Minggu, 29 November 2020

Misteri Angka-Angka Keramat di Tiongkok pada Awal Juni


Jumat, 05 Juni 2015 | 10:12:55 WIB


Screenshots layar berupa angka yang disensor oleh pihak berwewenang di Tiongkok.
Screenshots layar berupa angka yang disensor oleh pihak berwewenang di Tiongkok. / The Wall Street Journal

BADAN sensor di Tiongkok punya cara unik untuk mengingatkan orang pada peristiwa Demonstrasi Tiananmen 1989. Masih ingat dengan sejarah insiden di Lapangan Tiananmen itu?

Aksi protes besar-besaran tersebut juga dikenal publik dengan Insiden 6/4 atau Pembantaian Lapangan Tiananmen. Itu adalah rangkaian demonstrasi sejak 15 April 1989, dan mencapai puncaknya pada 4 Juni 1989 (4-6-1989).

Protes ini ditujukan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik yang kemudian merembet menjadi demonstrasi pro-demokrasi, yang saat itu belum lazim di Tiongkok yang otoriter. Lebih dari 3.000 orang meninggal sebagai akibat tindakan dari pasukan bersenjata.

Nah, dilansir dari The Wall Street Journal, Kamis (4/6), setiap tahun di bulan Juni, badan sensor di Tiongkok tadi sengaja mengeramatkan angka 89 (untuk tahun peristiwa Tiananmen: 1989) dan 64 atau 6,4 (untuk 4 Juni)  

Di semua laman mikroblog populer d Tiongkok seperti Twitter dan Weibo, pencarian untuk angka 8964, 6,4 kemudian 1989 atau 64 dan seterusnya tidak berhasil ditemukan. Notifikasi pun muncul pada layar: “menurut aturan, regulasi, dan kebijakan yang berlaku,” hasil pencarian “tidak ditampilkan.”

Tahun ini, raksasa permainan online serta jejaring sosial Tiongkok juga mengambil langkah baru dalam mematuhi permintaan sensor. Pada hari Rabu kemarin, sejumlah pemakai layanan transfer uang di WeChat melaporkan bahwa mereka tidak berhasil mengirimkan uang atau angpau elektronik yang nilainya mengandung angka keramat tadi.

Beberapa pengguna mencoba untuk mengirimkan nominal 6,4 yuan, 64 yuan, atau 89,64 yuan. Mereka pun mendapatkan pesan balasan: “Transaksi error. Silakan coba lagi.” Baru pada hari Kamis, pembayaran sejumlah angka keramat akhirnya berhasil.


Penulis: adk/JPNN
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments