Sabtu, 16 Oktober 2021

Gubernur HBA: Saya Fokus Program Bagi Rakyat Kecil

Rabu, 20 Mei 2015 | 00:34:19 WIB


Hasan Basri Agus
Hasan Basri Agus /

JAMBI - Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus (HBA), menyatakan bahwa pengalaman hidupnya yang dimulai dengan keprihatinan, membuat dirinya memfokuskan program kerjanya bagi kehidupan rakyat kecil. Pernyataan ini disampaikannya dalam dialog bersama Jambi TV dalam program 60 menit bersama HBA, Selasa (19/5), di rumah dinas Gubernur Jambi.

HBA mengatakan, program Satu Miliar Satu Kecamatan (Samisake) merupakan program unggulan Provinsi Jambi demi pengentasan rakyat miskin. Sasaran pembangunan Samisake guna menuntaskan masyarakat yang sangat miskin di Jambi sebanyak 34180 Kepala Keluarga (KK).

“Kehidupan saya yang sulit. Bagaimana saya harus berjuang terutama untuk meraih pendidikan dimana saya sekolah sambil bekerja, membuat diri saya berpikir bagaimana saya dapat membangun dan membantu masyarakat Provinsi Jambi, terutama masyarakat yang miskin, yang untuk makan saja susah apalagi untuk mengenyam pendidikan. Untuk itu dalam program Samisake selain bedah rumah kita programkan beasiswa mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi,” kata HBA.

HBA juga menjelaskan, dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan, dilakukan dengan iklas demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Saya memang dituntut dan diminta masyarakat untuk memberi pelayanan. Saya sadar untuk itu, tapi yang jelas hati saya betul-betul ikhlas melaksanakan tugas pemerintahan ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jambi ke depan. Sebenarnya saya tidak ingin menjadi gubernur untuk periode kedua tetapi dengan dorongan masyarakat yang menginginkan saya maju kembali maka saya kembali mencalonkan diri,” bebernya.

Pada awal perbincangan, gubernur memberikan dengan rinci siapa dirinya dan bagaimana masa kecilnya serta perjuangannya dalam meniti karir. HBA lahir di Sungai Abang, Sarolangun 31 Desember 1953, beristrikan Yusniana seorang mantan perawat Rumah Sakit Umum Daerah Jambi.

“Sebenarnya tanggal 31 Desember bukan tepat tanggal kelahiran saya. Saya juga tidak tahu kapan tepatnya tanggal kelahiran saya. Tanggal itu dibuat sesuai dengan peraturan yang berlaku hanya tahunnya yang tepat,” jelasnya.

Anak sulung dari pasangan H Agus D dan Hj Mo’ah ini, dalam mengenyam pendidikan dasar (SD) tahun 1969. Hasan --panggilan akrabnya-- di kampung adalah anak pertama dari 10 bersaudara. Dengan kopiah kesayangannya, Hasan Basri Agus kecil selalu rajin membantu orangtuanya bahkan menjaga adik-adiknya.

Sepulang sekolah, dia memasak nasi, mengangkat air sampai ketika ayah dan ibunya pulang dari kebun. “Sejak kecil saya memang diberi tanggung jawab oleh orangtua dan saya sudah bisa memasak nasi sejak kelas 4 SD,” ujarnya.

Sikap kepemimpinannya sudah ditampakkan sejak kecil dan ini memberi arti tersendiri pada keluarganya. Tidak cukup sampai disitu, diam-diam Hasan berkeinginan kuat untuk melanjutkan sekolahnya di Kota Jambi. Keinginannya untuk maju itu cukup jarang dimiliki oleh anak- anak sebayanya di kampung halaman.

Keinginannnya untuk mendalami ilmu agama, sehingga tahun 1975 HBA, masuk ke Madrasah Tsanawiyah As’ad Olak Kemang seberang Kota Jambi. Pagi siang sore dan malam ia habiskan menuntut ilmu agama. Dengan menempati pondok dari bambu yang berukuran 3x3m yang berada di pulau kecil (daratan kecil pinggir Sungai Batanghari) dimana sekolah As’ad dan posisi pondok dipisahkan oleh sungai kecil, namun Hasan tetap bersemangat belajar bahkan menjadi ketua kelas.

“Saya memang sangat bersemangat untuk sekolah dan saya tidak pernah membolos karena bagi saya pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan kita, dan saya sangat berterima kasih kepada orangtua, keluarga yang telah mendukung saya sepenuhnya,” ujarnya.




Penulis: Anton
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments