Sabtu, 21 April 2018


Warga Sudah Bosan Delapan Tahun Mandi Air Bekas PETI


Jumat, 13 April 2018 | 10:17:30 WIB


Aktivitas PETI menyebabkan sungai di Kabupaten Merangin menjadi tercemar
Aktivitas PETI menyebabkan sungai di Kabupaten Merangin menjadi tercemar / Dok.metrojambi.com

BANGKO - Penambangan emas tanpa izin (PETI) sudah lama terjadi di Merangin. Bahkan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemkab maupun aparat untuk mengatasi PETI hingga kini belum bisa teratasi secara maksimal.

Akibat PETI masyarakat sudah lama mengeluh karena tidak bisa menggunakan air sungai sebagai kebutuhan sehari-hari.

Basarudin, warga Pulau Layang, Kecamatan Batang Masumai menceritakan, Batang Masumai sudah tercemar sejak tahun 2010 lalu.

"Ya, sungai ini sudah tercemar sejak tahun 2010 lalu, PETI yang menjamur di hulu sungai. Bukan saja keruh, warga juga menilai airnya mengandung mercuri yang berdampak bagi pencemaran disepanjang aliran sungai," katanya saat dibincangi wartawan.

"Warga di sini masih menggunakan sungai sebagai wadah untuk mandi dan mencuci. Sejak tahun 2010 lalu rasanya kami ini dipaksa mandi di sungai yang keruh ini (batangmasumai, red)," ujarnya.

Menurut dia, dulu setiap pagi sebelum beraktivitas, dan sore setelah bekerja, warga sangat ramai turun ke sungai. Sungai dijadikan tempat aktivitas mandi, mencuci bagi kaum ibu dan sarana bermain anak-anak.

Kini, aktivitas tersebut sudah mulai tergerus. Bahkan, sejak air Batang Masumai keruh bertahun-tahun, ada aktivitas warga yang tidak lagi bisa dilakukan. Aktivitas itu adalah menembak ikan dengan alat tembak tradisional pada malam hari.

"Dulu setiap rumah selalu ada bedil ikan dan serampang (alat tembak ikan tradisional). Kalau sekarang sudah tidak ada lagi. Yang masih bisa kami lakukan hanya menjala, itupun hasilnya tidak seperti dulu. Ikannya juga sudah mulai berkurang," tuturnya.

Keruhnya air ini juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Basarudin mengaku, banyak warga yang terserang gatal-gatal.

"Apakah kami akan terus dibiarkan seperti ini? Kami sangat berharap ada solusi dari pemerintah, karena kami sebagai rakyat kecil ini tidak bisa mencari solusinya. Kami gantungkan nasib kami ini ke pemerintah," katanya.

Ketua BPD setempat, Mustapa juga mengeluhkan kondisi yang sama. Dia mengaku, warga di desanya kesulitan mendapatkan air bersih.

"Masyarakat kami saat ini kesusahan untuk mandi, karena umumnya masyarakat kami mandi di air Batang Masumai. Peran pemerintah sangat kami tunggu," katanya.


Penulis: Andi
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments