Kamis, 21 Juni 2018


Revolusi Digital: Refleksi Pentingnya Memahami Entrepreneurship


Kamis, 26 April 2018 | 15:11:04 WIB


/

INDONESIA saat ini mengalami babak transisi yang sangat fundamental di bidang ekonomi. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh berubahnya peta perekonomian nasional melainkan semakin atraktifnya tantangan yang dihadapi pada bidang ekonomi dan salah satunya adalah terkait revolusi digital. Isu seputar revolusi digital menjadi diskursus menarik untuk dipahami bersama agar masyarakat dapat bersaing di model kompetisi global seperti saat ini.

Tren bisnis dan ekonomi memang sedang mengalami fase metamorfosis yang kompleks. Sebagai contoh, dulu di mana pemasaran bisnis hanya dilakukan  dengan skema konvensional. Namun kini telah berkembang menjadi pemasaran lintas batas, hal ini terlihat dari banyaknya fungsi teknologi digital yang turut andil dalam mengekspansi pasar di seluruh sektor-sektor perekonomian.

Indonesia dan pasar global adalah dua elemen yang tidak bisa dipisahkan. Siap atau tidak siap, seluruh penduduk Indonesia telah memasuki era baru di mana globalisasi dan modernisasi pasar menjadi ciri dari perekonomian kontemporer. Masyarakat Indonesia harus berada pada arus sadar (aware) terhadap teknologi dengan harapan dari kesadaran tersebut menghasilkan kreativitas serta inovasi yang berguna untuk bersaing di tingkat global.

Permasalahan mengenai lanskap ekonomi yang bergerak cenderung dinamis merupakan paradoks yang hampir di alami oleh semua negara di dunia. Director, Asia and Pacific Departement Biographical Information IMF Changyong Rhee bahkan telah memberikan sinyal bahwa saat ini Indonesia beserta dengan negara lain di kawasan asia-pasifik menghadapi tantangan jangka panjang di mana populasi penduduk usia tua bertambah, produktivitas menurun dan masalah nyata dari adanya revolusi digital.

Di balik sentimen negatif mengenai kondisi global khususnya dalam hal revolusi digital, sebenarnya terdapat peluang yang sangat menjanjikan bagi masyarakat Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam membangun iklim akseleratif di bidang perekonomian. Salah satu caranya adalah mendiseminasi (menyebar-luaskan) perlunya menyadari tentang entrepreneurism. Entrepreneurism merupakan ideologi yang berdasar pada keinginan dan kebutuhan individu untuk menciptakan dan melakukan inovasi serta melakukan transformasi kreatifitas dan inovasi menjadi penciptaan kesejahteraan dan penambahan nilai untuk keuntungan individu juga untuk kebaikan bersama. Kerangka konseptual di atas merupakan ekstraksi dari pemikiran Effendi Siradjuddin dalam judul Memerangi Negara Gagal.

Ada hal yang dirasa perlu dalam pendidikan kita dengan mengkalibrasi fungsi entrepreneurship untuk ketahanan perekonomian Nasional. Menurut Ciputra dalam bukunya Quantum Leap (2008) menyebutkan bahwa entrepreneurship adalah senjata penghancur masal dalam mengatasi pengangguran dan kemiskinan sekaligus tangga menuju impian setiap warga negara untuk mandiri secara finansial dan mampu membangun kemakmuran (wealth) untuk bersama-sama membangun kesejahteraan bangsa.

Fakta yang belum begitu banyak ditemukan di Indonesia adalah rendahnya edukasi seputar entrepreneurship oleh kalangan institusi akademis. Lain halnya di Amerika Serikat pendidikan entrepreneur dipikirkan lebih dari 25 tahun yang lalu dan telah dimasukkan ke dalam kurikukum pendidikan. Sedangkan di Eropa sejak tahun 2000 telah diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional dan pada 24 September 2003 dengan dikeluarkannya green paper dengan judul “entrepreneurship in Europe”, kemudian Oktober 2006 telah disepakati “The Oslo Agenda for Entrepreneurship in Europe” yang berisi kebijakan kerangka pengembangan, dukungan terhadap institusi pendidikan, kegiatan entrepreneurship di sekolah. Hal inilah yang menjadikan generasi di negara maju secara mental memiliki persiapan yang lebih matang dalam menyongsong persaingan global.


Penulis adalah Dosen Ekonomi Islam  STIES Al Mujaddid Tanjung Jabung Timur


Penulis: Ragil Satria Wicaksana S.E.I., M.S.I
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments