Jumat, 22 Juni 2018


Membangun Pertumbuhan Ekonomi Kota Jambi Berkualitas


Senin, 28 Mei 2018 | 13:22:41 WIB


/

KURANG lebih satu bulan lagi akan terlaksana pesta demokrasi di Kota Jambi, dalam rangka memilih walikota dan wakil walikota periode 2018-2023. Melalui pemilihan langsung ini diharapkan Kota Jambi punya pemimpin yang mampu mengentaskan berbagai permasalahan di Kota Jambi, terutama persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Sebagai catatan, beberapa tahun terakhir, pemerintah hanya berfokus pada pencapaian ekonomi berupa tingginya angka pertumbuhan ekonomi saja, tanpa melihat apakah indikator-indikator keberhasilan pembangunan lain berhasil atau tidak. Padahal, menurut Todaro, idealnya ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi dapat dilihat dari: penurunan jumlah kemiskinan, tingkat ketimpangan pendapatan dan penurunan angka pengangguran.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Kota Jambi pada tahun 2014 sebesar 8,18 persen, kemudian pertumbuhan ekonomi turun pada tahun 2015 menjadi 5,57 persen, dan naik kembali pada tahun 2016 menjadi 6,81 persen.

Secara teori pertumbuhan ekonomi dengan angka ini tergolong sangat baik. Namun yang menjadi pertanyaan apakah angka pertumbuhan ekonomi ini berkualitas?

Mari kita simak data dari dua indikator keberhasilan pembangunan ekonomi, yaitu jumlah penduduk miskin dan ketimpangan pendapatan di Kota Jambi. Pada tahun 2014 jumlah penduduk miskin Kota Jambi mencapai 50.95 ribu jiwa. Pada tahun 2015 jumlah penduduk miskin naik sebesar 55.51 ribu jiwa, dan agak turun sedikit pada tahun 2016 menjadi 51.61 ribu jiwa.

Dengan kata lain, pada tahun 2014 jumlah penduduk miskin sebesar 8,94  persen, pada tahun 2015 sebesar 9,67 persen dan tahun 2016 sebesar 8,87 persen. Dengan indeks keparahan kemiskinan (P2) tahun 2014 sebesar 0,2 persen, tahun 2015 sebesar 0,25 persen dan naik tinggi pada tahun 2016 sebesar 0,43 persen. Meskipun jumlah penduduk miskin menurun pada tahun 2016, tingkat keparahan penduduk yang berada di garis kemiskinan sangat dalam.            

Kemudian kita lihat lagi data ketimpangan pendapatan di Kota Jambi selama tahun 2014 sampai 2016 yang dihitung melalui indeks gini ratio. Pada tahun 2014 gini ratio Kota Jambi sebesar 0,33 persen, pada tahun 2015 gini ratio sebesar 0,39 persen, dan pada tahun 2016 sebesar 0,38 persen.  

Bisa kita lihat, tidak ada penurunan angka yang signifikan pada upaya penurunan ketimpangan pendapatan. Meskipun angka pertumbuhan ekonomi Jambi baik, tetapi indikator-indikator lain terabaikan, seperti penurunan angka kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Bahkan gini ratio hanya berputar pada angka segitu-segitu saja.

Keberhasilan pemerintah saat ini bukan hanya sekedar mampu menaikkan pertumbuhan ekonomi saja namun juga mampu mengatasi masalah indikator-indikator perekonomian yang lain. Seperti menurunkan angka kemiskinan dan mengurangi gap atau kesenjangan pendapatan antar golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dan rendah.

Jika pemerintah mampu menaikkan angka pertumbuhan ekonomi sekaligus mampu mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, di sinilah keberhasilan pemerintah dapat terlihat. Bukan hanya sekedar pencapaian output saja.

Untuk itu, kepada kepala daerah yang akan terpilih nanti, diharapkan perencanaan pembangunan bukan hanya berfokus pada perencanaan makro saja. Hendaknya tidak mengabaikan indikator lain agar pertumbuhan ekonomi di Kota Jambi benar-benar berkualitas. Tidak hanya menumbuhkan perekonomian tetapi juga membangun perekonomian di Kota Jambi. (***)

*) Karyawan Swasta, Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Ilmu Ekonomi Unja


Penulis: Rodhiyah, SE
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments