Rabu, 19 Mei 2021

Antibiotik Bisa Meningkatkan Resiko Diabetes


Rabu, 09 September 2015 | 10:45:50 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

DENMARK - Rutin mengonsumsi antibiotik bisa meningkatkan risiko pengembangan diabetes tipe 2. Peneliti Denmark menemukan bahwa orang dengan diabetes tipe 2 cenderung untuk mengonsumsi lebih banyak antibiotik.

“Pasien dengan diabetes tipe 2 terlalu overexposed terhadap antibiotik dibandingkan dengan mereka yang tanpa diabetes," kata peneliti Dr. Kristian Hallundbaek Mikkelsen, seperti dilansir laman Health, Senin (7/9).

Meskipun para peneliti menemukan hubungan antara penggunaan antibiotik dan diabetes tipe 2, penting untuk dicatat mereka tidak membangun hubungan sebab-akibat langsung.

Untuk penelitian ini, para ilmuwan menghitung resep antibiotik yang dikonsumsi oleh lebih dari 170.000 orang. Denmark dengan diabetes tipe 2 dan sekitar 1,3 juta orang dewasa lainnya antara tahun 1995 dan 2012. Para pria dan wanita diidentifikasi dengan menggunakan catatan dari pendaftar kesehatan nasional.

Orang yang didiagnosis dengan diabetes tipe 2 mengonsumsi rata-rata 0,8 antibiotik per tahun. Orang dengan diabetes tipe 2 biasanya tidak membuat cukup hormon insulin atau insulin tidak bekerja dengan baik. Sekitar 29 juta orang Amerika memiliki diabetes tipe 2 yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan masalah lainnya.

“Penelitian pada hewan telah menemukan bahwa antibiotik bisa mengubah bakteri usus dan memengaruhi gula dan metabolisme lemak,” kata Mikkelsen.

“Temuan ini tidak mengejutkan karena ada spekulasi tentang peran flora usus dan antibiotik dalam pengembangan diabetes,” kata Dr. Maria Pena, director of the Center for Weight Management at Lenox Hill Hospital in New York City.

“Bisa jadi orang-orang yang akan mengembangkan diabetes cenderung untuk mendapatkan infeksi,” katanya.

Teori lain adalah bahwa infeksi mengubah bakteri usus atau microbiome yang mengarah ke obesitas, faktor risiko untuk diabetes. Jadi lebih baik Anda berhati-hati ketika menyangkut ke penggunaan antibiotik. Studi ini dipublikasikan secara online di Journal of Clinical Endocriniology & Metabolism.


Penulis: fny/jpnn
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: JPNN.COM

TAGS:


comments