Senin, 16 Juli 2018

Menyoal Fenomena Krisis Garam di Indonesia


Rabu, 11 April 2018 | 13:28:38 WIB


/

MENDENGAR negara maritim seperti Indonesia mengalami krisis garam terdengar sangat memilukan. Indonesia memiliki semua komponen untuk menghasilkan garam mulai dari laut yang luas, garis pantai yang panjang dan iklim tropis yang sangat mendukung dalam memproduksi garam. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dengan menguapkan air laut dengan mengandalkan ketiga komponen itu garam bisa dibuat, lantas kenapa kemudian bisa terjadi krisis garam?

Setiap tahunnya Indonesia membutuhkan garam sebanyak 4,3 juta ton, mencakup garam industri kadar Natrium klorida (NaCl) di atas 97 persen atau garam komsumsi yang kadar NaCl-nya di bawahnya. Sebanyak 1,8 juta ton diantaranya dipasok dari dalam negeri, kebanyakan garam yang langka ditemui sekarang adalah jenis garam konsumsi. Fenomena krisis produksi garam dalam negeri ini sudah dimulai sejak pertangahan tahun 2017 yang lalu dimana ketika itu tambak garam milik PT Garam di Sumenep hanya mampu memproduksi 50 ton garam  dari biasanya 2500 ton garam setiap bulannya.

Indonesia memang merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 kilometer. Faktanya, hanya beberapa puluh ribu kilometer saja yang bisa dijadikan tempat produksi garam. Hal ini disebabkan lokasi untuk produksi garam dipengaruhi beberapa hal seperti faktor air laut dan tanah lokasi.

Alasan universal mengapa Indonesia dengan wilayah mayoritas kepulauan mengalami krisis garam adalah masalah cuaca. Sinar matahari sepanjang tahun lalu memang tidak menentu sehingga menyulitkan proses produksi garam karena kita ketahui bersama bahwa sinar matahari merupakan salah satu instrumen terpenting dalam pembuatan garam. Tapi apakah menjadi wajar jika kemudian kita selalu menyalahkan keadaan cuaca yang merupakan kodrat alam? Dan tidak belajar dari masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Kita ingat bagaimana pada tahun 2010 yang lalu Indonesia mengalami krisis garam hebat dengan hanya mampu memproduksi 30.600 ton garam dari rata-rata produksi tahunan kita 1,2 juta ton.

Sebenarnya, tanda-tanda kita akan mengalami krisis garam sudah terlihat dari jauh-jauh hari sehingga mestinya bia diantisipasi. Hal ini dibuktikan  sejak lebaran tahun lalu harga garam selalu stabil dan tidak pernah mengalami penurunan. Bahkan harga garam terus melambung dan naik sampai empat kali lipat dari harga normal atau bisa terlihat dari angka kebutuhan garam nasional yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Masalahnya, impor garam konsumsi memang tidak bisa sembarangan dilakukan. Peraturan pemerintah mensyaratkan kandungan NaCl garam beryodium ini harus di bawah 97 persen dimana garam dengan jenis seperti ini sangat sulit ditemui di pasar garam dunia.

Melihat kondisi seperti ini, sudah saatnya pemerintah membuat terobosan-terobosan untuk mengatasi permasalahan krisis garam ini diantaranya adalah membuat terobosan dalam peraturan impor garam, sebagai langkah nyata mengatasi krisis garam ini. Upaya ini menjadi sangat penting karena kelangkaan garam bukan sekadar urusan makanan, tapi juga menyangkut urusan industri.

Di daerah Maluku misalnya. Gara-gara kesulitan garam banyak usaha pengolahan ikan asin terpaksa gulung tikar atau mengalihkan bisnisnya ke ikan asap. Sementara itu, pasar harga ikan asin yang merupakan sumber protein murah masyarakat menjadi mahal 10-30 persen.

Pengamat dari lembaga Institute for Develepment of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mendorong pemerintah untuk berpihah kepetani penambah garam. Keberpihakan pemerintah kepada petani penambak garam menjadi penting karena selama ini pemerintah terkesan abai dalam mengambil solusi terhadap krisis garam, pemerintah lebih suka mengambil cara instan untuk mengimpor garam dari pada memberdayakan penambak garam yang ada sehingga hal ini kemudian membuat produksi garam dalam negeri selalu gagal mencapai target yang telah ditetntukan.

Salah satu masalah utama penambak garam kita adalah kurangnya realisasi bantuan yang diberikan oleh pemerintah sehingga merujuk pada data KIARA (koalisi rakyat untuk keadilan perikanan) dalam lima tahun terakhir mencatat bahwa jumlah petani tambah garam yang ada di Indonesia menurun drastis setiap tahunnya, yakni dari 30.688 jiwa pada 2012 menjadi 21.050 jiwa di 2016. Artinya ada sekitar 8.400 petani tambak garam yang beralih profesi karena tidak adanya jaminan kesejahteraan yang mereka peroleh dari profesi tersebut.

Pemerintah dalam hal ini sering kali melakukan impor garam untuk mengatasi permasalahan krisis garam yang kita alami, apakah impor garam merupakan jawaban atas permasalahan kita selama ini? Tidak. Impor garam hanya dapat mengatasi persoalan ini dalam jangka waktu pendek dan justru dikemudian hari dapat menimbulkan masalah baru. Impor justru membuat garam yang dihasilkan petani lokal tidak dapat disalurkan secara maksminal karena adanya perbedaan harga yang cukup signifikan dengan garam impor sehingga membuat masyarakat lebih suka menggunakan garam impor belum lagi monopoli garam yang dilakukan oleh oknum tertentu di pasaran. Dibandingkan melakukan impor garam setiap tahun, pemerintah harusnya lebih memfokuskan untuk memaksimalkan dan memberdayakan petani garam yang ada di Indonesi, dengan cara mengoptimalkan bantuan kepada para petani tambak garam dan memberikan fasilitator untuk memberdayakan masyarakat petani tambak garam. Jika kedua hal tersebut sudah dilakukan dengan baik oleh pemerintah, maka bukan mustahil kita akan mampu memenuhi kebutuhan garam untuk kebutuhan kita sendiri.

Pada akhirnya penulis berharap bahwa pemerintah dan semua pihak terkait bersama-sama dengan masyarakat dapat memaksimalkan potensi alam yang kita memiliki terutama dalam hal produksi garam, yang kemudian dapat menigkatkan produksi garam kita dan mensejahterakan petani tambak garam yang ada. Jangan lagi kita meremehkan masalah garam ini, karena jika kita berhasil melakukan swasembada garam maka kita berhasil membuktikan diri sebagai negara kepulauan yang berhasil.

 Penulis adalah Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi


Penulis: Deki.R.Abdillah
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments