunder) ditayangkan media dalam bentuk dan model-model yang ideal.

Banyak survei yang telah dilakukan dan hasilnya menyatakan bahwa generasi milenial saling bersaing dalam mengkonsumsi sesuatu. Rasa tidak mau kalah dari orang lain sudah tertanam dalam diri mereka. Sesuatu yang dikonsumsi tidak lagi sesuai dengan kebutuhannya melainkan untuk sekedar pamer dan klise semata.

Barang yang dikonsumsi hanya untuk memperlihatkan kepada orang bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain yang tujuannya bukan untuk memenuhi kebutuhannya tetapi hanya membeli symbol atau merk.

Generasi milenial banyak yang terpengaruh dengan hanya melihat merk saja, mereka gengsi jika tidak memiliki merk yang terkenal yang hanya bisa didapat oleh beberapa orang saja. Mengkonsumsi suatu barang bagi generasi milenial sudah tidak lagi melihat apa kegunaan dan manfaatnya, tetapi hanya ingin memperlihatkan kepada teman sebayanya bahwa dia memiliki barang yang tidak di miliki orang lain. Hal ini berakibat adanya cemburu sosial antara satu orang dengan orang lainnya.

Gaya konsumtif generasi milenial dapat membuat perubahan sosial yang sangat pesat di abad ke-21 ini, mereka membuat semua kalangan menjadi saling bersaing untuk memiliki suatu barang yang hanya melihat pada merk tetapi tidak pada manfaatnya dan sesuai kebutuhan. Untuk bias mengurangi gaya konsumtif tersebut, sebagai oangtua harus bisa memberikan edukasi kepada anak-anak mereka untuk mengkonsumsi suatu barang harus sesuai kebutuhan, tahu apa manfaat dari barang tersebut dan juga tidak boros dengan membuang-buang uang untuk membeli suatu barang yang tujuannya hanya untuk memiliki merk ataupun simbol semata.

Sebagai generasi milenial juga harus bisa membedakan barang yang hanya menjual merk saja dengan barang yang dibeli sesuai kebutuhan dan memiliki manfaat untuk ita dan orang lain. Gaya konsumtif generasi milenial dapat diubah dengan hal yang terkecil seperti tidak mudah terpengaruh dengan apa yang dimiliki orang lain tanpa mengetahui apa manfaatnya, dari cara seperti ini kita sebagai generasi milenial dapat memilah-milah mana yang sangat kita butuhkan dan mana yang hanya untuk kesenangan sesaat.

Dimulai dari sekarang kita harus bisa membedakan itu semua, jangan dibiarkan gaya konsumtif yang berlebihan merusak masa depan kita. Jadilah generasi milenial yang membawa perubahan untuk masa depan dengan tidak memikirkan kesenangan yang hanya bertahan untuk sesaat saja.

Penulis merupakan Mahasiswi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi


Penulis: Ovinda Maitriana
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments