Selasa, 16 Januari 2018

Potensi Ekonomi Kreatif Dalam Membangun Ekonomi Jambi


Sabtu, 23 Desember 2017 | 21:11:29 WIB


/

BELUM lama ini, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, mengingatkan agar provinsi yang lebih mengandalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Sumber Daya Alam (SDA) harus mulai menemukan dan merancang sebuah strategi jangka panjang alternatif PAD baru. Tujuannya agar dapat terus menyokong pembangunan daerah.

Apalagi seperti kita ketahui, hampir 60 persen tingkat ketergantungan Provinsi Jambi pada SDA. Ini akan bisa menjadikan perekonomian lebih rentan dikarenakan harga komoditas menyesuaikan harga pasaran dunia.

Potensi ekonomi kreatif boleh jadi adalah solusi alternatif yang tepat untuk didorong memajukan perekonomian. Jika kita melihat data statistik ekonomi kreatif Indonesia, terlihat dengan jelas sebuah peningkatan yang signifikan dari tahun 2010 hingga 2015, Produk Domestik Bruto (PDB) naik rata-rata 10,14 persen setiap tahun dengan nilai 525, 9 triliun menjadi 852,2 triliun.

Potensi ekonomi ini jelas tidak main-main. Apalagi, industri pariwisata, sekarang sedang digenjot oleh pemerintah. Dan, sektor ekonomi kreatif sangat terkait dengan pariwisata.

Dari data yang dipaparkan, ada 3 subsektor ekomi kreatif yang berkontribusi besar yaitu kuliner 41,6 persen, busana 18,1 persen, dan kriya (kerajinan) 15,7 persen. Nilai ekonominya berkisar 7,3 persen sampai 7,6 persen secara nasional.

Dan, pada tahun 2016 realisasi kegiatan direktorat riset dan pengembangan ekonomi kreatif peringkat pertama adalah kuliner dengan 73,4 persen, busana 42,8 persen dan kriya 40,6 persen.

Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, Pemerintah Provinsi Jambi mulai sekarang harus jeli memfokuskan pada sektor apa saja yang bisa lebih tepat untuk diterapkan di masyarakat agar mendorong PAD yang besar.

Pengembangan ekonomi kreatif saat ini tentu saja sebaiknya memanfaatkan inovasi teknologi agar lebih cepat merambah pasar yang lebih luas dan mendorong masyarakat melek teknologi.

Penggunaan aplikasi yang dapat diunduh dan laman untuk informasi sangat berperan penting dalam mengenalkan produk dan jasa. Inilah peranan pemerintah daerah untuk ikut terus melakukan sosialisasi dan edukasi di tengah masyarakat agar segera manangkap peluang ekonomi kreatif ini dengan cepat.

Khusus kaum muda, yang sering disebut dengan generasi milenial, dapat memanfaatkan kesempatan ini, karena lebih cepat beradaptasi dengan teknologi.

Jika kita melihat potensi wisata di Provinsi Jambi, cukup banyak yang bisa dijadikan objek wisata yang menarik. Siapa yang tidak mengenal Candi Muaro Jambi, Geopark Merangin, ataupun sungai terpanjang di Sumatera yaitu Batanghari.

Dalam meningkatkan kunjungan , pemerintah punya peranan penting membangun infrastruktur menjadi lebih baik, promosi yang masif, dan menggandeng komunitas ataupun pegiat wisata agar ekosistem pariwisata tercipta dan saling bersinergi.

Dengan banyaknya pelancong, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan mulai menggeliat. Tidak hanya 3 subsektor saja, ini juga akan menstimulus kegiatan pariwisata lain yang biasa dikenal dengan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exibition).

Kegiatan ini akan banyak  menimbulkan efek domino ekonomi yang juga akan menyerap tenaga kerja cukup besar seperti hotel, transportasi, agen wisata, biro perjalanan wisata, percetakan dan lain-lain.

Potensi sumber daya manusia di Provinsi Jambi sekarang juga sedang mengalami puncaknya, yang biasa disebut dengan bonus demografi.

Jambi telah mengalami bonus demografi sejak tahun 2015 yaitu berada pada angka 47,3 persen dan tahun 2020 sekitar 46,4 persen.

Angka ini menunjukkan, tingkat penduduk berusia produktif lebih banyak daripada tidak produktif. Artinya, struktur kependudukan masyarakat di Provinsi Jambi yang berusia produktif layak kerja berusia 15-64 tahun lebih besar.

Ini juga dapat diterjemahkan dengan sederhana, ada 10 orang usia produktif layak kerja hanya menanggung 3-4 orang tidak produktif. Karena itu, tidak heran tingkat penganguran terbuka pada tahun 2017 di Provinsi Jambi berada pada kisaran 109,4 ribu jiwa.

Jika ini tidak segera dilakukan langkah yang konkret dan efektif , akan bisa menimbulkan bencana ekonomi. Tapi kabar baiknya,   berdasarkan penelitian negara-negara yang telah berhasil memanfaatkan usia produktifnya seperti Korea Selatan dan Jepang, akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang besar seperti saat sekarang.

Momentum ekonomi kreatif dan pariwisata sudah saatnya menjadi primadona baru dalam pembangunan ekonomi daerah yang selama ini di manjakan oleh SDA. Apalagi usia produktif sangat mendukung.

Alhasil, jika ini mampu segera direalisasikan, tidak hanya sekedar mengurangi pengangguran tapi juga meningkatkan PAD. Ibarat pepatah lama, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Semoga.

*) Pemerhati Isu Bonus Demografi Indonesia (www.bonusdemografi.com) dan Pengembang aplikasi wisata setrip (www.setrip.id)


Penulis: Bernard M
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments