Kamis, 21 Juni 2018


Petani Sarolangun Prihatin dengan Kondisi Penyuluh


Senin, 12 Maret 2018 | 21:26:59 WIB


/

SAROLANGUN-Kondisi agak beda terjadi Di Kabupaten Sarolangun. Bila biasanya pemerintah yang prihatin melihat nasib para petani,  di Sarolangun malah berbalik. 

Saat ini petani yang malah kasihan melihat nasib para penyuluh pertanian di lapangan yang tidak lain bagian dari pemerintah. 

Usut punya usut, disebabkan di tengah tekanan untuk mewujudkan swasembada pangan mulai dari pemerintah pusat sampai ke daerah,  ternyata dalam pandangan petani para PPL dinilai kurang terperhatikan. 

Widodo (40), salah seorang petani Kecamatan Pelawan, mengaku dirinya bingung kenapa PPL yang turun ke lapangan tidak dibekali dengan alat yang memadai.  

"Saya pernah dengar curhatan PPL,  mereka sudah tiga tahun lebih tidak diberikan bantuan sepatu BOT lapangan dan baju lapangan,  boro-boro perlengakpan memadai seperti pisau okulasi atau PH meter," ujarnya. 

Di lain kesempatan,  Jamal,  salah seorang petani di Kecamatan Air Hitam, menyampaikan hal yang senada. Menurutnya sudah sewajarnya jika PPL yang ada di lapangan dibekali dengan alat memadai seperti motor dinas.

 "PPL ini kan sama dengan bidan,  tugas di lapangan,  mengapa hampir semua bidan dibekali motor dinas PPL tidak,  apakah memang PPL honor atau apa,  kok agak beda dari pegawai lain," ujarnya. 

Malah,  petani lainnya,  Nurdin, dari Bathin VIII,  melihat nasib PPL pertanian lebih parah dari itu,  sebab sejak tahun 2017 buku saku saja tidak punya.  

"Kalau kami petani kayaknya lebih mudah untuk dapat bantuan,  mau berapa hektare pun pengajuan bantuan untuk padi,  jagung dan kedelai, asal diketahui PPL surat permohonanya bisa kami dapatkan dengan mudah,  mengapa PPL yang turun kok sepertinya kurang terperhatikan, " sebutnya. 

Belum habis sampai di situ saja,  Yanto,  salah satu petani Batang Asai, pernah berujar bahwa tahun 2018 ini hampir semua pegawai Pemda Sarolangun akan mendapat kenaikan pendapatan dari tunjangan TPP,  tapi kok malah penyuluh pertanian tunjangan perjalan tetapnya malah dihapuskan. 

"Kabarnya gitu,  PPL yang PNS cuma dikasih TPP sekitar 400 ribu,  berarti bukan naik,  malah turun,  kan kasihan mereka ini tugas cukup berat, apalagi medan Batang Asai kan sulit," sebutnya. 

Sementara itu, Padil,  salah seorang petani Sarolangun,  malah bingung sebab dulu-dulunya PPL itu dibekali dengan dana demplot dan kursus tani untuk petani binaan,  akan tetapi kini mengapa tidak ada.

 "Apakah uang tersebut dimakan penyuluh, sehigga tidak pernah dilaksanakan, "ujarnya. 

Terkait ini,  salah satu penyuluh pertanian lapangan,  yang minta namanya dirahasiakan,  ketika dikonfirmasi,  sangat senang kalau petani merasakan apa yang PPL rasakan.  "Tapi perlu diketahui, untuk tanggapan petani dari Sarolangun,  kami tidak sama sekali makan duit demplot atau uang kursus tani, karena dana itu sudah beberapa tahun terakhir memang tidak dianggarkan,  jadi ini perlu diluruskan, kalau mau jelas silakan tanya dinas," sebutnya. 

Kalau masalah lainnya, dia mengatakan,  meski fasilitas yang didapatkan kurang seperti tidak ada sepatu bot lapangan,  tidak ada baju lapangan,  tidak ada pisau okulasi atau ph meter, bahkan buku saku saja tidak dianggarkan.

"Kami sadar, saat ini nasib PPL sedang tidak beruntung,  PNS lain dapat TPP kami uang perjalanan tetap malah dihapus,  dan diganti dengan TPP sekitar 400 ribu,  artinya itu sudah nasib kami," ujarnya, tetap terlihat tegar dan semangat.


Penulis: Luncai
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments