Selasa, 19 Juni 2018


Siswa Bolos Sekolah, Dari Warnet Pindah ke Gadget


Senin, 12 Maret 2018 | 16:38:26 WIB


/

SAYA selalu saja tertarik dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi. Baru-baru ini saya intens mengamati dan mencermati pola ‘gaul’ pelajar khususnya yang ada di Kota Jambi. Paling tidak, tiga bulan terakhir saya secara langsung melakukan pengamatan terhadap siswa yang sering bolos ketika jam belajar berlangsung. Saya menemukan fakta baru, telah terjadi pergeseran tempat ‘nongkrong’ para siswa ini yaitu dari warung internet (warnet) pindah ke tempat-tempat penyedia wifi gratis.

Awalnya saya ‘curiga’ dengan menemukan sejumlah anak muda (biasanya lebih dari 4 orang) bergerombol di meja-meja yang disediakan oleh toko modern ****mart dan Ind****. Biasanya mereka hanya memakai celana sekolah dan kaos bebas. Dengan cara ini motifnya jelas agar sekolah mereka tidak dapat dikenali karena badge identitas sekolah biasanya ada pada baju seragam. Saya pun kemudian bergabung dengan mereka dengan ikut-ikutan ‘nongkrong’ bersama sambil mencermati prilaku anak-anak bangsa ini. Apa yang terjadi?

Pertama, game online. Mereka berkumpul tapi tidak berkomunikasi satu sama lain. Mereka sangat fokus dengan layar gadget mereka masing-masing. Jika pun ada sesekali komunikasi itu pastilah komentar-komentar terhadap game yang sedang mereka mainkan. Pantauan saya, mereka memainkan game yang sama secara online. Bisa saja mereka satu tim melawan pemain lain di ‘luar’ sana, atau mereka berkompetisi sesama mereka. Begitulah.

Saya rasa ini adalah fenomena baru yang sudah harus menjadi perhatian semua pihak, dari pemerintah, sekolah, orang tua hingga masyarakat luas. Ternyata, warung internet (warnet) mulai ditinggalkan. Mereka mulai beralih ke tempat-tempat umum yang menyediakan internet gratis (wifi). Jadi jika harus ada razia siswa yang bolos sekolah, jangan lagi cari mereka di warnet tapi lihatlah mereka yang berkumpul di teras toko modern, rumah makan / restauran, lobby hotel, dan lain-lain. Pokoknya dimana saja terdapat layanan internet gratis dan kencang.

Kedua, sumpah sarapah. Duduk bersama mereka yang sedang bermain game online tersebut terkadang ‘sakit’ kuping mendengar kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Sumpah serapah meluncur dari mulut mereka tanpa tedeng aling-aling. Kata-kata kotor, mencarut, menghina, merendahkan, dan berbagai nama binatang diumbar begitu saja. Jika tidak mendengarkan langsung, mungkin sulit untuk dipercaya kata-kata semacam itu keluar dari calon penerus bangsa ini.

Hal ini seharusnya juga telah menjadi perhatian kita semua. Boleh jadi mereka menganggap bahwa mengeluarkan kata-kata semacam itu hanyalah ‘common expression’ dalam sebuah pergaulan. Tidak bermaksud saling menyakiti. Tapi, bukankah bahasa itu mencerminkan budi pekerti seseorang. Atau memang anak-anak bangsa ini sudah betul-betul kehilangan cara berkomunikasi dengan baik? Apakah kosa kata yang mereka miliki tinggal yang buruk-buruk saja?

Hal ini juga harus menjadi tanggung jawab bersama. Tidak ada salahnya bagi siapa saja untuk memberi teguran kepada anak-anak sekolah yang mengeluarkan kata-kata kotor, lebih-lebih di tempat-tempat umum. Jangan biarkan mereka ‘tenggelam’.

Ketiga, merokok. Saya dapat pastikan, seluruh siswa yang bolos dan nongkrong di tempat-tempat umum sambil bermain game online tersebut merokok. Agaknya satu paket yaitu game, rokok, cemilan (snack) dan minuman ringan (soft drink). Ya, di negara ini belum ada aturan yang ketat untuk membatasi anak-anak sekolah membeli rokok. Mereka dengan sangat bebas menikmati rokok sambil bermain game.

Bukankah rokok adalah ‘pintu masuk’ narkoba? Tidak menutup kemungkinan mereka-mereka ini (para siswa yang suka bolos) menjadi ‘pasar’ empuk bagi pengedar narkoba. Mereka dengan sangat mudah diperangkap karena umpannya (rokok) sudah tersedia. Itu artinya, mereka dalam bahaya yang harus segara diselamatkan.

akhirnya, melihat fenomena sosial ini, ternyata telah terjadi pergeseran pola hidup anak-anak didik bangsa kita. Warnet sudah mulai ditinggalkan dan mereka mulai berburu wifi gratis dengan kapasitas layanan yang besar. Maka seluruh stakeholder harus pula menyesuaikan diri untuk memberikan pengawasan kepada para pemegang tongkat estapet pemimpin bangsa ini. Jangan biarkan mereka terjerumus. Adalah tanggungjawab kita semua untuk menyelamatkan mereka.

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial, berdomisili di Jambi


Penulis: Bahren Nurdin, MA
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments