Rabu, 25 April 2018


Menuju Rekayasa Literasi Sastra

(Gagasan Awal Menuju Gerakan Literasi Sastra Anak Muda Jambi)

Kamis, 12 April 2018 | 14:24:01 WIB


/

MEMASUKI perbincangan dunia anak muda Jambi hari ini, kita dihadapkan pada layar lebar tiga dimensi di setiap jengkal tanah yang kita lewati, yang menyajikan gambar hidup dalam kurun waktu yang tak pernah mengenal kata mati.

Anak muda Jambi hadir di setiap pusaran lingkungan kehidupan. Tak kenal batasan waktu. Tak kenal batasan wilayah. Tak kenal istilah kasta ekonomi.

Tak hanya di ruang-ruang berpendingin udara yang dindingnya penuh dengan hiasan dekoratif, sudut-sudut ruang kota yang sesak dengan ruko, dan di sepanjang kiri kanan jalan, anak-anak muda Jambi menumpahruahkan segala bentuk keinginan, segala bentuk rasa, segala bentuk kegelisahan, segala bentuk “keremajaannya” yang ingin diekspresikan.

Di bioskop-bioskop penuh remaja. Di ruang karaoke sesak dengan remaja. Di gerai-gerai pakaian, ramai dengan remaja. Di pusat-pusat makanan, remaja berdesakan. Di taman-taman tongkrongan, remaja berbondong-bondong. Di tikungan-tikungan jalanan, remaja berkeliaran.
Di pusat-pusat kecantikan, wajah-wajah remaja berseliweran. Di kedai-kedai kopi, remaja bermain dengan imaji. Di gerobak angkringan, remaja pada nangkring. Di warung-warung bandrek, anak muda Jambi melek sambil menghirup udara malam. Anak muda Jambi merajai wajah kota ini dan “mabuk” dalam sajian gaya hidup kekinian.

Fenomena inilah yang telah menggiring analisis para pengamat bahwa literasi sastra di kalangan anak muda Jambi masih perlu diupayakan peningkatannya.

Dalam pola ungkap keumuman masyarakat, literasi dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.  Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Literasai dalam perkembangannya memiliki arti luas sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies).

Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy).

Hakikat berliterasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut.

Secara Umum ada tiga kategori besar masyarakat Indonesia, yakni praliterasi, literasi dan posliterasi. Masyarakat praliterasi, hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses media seperti buku, televisi, internet, dan lain-lain. Kalaupun mereka dapat mengakses tetapi tidak bisa mencernanya dengan mudah. Masyarakat literasi, memiliki akses terhadap buku tetapi tidak berarti tradisi baca-tulis dapat tumbuh subur di kalangan ini. Masyarakat posliterasi, memiliki akses buku, teknologi informasi, dan audio visual.

Anak muda Jambi hari ini berada pada kategori posliterasi karena memiliki kemampuan dalam mengakses buku, bersentuhan secara akrab dengan dunia teknologi informasi, dan berkemampuan secara bebas dalam mengelola dunia audio visual. Kondisi ini tidak berkontribusi positif dalam literasi sastra anak muda Jambi. Indikatornya tentu mudah dilacak dari seberapa banyak anak muda Jambi larut dalam proses membaca berbagai teks sastra, seberapa banyak karya-karya kreatif anak muda Jambi dalam genre sastra ditradisituliskan; seberapa banyak catatan ulasan anak muda Jambi yang lahir dari kegemarannya dalam mengapresiasi pertunjukan sastra yang terdedahkan, seberapa banyak karya-karya kreatif anak muda Jambi yang dipentaslugaskan di pangung-panggung pertunjukan?

Ketika kita mencoba mendeskripsikan literasi sastra anak muda Jambi dalam angka statistik, tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk menyajikannya. Sebaliknya, ketika kita mencoba mendeskripsikan aktivitas anak Muda Jambi nonliterasi, yang berdimensi gaya hidup kekinian, kita dihadapkan dengan angka yang menakjubkan. Betapa tidak, berapa banyak lapak jajanan tempat anak-anak muda Jambi menaburkan “kegelisahan”? Berapa banyak waktu anak-anak muda Jambi terkuras abis dalam menjelajahi dunia tanpa ruang waktu (internet)?

Rekayasa literasi sastra mendesak untuk dilakukan di kalangan anak muda Jambi. Teknik dan metodenya perlu dikawinsilangkan dengan budaya dan gaya anak muda kekinian sehingga tidak menimbulkan “penolakan” yang justru akan meruntuhkan tatanan yang akan di bangun. “Menu” sastra harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pola ungkap kegairahan anak muda Jambi. Rekayasa literasi sastra yang bisa dijadikan pilihan, antara lain:

1.    “Warung” Sastra
Sebuah gerai yang menyajikan teks-teks sastra yang beragam. Tidak ada traksaksi ekonomi di warung ini, yang ada adalah traksaksi moral. Warung sastra memberikan kesempatan kepada seluruh konsumennya untuk memilih dan menikmati teks sastra sesuai dengan jalur ekspresi dan aktualisasi dirinya masing-masing. Warung sastra bisa hadir secara otonom maupun bagian tak terpisahkan dari gerai-gerai kegairahan anak muda Jambi.

Secara otonom, warung sastra menempati gerai khusus yang tata letaknya tidak berjauhan dengan gerai-gerai kegairahan anak muda Jambi, mudah diakses, dan tidak meninggalkan “ritme kegenitan” khas ala anak muda. Secara integral, warung sastra hadir di komunitas-komunitas kegairahan anak muda Jambi, seperti di bioskop, di tempat karoke, di pusat busana, di pusat perawatan, di taman, di tempat tongkrongan, di pusat jajanan (kedai kopi, warung bandrek, kafe, dll), dan di tempat-tempat konsentrasi aktivitas minggu pagi (lapangan gubernur, Taman Jomblo).

2.    Kemah Sastra
Perkemahan yang berbasis aktivitas sastra. Kemah sastra berorientasi pada kegiatan pemusatan pembinaan dan peningkatan apresiasi sastra. Aktivitas kemah sastra di antaranya, kelas baca teks sastra, kelas menulis kreatif teks sastra, bedah teks sastra, satu jam bersama sastrawan, dan anak muda Jambi bicara sastra. Kemah sastra bisa dimulai di setiap gugus depan (sekolah), di setiap kwartir ranting (kecamatan), di setiap kwartir cabang (kabupaten/ kota).

3.    Jambore sastra
Perkemahan sastra yang didalamnya memperlombakan aneka aktivitas sastra. Jambore sastra ini dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkatan terendah sampai dengan tingkatan paling tinggi. Aktivitas lomba yang bisa dikemas dalam Jambore sastra di antaranya, lomba menulis kreatif (puisi, cerpen, drama, cerita rakyat, monolog, drama, ulasan sastra), lomba baca sastra (puisi, cerpen, dongeng), lomba musikalisasi puisi, lomba monolog, lomba drama, festival film pendek berbasis sastra (puisi, cerpen), LCC sastra, lomba menulis ulasan sastra, dan lomba lainnya yang memiliki keeratan dengan dunia sastra.

4.    Arisan Sastra
Sebagaimana arisan pada umumnya, arisan sastra juga memiliki nilai ekonomi dalam setiap pertemuannnya. Setiap peserta arisan memiliki kewajiban untuk mangalokasikan dana secara urunan, yang penggunaannya didedikasikan untuk menggelar aktivitas dan kreativitas sastra baik secara perseorangan maupun secara paguyuban (kelompok). Aktivitas dan kreativitas sastra yang bisa digagas misalnya penerbitan antologi puisi (perseorangan atau bersama), penerbitan antologi cerpen (perseorangan atau bersama), penerbitan antologi Anak Muda Jambi Bicara Sastra, lomba menulis puisi, lomba baca puisi, lomba musikalisasi puisi, lomba dongeng, festival teater remaja, pertunjukan baca/ musikalisasi puisi, resital puisi, pentas sejuta puisi, pertunjukan/ lomba monolog, dramatisasi cerpen, pekan seni pertunjukan remaja Jambi, dan format acara lainnya yang memiliki dimensi keremajaan yang memikat.

Rekayasa literasi sastra adalah suatu jalan menuju suatu perubahan dan peningkatan literasi anak muda Jambi dengan metode dan teknik yang disesuaikan dengan kultur dan gaya kegairahan remaja yang kekinian. Rekayasa literasi sastra ini melekat pada gaya hidup anak muda dan tempatnya disesuaikan dengan tempat-tempat anak muda mencurahkan ekspresi dam eksistensinya, yang cenderung memiliki “ruang waktu”  tersendiri.
Rekayasa literasi sastra menghadirkan teks-teks sastra di dalam kehidupan anak muda Jambi.

*Penulis adalah Peminat Sosial Budaya Jambi


Penulis: Nanang Sunarya
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments