Rabu, 16 Oktober 2019

Kisah Ustazah yang Mengajar 50 Anak Mengaji di Samping Rel Kereta Api


Jumat, 26 Juni 2015 | 11:01:50 WIB


SELAMA RAMADAN: Miftahul Jannah mengajar mengaji anak-anak yang sudah tampak rapi dengan baju putih di pinggir rel kereta api Dupak Magersari.
SELAMA RAMADAN: Miftahul Jannah mengajar mengaji anak-anak yang sudah tampak rapi dengan baju putih di pinggir rel kereta api Dupak Magersari. / Dipta Wahyu/Jawa Pos/JPNN.com

SURABAYA – Sudah tiga tahun ini, setiap Ramadan tiba, salah satu sisi rel kereta api di Dupak Magersari, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur berubah fungsi. Yakni, bukan hanya menjadi tempat berjalan kaki warga kampung yang padat penduduk itu, tetapi juga jadi majelis taklim dadakan.

Setiap sore anak-anak berdatangan. Dengan rapi, mereka yang umumnya berbaju muslim putih tersebut duduk di atas tikar yang tergelar.
Setelah itu, ustazah yang mengajar mereka, Miftahul Jannah, memimpin doa pembuka.

’’Anak-anak yang mengaji di sini berjumlah sekitar 50 anak,’’ kata Miftahul seperti yang dilansir Jawa Pos (Induk JPNN). Mereka berasal dari Dupak Magersari maupun kampung-kampung di sekitarnya.

Ketika ada kereta yang akan lewat, Jannah langsung memberikan peringatan kepada para muridnya untuk tidak menyentuh bagian rel.
’’Kalau ada kereta, anak-anak menjauh dari rel,’’ ungkap perempuan asli Surabaya tersebut.
Jannah beserta 50 muridnya mengaku nyaman saja mengaji di sekitar rel.

Menurut dia, tidak ada tempat yang mampu menampung puluhan murid itu. Untuk mengajar mengaji tersebut, Jannah tidak memungut biaya.
’’Saya mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah agar dibuatkan tempat mengaji,’’ ujarnya.

Camat Bubutan Nono Indriyanto menyatakan keprihatinannya atas kondisi itu. Dia menyayangkan jika anak-anak harus mengaji di pinggir rel.
’’Saya akan secepatnya ke lokasi. Sebenarnya, saya tidak setuju dengan adanya aktivitas di sana karena itu membahayakan,’’ ucapnya.


Penulis: lyn/c20/ayi
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments