Senin, 28 Mei 2018


Terorisme dan Payung Hukum yang Tak Kunjung Rampung


Senin, 14 Mei 2018 | 11:37:21 WIB


istimewa
istimewa /

DALAM seminggu ini, beberapa kejadian meresahkan yang terjadi hanya selang beberapa hari dan memakan korban jiwa. Kejadian pertama yaitu kerusuhan di Mako Brimob, dimana anggota narapidana terorisme berhasil menyandera petugas yang sedang bertugas disana. Alhasil, beberapa anggota polri gugur dalam melaksanakan tugasnya, Indonesia berkabung karena terorisme.

Minggu (13/5/2018) kemarin, aksi yang sama kembali terjadi, hanya saja yang menjadi korban adalah warga gereja yang sedang beribadah di Kota Surabaya. Dari berita terakhir yang dihimpun, ada 11 korban tewas akibat aksi terror ini. Indonesia kembali berkabung. Senin pagi, ledakan kembali terjadi di Mapolresta Surabaya. Sejumlah orang juga dinyatakan menjadi korban dari aksi itu.

Mau Sampai Kapan ?

Kejadian yang terjadi di Mako Brimob dan 3 gereja di Surabaya menjadi tamparan keras bukan hanya bagi aparat keamanan, tapi pemerintah juga. Karena payung hukum yang menjadi senjata bagi para aparat keamanan untuk melaksanakan tugasnya hingga kini tak jelas. Jumlah korban yang semakin banyak sepertinya tidak memantik semangat pemerintah baik eksekutif maupun legislatif untuk segera menyelesaikan RUU tentang Anti Terorisme.

Sejak dibentuk (29/2/2016) hingga saat ini, Pansus RUU Anti Terorisme sepertinya belum menunjukkan kinerja yang signifikan dan membanggakan sebagai lembaga legislatif. Banyaknya korban yang berjatuhan akibat aksi teror ini ternyata tidak membuat hati para anggota dewan tergerak untuk segera menyelesaikan RUU.

Alih-alih tidak sejalan dengan pemerintah seringkali dijadikan sebagai alasan ketika awak media bertanya terkait kejelasan rampungnya RUU.

Tentu momentum ini dimanfaatkan oleh para teroris untuk gencar melakukan aksinya dalam menebar rasa takut melalui tindakan teror seperti yang terjadi dalam seminggu ini. Atau jangan-jangan, para teroris sudah berafiliasi dengan anggota dewan atau pemerintah agar sengaja lambat dalam menyelesaikan RUU agar para teroris dapat dengan leluasa melaksanakan aksinya? Semoga saja tidak.

Revitalisasi Sistem dan Iman

Ada banyak diskusi, seminar dan artikel yang membahas mengapa pertumbuhan bibit-bibit terorisme dan radikalisme ini bisa tumbuh dengan cepat dan masif, tidak terkontrol oleh masyarakat dan negara karena sistem perekrutan yang tertutup dan keberlangsungannya cenderung menggunakan sistem belajar agama.

Sekolah-sekolah yang menggunakan corak-corak keagamaan sepertinya perlu mendapat pengawasan khusus dari pemerintah, mengingat ada beberapa sekolah yang bercorak agama di Indonesia yang cenderung tertutup, berada jauh dari pemukiman warga dan aktifitas belajar mengajar yang belum diketahui seperti apa sistemnya.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah penting bagi pemerintah untuk mengawasi dan membina sekolah-sekolah keagamaan yang ada di Indonesia.

Sekolah menjadi tempat dimana seseorang berproses, menumbuhkan iman dan takwanya kepada Sang Maha Pencipta, terutama sekolah-sekolah keagamaan. Oleh karena itu, dengan mengawasi dan membina sekolah-sekolah keagamaan itu berarti sama dengan turut serta dalam menjaga tumbuhnya iman anak-anak Indonesia agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para leluhur bangsa.

Tidak kemudian membiarkan anak tumbuh dengan iman dan kepercayaan yang tidak jelas asal usulnya yang justru menimbulkan keresahan dan menjadikannya bibit-bibit radikalisasi.

Harapan juga digantungkan kepada pemuka-pemuka agama di Indonesia untuk tetap menjaga dan mengontrol situasi kerukunan umat beagama di tanah air. Kawal terus pergerakan umat agar tidak terlalu jauh dari garis keyakinan atau bahkan melenceng dari ajaran yang diajarkan. Umat yang terjerumus kedalam paham radikal menandakan gagalnya para pemuka agama menjaga dan menumbuhkan iman dan taqwa kepada umat tersebut.

Teruslah berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing agar kita semua beserta pemuka agama diberikan kekuatan dan semangat untuk terus menjaga umat dan membantu pemerintah dalam menjaga situasi dan kondisi bangsa saat ini.

Jangan Takut

Salah satu tujuan dari aksi teror adalah menimbulkan rasa takut. Rasa takut disini bisa ditimbulkan dari 2 hal, pertama, dari aksi yang mereka lakukan seperti peledakan bom bunuh diri, penyekapan, penyanderaan dan lain-lain. Kemudian yang kedua yaitu melalui penyebaran foto-foto korban aksi teror bom yang tersebar melalui sosial media.

Tidak bisa dipungkiri, ketakutan masyarakat akan memuncak tatkala melihat foto-foto korban yang beredar didunia maya. Bersimbahnya darah dan potongan-potongan tubuh menjadi konsumsi publik ketika membuka sosial media.

Untuk itu, dengan tidak menyebar foto-foto korban di media sosial adalah salah satu upaya untuk menggagalkan tujuan dari aksi teror yakni menimbulkan rasa takut. Rasa takut yang muncul akan menjadi batu lompatan para terorisme untuk melakukan tindakan yang lebih tidak manusiawi lagi. Oleh karena itu, jangan pernah takut dengan apa yang dilakukan oleh para terorisme, kita lebih kuat dari apa yang mereka bayangkan jika kita bersatu dalam keberagaman.

Kejadian di Mako Brimob dan 3 gereja di Surabaya menjadi bukti bahwa masih lemahnya sistem keamanan dan hukum di Indonesia. Harapan saya sebagai warga Indonesia dan semoga menjadi harapan kita semua adalah, pertama, kepada pemerintah dan anggota dewan untuk segera menyelesaikan RUU Anti Terorisme, kesampingkan terlebih dahulu kepentingan-kepentingan politik dan ego-ego kelompok tertentu. Jumlah korban yang berjatuhan akibat lambatnya proses perencanaan RUU Anti Terosisme ini menjadi tanggung jawab kalian sebagai pemegang kekuasaan. Ingat sumpah yang sudah anda bacakan saat anda dilantik, untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Kedua, kepada aparat keamanan, perjuangan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat memang tidaklah mudah. Teruslah berjuang dalam menjalankan tugas-tugas anda sebagai aparat keamanan. Doa kami selalu beserta mu, mengabdi para negeri adalah pengabdian tertinggi yang ada di muka bumi ini. Rasanya tidak berlebihan untuk memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada polri, terkhusus kepada 5 anggota polri yang gugur di Mako Brimob.

Terakhir, kepada seluruh masyarakat Indonesia, sekali lagi jangan takut, pemerintah dan aparat kepolisian dan TNI ada bersama-sama dengan kita. Jika kita bersama-sama saling bahu membahu satu sama lain, niscaya aksi teror kedepan hanya menjadi isapan jempol belaka. Negeri yang aman, damai, dan tentram bukan menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan oleh bangsa kita. Tapi ingat, hal tersebut terjadi jika kita saling bahu membahu satu sama lain. Tapi, jika kita masih mudah terpecah belah hanya karena perbedaan politik misalnya, maka percayalah disitulah teroris tumbuh dan berkembang.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemeintahan, Fisipol, Universitas Jambi asal Bungo


Penulis: Daniel Estomihi Purba
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments