Sabtu, 24 Oktober 2020

Harga Anjlok, Petani Karet dan Sawit Biarkan Kebun Terbengkalai


Jumat, 14 Agustus 2015 | 10:36:52 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

BANGKO – Di Kabupaten Merangin saat ini banyak petani yang tidak lagi menyadap karet, dan membiarkan kebun sawit mereka terbengkalai. Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, para petani lebih memilih untuk mencari pekerjaan lain.

Zulkarni petani karet asal Desa Sungai Uleh, Kecamatan Lembah Masurai menuturkan, sejak beberapa bulan terakhir dirinya tidak lagi menyadap karet di kebunnya. "Harga karet sudah lama turun. Saya tidak lagi menyadap karet saya sejak beberapa bulan terakhir," kata Zulkarni.

Disebutkan Zulkarni, harga karet saat ini Rp 4.500 per kilogram. Menurut Zulkarni, dengan harga tersebut sulit untuk berharap banyak. Maka dari itu, kata Zulkarni, banyak warga yang memilih mencari pekerjaan lain.

"Saat ini banyak warga yang bekerja menjadi buruh tani memetik kopi," tandasnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan Lukman, salah seorang tauke karet di kawasan Pamenang. Lukman juga mengakui jika harga karet sudah lama turun.

"Banyak yang tidak mau menyadap karet lagi. Paling yang masih nyadap adalah mereka (petani, red) yang tidak ada pekerjaan sampingan lain. Kalau yang punya kerja sampingan lain mereka tidak menyadap," sebut Lukman.

Kondisi serupa juga terjadi pada petani sawit. Fahmi, pemilik kebun sawit asal Tanjung Benuang, Kecamatan Tabir Selatan menuturkan, harga sawit ditingkat petani saat ini berkisar Rp 820 hingga Rp 850 perkilogramnya.

"Anjlok nian harga sawit sekarang. Banyak warga disini yang beli mobil nunggak bayar, bahkan ada yang ditarik dealer. Sekarang ini mau tidak mau kami ngejalaninya, ada juga warga kita yang membiarkan sawitnya terbengkalai dan alih profesi jadi tukang ojek," ujar Fahmi.


Penulis: Riki Saputra
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments