Selasa, 19 Juni 2018


Menanti Lawan Sebanding Jokowi pada Pilpres 2019


Senin, 26 Februari 2018 | 14:43:06 WIB


/

PENANTIAN publik akhirnya terjawab ketika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah resmi mengusung kembali Incumbent, yaitu Presiden Joko Widodo untuk kembali bertarung pada pemilihan presiden 2019.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh ketua umum PDIP, Hj Megawati Soekarnoputri saat Rakernas III PDIP di Bali baru-baru ini. Presiden Jokowi juga sudah mengkonfirmasi bahwa dirinya siap untuk kembali bertarung dalam kontesasi 5 tahunan ini. Tentu saja, kabar ini membuat lawan-lawan politik dari kubu Jokowi harus lebih giat dalam mempersiapkan hal-hal yang diperlukan sebelum perhelatan politik 2019. Nama yang tak asing yang kelak menjadi lawan Jokowi pada pilpres yaitu ketua umum partai Gerindra, H.Prabowo Subianto.

Dalam beberapa hasil survey, nama Prabowo Subianto selalu berada pada urutan kedua setelah Joko Widodo. Seperti  hasil survey yang dirilis oleh Poltracking Indonesia, elektabilitas Prabowo berada pada kisaran 20-33%, sementara elektabilitas Jokowi berada pada 45-47%. Begitu pula dengan hasil survey yang dirilis oleh beberapa lembaga survey lainnya, nama Jokowi dan Prabowo berada pada 2 urutan teratas. Untuk Cawapres, hasilnya bervariatif dan dinamis.

Penantian akan diusungnya Jokowi sebagai calon presiden tentu menjadi angin segar pula kepada partai politik yang sudah terlebih dahulu mendeklarasikan dukungan terhadap Presiden petahana, yakni Joko Widodo. Seperti Partai NasDem, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hanura, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) serta dua partai yang baru resmi bergabung dalam pemilu, yaitu Partai Perindo dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dukungan terhadap Presiden Jokowi ini yang kemudian sudah dijawab oleh PDIP melalui deklarasi terhadap pencalonan Jokowi pada pilpres 2019 mendatang.

Tidak seru sepertinya jika hanya membahas seputar kubu Jokowi, karena pada kenyataannya ketua umum partai Gerindra sudah memberikan aba-aba terkait pencalonan dirinya menjadi Capres 2019. Namun, hal ini belum disampaikan secara resmi. Kemudian belum ada satupun partai politik yang mendeklarasikan dukungan secara resmi terhadap Prabowo Subianto untuk maju sebagai calon presiden 2019. Namun tidak bisa dipungkiri, koalisi 212 yang terdiri atas Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Gerindra akan menjadi kolega dalam perhelatan pilpres 2019. Sepertinya koalisi ini hanya menunggu waktu saja untuk mendeklarasikan dukungan secara resmi.
Dari beberapa partai yang sudah mendukung Jokowi dan beberapa partai yang sudah diprediksi akan mendukung Prabowo, kemudian muncul partai-partai politik yang belum menentukan sikap terhadap dukungan calon presiden. Seperti PKB, Demokrat, dan dua partai yang baru bergabung dalam pemilu 2019, yaitu Partai Garuda dan Partai Berkarya.

Yang paling sulit diprediksi yaitu keberadaan Partai Demokrat (PD) saat ini. Mengingat, partai Demokrat memiliki kader yang sudah mencicipi beberapa perhelatan politik seperti Pilkada DKI Jakarta. Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi primadona dalam bursa cawapres. Bisa saja Demokrat berlabuh kepada pendukung Jokowi dan kemudian mengusung AHY sebagai cawapres, atau justru PD mengusung AHY sendiri untuk maju dalam pilpres sebagai poros baru selain Jokowi-Prabowo. Walaupun sepertinya agak sulit karna tersandung oleh Presidential Threshold (PT).

Nama-nama dalam bursa capres memang tak sebanyak cawapres, namun kuantitas tidak berpengaruh terhadap keberlanjutan dari proses politik. Karena pada kenyataannya, nama Jokowi dan Prabowo sudah diprediksi final dan kemungkinan bertambah hanya sedikit sekali. Jika memang tidak ada nama lain selain dua nama diatas, maka tidak dapat dipungkiri, pilpres 2019 akan memiliki citarasa yang tidak jauh berbeda dari pilpres 2014. Namun, menjelang 4 Agustus 2018 (hari pendaftaran calon presiden), perkembangan dan dimanika politik akan terus berjalan seiring berjalannya waktu. Kemana partai politik yang belum menentukan pilihan berlabuh tidak ada yang tahu.

Strategi juga kemungkinan tidak akan banyak berbeda dari apa yang terjadi pada 2014. Kemungkinan kubu Jokowi tidak akan semilitan tahun 2014 yang lalu. Mengingat posisi Jokowi sebagai incumbent dan berada pada posisi tertinggi dalam berbagai hasil survey membuat Jokowi beserta kolega tidak terlalu menguras tenaga dalam proses pemilihan presiden. Sebaiknya, tantangan besar ada didepan mata kubu Prabowo (Jika sah maju dalam pilpres), selain harus mengimbangi elektabilitas dan popularitas dari seorang Jokowi, Prabowo juga dihadapkan posisi partai yang masih belum cukup mendapat dukungan dari partai politik yang lain.

Tahun politik menjadi tahun dimana waktu 365 hari terasa begitu cepat dilalui, khususnya oleh para aktor-aktor politik. Oleh karena itu, persiapan dan strategi menjadi makanan sehari-hari yang tersedia di “meja makan”, demi terpenuhinya asupan gizi dan protein dari masing-masing partai politik. Sebandingkah jika Prabowo menjadi lawan Jokowi pada pemilihan presiden 2019 mendatang. Mari kita lihat rekam jejak masing-masing, tidak perlu larut dalam pertarungan isu SARA, Black Campaign, dan Money Politic. Pikirkan sedini mungkin, karena bagi sebagian orang, 2019 tak lama lagi.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fisipol, Universitas Jambi asal Kabupaten Bungo


Penulis: Daniel Estomihi Purba
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments