Sabtu, 24 Februari 2018

Kasus Zumi Zola dan Kebiasaan Penghakiman Publik


Senin, 05 Februari 2018 | 16:52:15 WIB


/

NEGERI Jambi yang terkenal damai dan tentram mendadak gaduh, penyebabnya tak lain penetapan tersangka Gubernur Jambi oleh KPK terkait kasus suap uang ketok palu R-APBD Provinsi Jambi tahun anggaran 2018 dan dugaan gratifikasi sejumlah proyek yang ada di Provinsi Jambi.
Tidaklah berlebihan rasanya penulis bahwa kejadian tersebut membuat gaduh masyakat Jambi yang biasanya jarang mendapat ekspos publik apa lagi berkaitan dengan kasus korupsi.

Penetapan tersangka Zumi Zola merupakan pengembangan dari hasil OTT KPK di Jambi pada tanggal 28 November 2017 yang lalu, dalam OTT tersebut KPK berhasil menyita barang bukti berupa uang berjumlah 4,7 miliar dari total 6 miliar. kejadian tersebut membuat kegaduhan yang luar bisa bagi masyarakat Jambi, apa lagi Jambi selama ini dikenal sebagai daerah yang jarang sekali terdapat kegaduhan.

Zumi Zola merupakan Gubernur yang sangat familiar di kalangan generasi millenial daerah Jambi. Latar belakangnya sebagai seorang artis dan memiliki fisik yang rupawan sangat mendukung kepopulerannya tersebut belum lagi dia merupakan anak dari mantan Gubernur Jambi dan juga tokoh masyarakat Jambi Zulkifli Nurdin. Zola mengawali karir politik dengan menjadi Bupati Tanjung Jabung Timur priode tahun 2011, karir politiknya semakin cemerlang ketika pilkada Jambi tahun 2015 yang lalu dirinya yang berpasangan dengan Fachrori Umar berhasil terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi priode 2016-2021.

Penetapan tersangka Zumi Zola ini membuat kritik kepadanya semakin keras berdatangan, apa lagi selama hampir 2 tahun kepemimpinannya banyak pihak belum merasakan dampak nyata dari hasil kerja Zumi Zola yang memang banyak sekali mendapat kritikan. Gaya kepemimpinan Zumi Zola memang gemar sekali menyapa masyarakat terutama kaum millenial dan kaum hawa, setiap kali Zola mengadakan kunjungan kerja ke daerah pasti akan selalu ramai dengan masyarakat yang sekedar ingin bersalaman atau berselfie ria dengan Gubernur ganteng tersebut.

Kasus ini tentunya sangat merugikan bagi Partai Amanat Nasional (PAN) apalagi di tahun politik ini mengingat Zola adalah sebagai salah satu kader terbaik PAN yang berhasil menjadi salah satu Gubernur termuda di Indonesia. Image politik partai PAN bisa saja menjadi terganggu apa lagi di Provinsi Jambi PAN merupakan partai yang sangat populer dan tentu saja Zumi Zola menjadi magnet utamanya. Pada tahun 2018 ini, Jambi akan melakukan pilkada serentak di tiga kabupaten dan kota yaitu kota Jambi, kerinci dan merangin pastinya kasus ini sedikit banyak akan mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap kader-kader yang didukung oleh partai PAN.

Zumi Zola saat ini memang menjadi fenomena politik yang menarik di daerah Jambi, banyak masyarakat yang mengkritiknya karena dia dianggap terlibat dalam kasus ini namun tidak sedikit pula yang kemudian masih mendukung beliau walau saat ini dirinya sudah ditetapkan menjadi tersangka kasus korupsi. Bagaimana pun memang kita tetap harus menetapkan asas pra duga tak bersalah kepada Zola karena sebelum ada putusan resmi dari pengadilan Zola tidak bisa dikatakan bersalah, apa lagi saat ini Zola masih banyak tahapan dan proses yang harus dilalui tentunya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat kerap kali melakukan penghakiman publik kepada kepala daerah yang tersandung kasus korupsi, apa lagi jika kepala daerah tersebut memiliki popularitas yang tinggi seperti Zumi Zola contohnya, baru ditetapkan sebagai tersangka sudah banyak masyarakat yang menjustifikasi bahwa Zola adalah pelaku korupsi padahal kita tau ada begitu banyak mekanisme yang harus dilalui untuk mengetahui seseorang bersalah atau tidak.

Tentunya penghakiman publik ini dampak buruk bagi kepala daerah tersebut, terlebih jika nanti di pengadilan dirinya tak terbukti bersalah namun image yang sudah terlanjur buruk menjadi susah untuk diperbaiki kembali.

Kita sebagai masyarakat seharusnya dapat dengan bijak menyikapi sebuah kasus terlebih kasus yang berkaitan dengan korupsi merupakan kasus yang sensitif bagi image seseorang di tengah masyarakat terutama bagi pejabat publik setinggi Gubernur. Kita tentunya dapat melihat dan memantau kasus yang berkembang tanpa harus membuat spekulasi berlebihan dan yang lebih parah membuat kesimpulan bagi seseorang yang belum jelas bersalah atau tidak. Penulis bukan merupakan simpatisan Zumi Zola, namun penulis berkeinginan masyarakat dapat merubah pandangan serta bagaimana sikap menyikapi sebuah persoalan.

Pada akhirnya mempunyai harapan kepada penegak hukum dan masyarakat umumnya. Penegak hukum diharapkan dapat adil dalam menangani kasus ini, jangan pandang bulu dalam menegakkan keadilan di negeri ini. Hukumlah yang bersalah dan ungkaplah kebenaran yang sebenarnya. Kepada masyarakat Jambi Khususnya, kita cukup melihat dan mengawasi jalannya kasus ini, tahan semua dugaan dan spekulasi yang berlebihan. Bersama-sama kita menjadi masyarakat yang cerdas dan kritis dalam menyikapi sebuah masalah. Jayalah negeri Sepucuk Adat Sembilan Lurah.

*) Putra Daerah Jambi, Saat ini menjadi Wakil Ketua HMJ Ilmu Pemerintahan Unja


Penulis: Deki.R.Abdillah
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments