Selasa, 22 Mei 2018


Episode Jambi Tuntas yang (Akan) Tuntas?


Senin, 05 Februari 2018 | 14:40:31 WIB


/

”Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”. Kalimat Bung Karno tersebut merupakan gambaran bagaimana kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan.

Jika direnungkan kata-kata itu mengandung arti yang sangat dalam. Para orang tua mempunyai kemampuan memajukan bangsa tetapi pemuda yang masih energik baik secara fisik dan pikiran dapat mengubah bukan hanya bangsa tapi juga dunia.

Seorang pemuda diharapkan mampu memberi kemajuan bagi bangsa dan negaranya. Dan seorang pemuda yang tampil menjadi pemimpin akan lebih idealis, semangat tinggi, energik dan mampu memberikan terobosan segar dalam menjalankan roda pemerintahan menjadi lebih baik.

Kemampuan anak muda tidak diragukan lagi. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak pemimpin muda di dunia. Tidak hanya bermodal nekat, namun juga memiliki kemampuan yang mengantarkan nama mereka tercatat dalam tinta emas sejarah.

Sudah bukan rahasia lagi kalau pemuda Indonesia selalu mengambil bagian dalam setiap peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia.

Resmi dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara pada tanggal 12 Februari 2016, telah membuat gubernur Jambi Zumi Zola menjadi salah satu gubernur termuda di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Zumi Zola pun menjadi sorotan publik dan dianggap sebagai gubernur paling ganteng se-Indonesia. Hastag#GubernurKeren juga sempat menjadi trending topic. Warga Jambi begitu bangga memiliki seorang gubernur terganteng dan termuda di Indonesia.

Penulis kemudian mengingat-ingat kembali program Jambi Tuntas 2021 yang digagas Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi, H. Zumi Zola-Fachrori Umar. Memaknai Jambi Tuntas yakni terwujudnya Provinsi Jambi yang Tertib, Unggul, Nyaman, Tangguh, Adil dan Sejahtera.

Adapun visi Jambi yang Tertib, mencakup tata pengelolaan pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel. Terciptanya hubungan harmonis antara pemerintah kabupaten/kota dengan provinsi untuk mewujudkan pemerataan pembangunan.

Terwujudnya kesadaran dan ketaatan publik terhadap perundang-undangan.
Visi Provinsi Jambi yang Unggul, terwujudnya kualitas sumber daya manusia dan daya saing daerah. Terpenuhinya pelayanan dasar yang berkualitas. Berkembangnya industri hilir yang dapat meningkatkan kualitas produksi dan penciptaan lapangan kerja.
Visi Provinsi Jambi yang Nyaman, terwujudnya sebagai daerah yang nyaman untuk berinvestasi dari dalam maupun luar negeri. Terwujudnya kehidupan masyarakat aman, tenteram dan bebas dari konflik.
Visi Provinsi Jambi yang Tangguh, terwujudnya kemandirian ekonomi masyarakat yang siap menghadapi globalisasi. Tumbuh dan berkembangnya produktivitas ekonomi rakyat. Berkembangnya industry hilir yang dapat meningkatkan kualitas produksi dan penciptaan lapangan kerja.
Visi Provinsi Jambi yang Adil adalah meningkatnya anggaran daerah yang pro rakyat, terwujudnya pemerataan pembangunan sesuai dengan pengembangan potensi daerah. Penciptaan ruang pembangunan agraria yang lebih adil bagi rakyat. Pelayanan informasi publik yang berimbang dan transparan.
Visi Provinsi Jambi yang Sejahtera berupa visi meningkatnya indeks masyarakat Jambi. Menurunnya rasio kemiskinan. Terpenuhinya pelayanan kebutuhan dasar masyarakat. Meningkatnya pendapatan dan ekonomi masyarakat. Meningkatnya kesejahteraan sosial.
Seperti teori-teori ilmu politik dan ilmu pemerintahan yang terdapat di buku-buku dan bangku kuliah, visi dan misi program Jambi Tuntas hanya sekedar retorika atau macan kertas. Rendahnya serapan anggaran dan cucuk cabut kepala dinas adalah problem terbesar dalam menjalankan visi misi itu.
Euforia masyarakat Jambi akan sosok gubernur dan program kerjanya berubah menjadi sebuah kekecewaan dan cenderung ketidakyakinan atas apa yang tengah terjadi di masa pemerintahan gubernur Zola, yang dalam kurun waktu dua tahun pemerintahannya telah melibatkan banyak pihak dalam dugaan “pesta korupsi”.
Hal ini membuka kembali ingatan penulis ketika gubernur Zola dalam sesi tanya jawab pemilihan calon gubernur Jambi waktu itu, pernah menanyakan kepada gubernur petahana (HBA) terkait adanya lima pejabat HBA dengan posisi penting dan strategis yang menjadi tersangka korupsi, dalam pertanyaan tersebut Zumi Zola yang pada saat itu masih sebagai kandidat gubernur Jambi terlihat sangat antusias untuk mengubah keadaan Jambi menjadi lebih baik yang bebas dari budaya korupsi.
Namun, dengan adanya pernyataan resmi KPK pada hari Jumat tanggal 3 Februari 2018 menyatakan bahwa Gubernur Zumi Zola dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus uang ketok palu APBD menyusul keempat pejabatnya yang tertangkap tangan KPK membuat penulis bahkan mungkin masyarakat Jambi syok bahkan mungkin masih banyak yang tidak percaya akan hal tersebut mengingat gubernur Jambi berasal dari keluarga pengusaha yang kaya raya dan dalam awal pemerintahannya terlihat gebrakan-gebrakan yang dilakukannya untuk mengubah provinsi Jambi menjadi lebih baik serta berbagai penghargaan yang diperolehnya selama berkecimpung di dunia politik, cukup mengundang decak kagum masyarakat Jambi seperti melakukan sidak dan marah besar di RSUD Raden Mattaher, melakukan sidak di DPU Provinsi Jambi dan di kantor Samsat yang berujung aksi pemecatan 20 orang pegawai Samsat serta aksi memberhentikan 30 orang lebih dari jabatan Kepala Dinas di lingkungan pemerintahannya, berakhir dengan status tersangka hasil pengembangan operasi tangkap tangan keempat pejabatnya. Inilah salah satu contoh jika uang menjadi landasan utama untuk memperoleh kekuasaan dan jabatan. Jika kekuatan uang yang menjadi faktor utama untuk menentukan seseorang untuk memegang kekuasaan atau jabatan, maka kedaulatan rakyat akan dinafikkan berganti dengan kepentingan pribadi atau golongan. Mampukah anak muda melawan praktik-praktik politik uang yang merusak demokrasi? Dan adakah orang tua yang tidak mewarisi budaya korupsi yang dapat dibuktikan dengan ucapan yang di imbangi dengan perbuatan bagi generasi millennial?

Wallahu A’lam

***

Penulis adalah Dosen Luar Biasa Fak. Syariah UIN STS JAMBI


Penulis: Yulfi Alfikri Noer S.IP.,M.AP
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments