Rabu, 28 Oktober 2020

Alamak! Harga Sawit Turun Lagi


Jumat, 21 Agustus 2015 | 22:50:00 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAMBI – Seperti periode sebelumnya, harga komoditi sawit pada periode 21 Agustus-27 Agustus 2015 kembali mengalami penurunan. Pada periode ini, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit untuk usia produktif antara 10-20 tahun adalah Rp 1.224,14 perkilogram.

Ini seperti dikatakan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi, Budidaya, Jumat (21/8). Disebutkannya, dibandingkan periode sebelumnya, untuk periode 21-27 Agustus 2015 harga turun Rp 109 per kilogram, dimana pada periode sebelumnya harga TBS usia 10-20 tahun adalah Rp 1/205,44 per kilogram.

Sementara itu untuk harga TBS usia 21-24 tahun yakni Rp 1.293,11 per kilogram. Sementara itu harga periode sebelumnya yakni Rp 1.205,44 per kilogram.

Kemudian untuk TBS usia 25 tahun, adalah Rp 1147,81 per kilogram. Harga yang ditetapkan ini berlaku untuk petani yang menjadi mitra perusahaan.

Sementara di kalangan petani swadaya, harga TBS bisa jauh lebih rendah dari itu, sekitar Rp 700 hingga Rp 800 per kilogramnya. "Ini berlaku sampai seminggu ke depan," kata Budidaya.

Sementara itu Putri Rainun, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Disbun Provinsi Jambi mengatakan, anjloknya harga sawit tidak hanya terjadi di Jambi, namun juga di seluruh wilayah penghasil sawit di Indonesia. “Di Medan, sudah lebih dulu turun menjadi Rp 1.200-an per kilogram," ujarnya.

Ditambahkan Putri, salah satu penyebab anjloknya harga adalah produksi sawit yang sangat banyak, sementara permintaan dari negara-negara tujuan ekspor berkurang. “Yang paling banyak itu China dan Amerika, dan saat ini mereka juga mengurangi permintaan. Menurut informasi, stok mereka masih banyak ada di sana," katanya.

Selain itu, Jambi khususnya tidak memiliki industri hilir. Sehingga produk kelapa sawit yang bisa diekspor hanya dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO) saja.

Putri menambahkan, pihaknya tidak bisa memastikan bagaimana kondisi harga sawit di kalangan petani setelah satu minggu ke depan. Ini karena harga tersebut ditentukan oleh pasar dunia. "Kita produksi banyak, sawit ada terus sementara permintaan berkurang," pungkasnya.



Penulis: Hendro
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments