Jumat, 22 Juni 2018


Paham Eksklusivisme Beragama Sebagai Sumber Aksi Teror


Minggu, 20 Mei 2018 | 21:07:40 WIB


/

BERDASARKAN hasil surveI dari Wahid Foundation, pada tahun 2017 lalu menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, tempat tinggal (desa/kota) dan pendapatan masyarakat tidak memiliki korelasi langsung terhadap tindakan radikalisme.

Di dalam survei tersebut juga dijelaskan bahwa faktor penting yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan radikalisme adalah pemahaman jihad dan bela agama yang salah dengan melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain atau sekelompok masyarakat yang menurut pandangan mereka objek yang benar untuk melakukan jihad.

Fakta ini yang kemudian mengejutkan banyak pihak ketika terjadi peristiwa teror bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya, jika biasanya yang melakukan tindakan teror bom bunuh diri adalah kelompok masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah, yang terjadi di Surabaya berbeda 180 derajat.

Dita Oepiarto beserta keluarganya adalah kelurarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas bahkan rumah yang ditempati mereka ditaksir berharga lebih dari 1 miliar rupiah. Fakta-fakta ini yang kemudian mematahkan banyak argumen masyarakat umum bahwa motif dari pelaku tindakan teror bom bunuh diri adalah karena motif ekonomi.

Penulis menemukan sebuah fakta menarik tentang kasus teror bom yang melanda negara kita belakangan ini. Penulis beranggapan bahwa kasus teror ini terjadi karena ada narasi-narasi heroik islam  yang sengaja dibangun oleh jaringan teroris ini untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat kita yang terkenal fanatik dalam beragama.

Di media sosial khususnya kita dapat dengan mudah melihat narasi ini muncul ketika banyak kelompok-kelompok masyarakat tertentu dalam ceramah keagamaan mengatakan “Islam sedang ditindas, kita harus melakukan perlawanan dengan cara berjihad di jalan Allah!”

Narasi-narasi ini kemudian dipahami dan diajarkan dengan cara radikal yang tentu saja bertentangan dengan cara berjihad yang benar-benar sesuai dengan ajaran islam yang rahmatan lilalamin.

Survei dari Wahid Foundation di atas menegaskan bahwa motif pelaku teror bom bunuh diri bukan tentang motif ekonomi yang banyak dipahami oleh kita selama ini, namun murni karena kesalahpahaman memahami ideologi dan konsep jihad yang ada dalam Agama Islam.

Dita Oepiarto diketahui merupakan ketua dari Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi langsung dengan organisasi radikal ISIS. Ideologi dari kelompok ini adalah takfiri yakni menghalalkan darah manusia, karena sebab itulah yang menjadi objek teror dari kelompok ini adalah masyarakat non muslim dan pihak keamanan.

Terorisme bukanlah sebuah masalah yang dapat diselesaikan dengan hanya menangkap para pelakunya kemudian dihukum atau ditembak mati, terorisme masalah yang lebih rumit dari itu. Terorisme merupakan masalah pemahaman masyarakat atas konsep beragama dan membela agama. Jika kita hanya berfokus pada penangkapan pelaku dan tidak memperhatikan bagaimana konsep melakukan deradikalisasi di tengah masyarakat maka tindakan terorisme sampai kapanpun tidak akan berhenti dari negara kita ini.

Ketika masyarakat mendapatkan informasi dan faham tentang konsep beragama yang salah maka disanalah muncul bibit-bibit radikalisasi yang kemudian dengan sepihak mengatakan gerakan yang mereka lakukan adalah gerakan jihad membela agama.
Radikalisasi muncul karena adanya faham ekslusivisme dalam beragama, paham ini menganut pemahaman kebenaran tunggal dengan ciri mengkafirkan atau menyalahkan konsep agama yang diluar dari yang mereka yakini.

Tentu konsep seperti ini sudah banyak kita lihat dan berkembang di tengah masyarakat kita, di negara multikultural akan budaya dan agama seperti Indonesia konsep tersebut tertentu saja tidak dapat dilaksanakan dan diterima oleh mayoritas masyarakat kita yang sejak lama hidup damai di dalam bingkai perbedaan.

Peran dari organisasi Islam moderat sangat penting disini untuk memberikan pemahaman konsep beragama yang benar dan moderat sesuai dengan faham ahlussunnah waljamaaah. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tentunya menjadi dua organisasi islam moderat yang menjadi garda terdepan dalam melakukan tindakan deradikalisasi dan memberikan pemahaman konsep beragama yang baik dan sesuai dengan pancasila kepada masyarakat.

Sesungguhnya masyarakat kita memang merindukan peran dari organisasi islam seperti NU dan Muhammadiyah ini dalam membangun keberagaman umat, jika kedua organisasi tersebut dapat bersama-sama dengan pemerintah melakukan pembinaan terhadap umat maka insya allah bibit-bibit dan faham radikalisme yang tumbuh ditengah masyarakat dapat ditekan dan dihilangkan.

Pemerintah bersama DPR tentunya harus segera mengesahkan rancangan undang-undang terorisme yang memuat berbagai payung hukum bagi Polri dan TNI untuk dapat lebih leluasa dalam melakukan penanganan tindakan terorisme termasuk salah satunya opsi melibatkan pasukan khusus elit TNI untuk membantu Polri dalam menangani tindakan terorisme dalam skala besar dan darurat.

Tentunya di Bulan Ramadan yang penuh berkah ini, menjadi harapan penulis dan harapan kita semua tentunya bahwa negara dan masyarakat kita dapat terbebas dari teror-teror radikalisme yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab serta melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan pesan bahwa masyarakat Indonesia tidak takut terhadap tindakan teror apapun dan tindakan teror tersebut tidak akan mampu memecah keberagaman yang ada ditengah masyarakat indonesia.



*) Penulis adalah Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Jambi, Pemuda Nahdlatul Ulama


Penulis: Deki R Abdillah
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments