Jumat, 19 Januari 2018

Jerusalem Dari Masa Ke Masa


Kamis, 21 Desember 2017 | 10:43:39 WIB


/

MENYIMAK berita di berbagai media massa baik cetak maupun elektronik didominasi oleh gerakan protes terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trumph, yang mengakui bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel.

Pidato Trumph ini kemudian memicu polemik dan gelombang protes di seluruh dunia terutama Negara-negara Arab dan umat Islam. Gelombang demonstrasi menentang Amerika bahkan masih terus berlangsung sampai saat ini. Konflik antara rakyat Palestina dan tentara Israel pun meruncing kembali. Tulisan ini akan mengeksplorasi mengapa Jerusalem menjadi kota idaman dan rebutan antara Israel dan Palestina.  

Sejarah penting Jerusalem dimulai dari para Nabi terdahulu yakni Nabi Yakub yang dikenal sebagai Israel, sehingga bani Israel adalah keturunan Nabi Yakub yang menjalankan misinya hanya tiga abad sebelum kelahiran Isa al-masih. Pada masa selanjutnya, Israel membentuk komunitas besar di Mesir sampai akhirnya Musa memimpin Bani Israel meninggalkan perbudakan di negeri Fir’aun itu dan menyeberangi gurun pasir menuju tanah yang dijanjikan.

Setelah wafatnya Musa, Joshua menjadi pemimpin Bani Israel dan membawa mereka menuju tanah yang dijanjikan melalui Yordania. Pada tahun 1010 SM di bawah pimpinan Nabi Daud, mereka berhasil mendirikan Baitul Muqaddas.

Pasca Nabi Daud, Baitul Muqaddas dikelola oleh Sulaiman AS selama beberapa tahun, namun sayangnya sepeninggalnya penindasan dan penjarahan terhadap Bani Israel terulang kembali.

Pada tahun 703 SM, Raja Salmenesser menginvasi Israel dan menempatkan orang-orang Babilonia di wilayah tersebut. Selanjutnya, pada tahun 586 SM wilayah kaum Yahudi ini diserang lagi oleh Nebukadnezzar II (605-562 SM).

Selama penyerangan ini sebagian besar penduduk diusir dan dipenjarakan, sehingga kerajaan Yahudi digulingkan dan kuil yang dibangun oleh Sulaiman diruntuhkan. Berdasarkan tragedi tersebut, para nabi kaum Yahudi berikutnya seperti Jeremiah, Isaiah, dan Daniel, menghibur kaum Yahudi yang mengalami penderitaan, pemenjaraan, dan penghancuran kota Jerussalem yakni dengan menjanjikan pembebasan kepada mereka dan memberikan kabar gembira tentang akan datangnya juru selamat (messiah). Harapan mereka terwujud dengan penaklukan oleh Cyrus yang membebaskan mereka dari tahanan dan memperbolehkan mereka tinggal di sana.    

Kedamaian Jerussalem berlangsung hingga akhir kekuasaan Darius III ketika Palestina ditaklukkan oleh Aleksander Agung dari Macedonia (333 SM). Kemudian pada periode selanjutnya Palestina didominasi oleh para penakluk Romawi yang dipimpin oleh Pompey.

Ia memerintahkan untuk membunuh penduduk lokal dan menghancurkan kota Jerussalem sehingga konon ribuan orang Yahudi terbunuh.  Pemerintahan Romawi yang represif menimbulkan pemberontakan kaum Yahudi.

Pada 70 SM, Kaisar Titus (anak tertua Kaisar Vespasianus) melakukan gempuran terhadap kaum Yahudi yang menyebabkan mereka terpencar untuk kedua kalinya dalam sejarah. Dilema kaum Yahudi masih belum berakhir sampai pada kurun 300 M, ketika Kaisar Constantine (306-337 M) berkuasa.

Pada masanya, agama Nasrani dijadikan sebagai agama resmi negara dan Jerusalem dipugar kembali serta dijadikan sebagai kota suci umat Nasrani. Bahkan selama lebih dari lima abad kemudian, Kaisar Hadrian membangunnya sebagai koloni Romawi dan melarang semua orang Yahudi masuk ke sana.

Jerussalem Setelah Datangnya Islam

Selama tiga belas tahun pertama kenabian, Masjidil Aqsha di Jerussalem dijadikan kiblat salat pertama bagi umat Islam. Ketetapan ini baru mengalami perubahan ketika turun wahyu untuk mengganti arah kiblat ke Masjidil Haram (Kakbah) di Makkah pada tahun 2 hijriah.
Masjid ini juga menjadi situs Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha. Untuk itu posisi Jerussalem menjadi sangat penting sebagai salah satu kota suci bagi umat Islam setelah Makkah dan Madinah.

Jerussalem baru dapat ditaklukkan dan menjadi wilayah kekuasaan Islam sejak masa khalifah Umar bin Khatab. Pada masa kepemimpinannya, terjadi serangkaian penaklukan ke beberapa wilayah sekitar Jazirah Arab seperti Iraq, Syiria, dan Mesir dengan memperoleh kemenangan yang gemilang.

Mereka berhasil menaklukan Persia pada Perang Qadisiya yang berlangsung pada 637 M. Berselang dua tahun kemudian, Jerusalem dapat ditaklukkan pula sehingga seluruh Palestina menjadi daerah kekuasaan Islam (Armstrong, 2002:  35).  

Dengan otoritas khalifah, kaum Yahudi diperbolehkan untuk kembali ke kampung halaman mereka dan dijamin kebebasan serta kemerdekaan mereka dalam beribadah. Begitu pula dengan kaum Nasrani. Tidak ada lagi kelompok yang diabaikan dan diintimidasi dalam mempertahankan keyakinan mereka.

Sejak saat itu hingga beberapa abad, Palestina menjadi wilayah kekuasaan Islam dengan mayoritas penduduk bangsa Arab (Esposito, 2004: 21).Berdirinya Negara Israel menjadi pemicu konflik yang tak berkesudahan antara palestina dan Israel. Ide penyatuan komunitas Yahudi sedunia dipicu oleh tulisan Theodore Herzl, seorang jurnalis Venesia (1860-1904) dalam bukunya “The Jewish State” yang dipublikasikan pada tahun 1896.

Sejumlah kaum Yahudi mulai mengambil langkah menegakkan Negara Yahudi dengan menyelenggarakan Kongres Zionis sedunia pertama di Basel, Swiss. Mereka mendirikan Organisasi Zionis Sedunia (World Zionist Organization) yang menyerukan kepada bangsa Yahudi agar mendirikan tanah air atau tempat tinggal untuk kaum Yahudi di Palestina (Meuleman, 2002: 22).

Langkah mereka didorong dan didukung oleh pemerintahan Lyold George di Inggris dan beberapa tokoh berpengaruh di Amerika. Pada puncaknya, November 1917 dideklarasikan Deklarasi Balfour yang disusun oleh Lord Balfour (Sektretaris Luar Negeri Inggris) yang berisi tentang dukungan bagi berdirinya Negara Yahudi di wilayah Palestina dengan Chalm Weizmann sebagai presiden pertamanya (1874-1952).

Pemerintahan Inggris memberikan izin masuk dan memperoleh tanah di Palestina, melindungi komunitas Yahudi dari kerusuhan, serta mengizinkan pengorganisasian institusi politik Yahudi dan pembentukan angkatan bersenjata Yahudi (Reich, 1980: 274). Di bawah kekuasaan Inggris, komunitas Yahudi tumbuh dengan pesat dan semakin mempersempit wilayah Palestina.

Dari eksplorasi sejarah di atas, Jerusalem menjadi kota penting bagi tiga agama monoteisme yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ketika salah satu entitas agama tersebut mengklaim secara sepihak maka akan memunculkan konflik. Padahal menurut konsesi internasional, Jerusalem adalah corpus separatum yang tidak dimiliki Israel.

Oleh karena itu, pidato Donald Trump pada 6 Desember bahwa Jerussalem menjadi ibukota Israel jelas melukai rakyat Palestina. Langkah krusial yang sangat dikhawatirkan oleh umat Islam adalah pembongkaran Masjidil Aqsa dan pemugaran kembali kuil Sulaiman yang diperkirakan satu lokasi dengan Masjid Al Aqsa, masjid terpenting ketiga bagi umat Islam. Issue Jerussalem sesungguhnya adalah kunci perdamaian antara Israel-Palestina.

Wallahu a’lam

Dosen Ilmu Pemerintahan Fakultas Syariah UIN STS Jambi


Penulis: Ulya Fuhaidah, S.Hum MSI
Editor:


TAGS:


comments