Rabu, 21 Agustus 2019

Penduduk Miskin di Provinsi Jambi Bertambah 19 Ribu Jiwa


Rabu, 16 September 2015 | 14:48:35 WIB


Beberapa orang gepeng yang terjaring razia di kawasan Pasar Jambi.
Beberapa orang gepeng yang terjaring razia di kawasan Pasar Jambi. / dok/metrojambi.com

JAMBI - Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Provinsi Jambi pada bulan Maret 2015 mencapai 300,71 ribu orang (8,86 persen). Jumlah ini bertambah sebesar 19,0 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada september 2014 yang hanya sebesar 281,75 ribu orang (8,39 persen).

Ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi Yas Rusdiansyah, pada ekspos profil kemiskinan di Provinsi Jambi. "Jumlah penduduk miskin maret 2015 mencapai 300,71 ribu orang," katanya.

Selama periode September 2014-maret 2015, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan bertambah 10,5 ribu orang (dari 109,07 ribu orang pada September 2014 menjadi 119,54 ribu orang pada Maret 2015). Sementara pada daerah pedesaan bertambah 8,5 ribu orang (dari 172,68 ribu orang pada September 2014 menjadi 181,17 orang pada Maret 2015).

Dikatakannya lagi, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada Maret 2015 tercatat 76,41 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2014 yang sebesar 77,38 persen.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di pedesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, daging, ayam ras, telur, gula pasir, cabai merah, dan mi instan. Sedangkan untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, listrik, dan bensin.

Dianjutkan Yas, selama periode September 2014-Maret 2015, karis kemiskinan naik sebesar 4,48 persen, yaitu dari Rp 329.181 per kapita perbulan pada September 2014 menjadi Rp 343.935 perkapita per bulan pada Maret 2015. Dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM).

"Terlihat bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan)," terangnya.

"Untuk Jambi ini bisa disebutkan kalau dalam satu rumah tangga ada 4 orang, dikatakan miskin jika hanya berpenghasilan Rp 1.400.000 perbulan," ujarnya lagi.

Pada Maret 2015, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya sama, seperti beras yang memberi sumbangan sebesar Rp 29,88 persen di perkotaan dan 39.26 persen di pedesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua kepada garis kemiskinan.

"Maka dari itu, perlu adanya pengendalian harga beras karena harga beras menjadi yang terbesar penyumbang garis kemiskinan," sebutnya.

Dikatakannya lagi, komoditi daging ayam ras 5,82 persen di perkotaan dan 3,42 persen di pedesan. Telur ayam ras 5,00 persen di perkotaan dan 3,82 persen di pedesan. "Ada kue basah yang menyumbang kemiskinan di perkotaan, namun tidak ada di pedesaan," ungkapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, permasalahan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari tingkat kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

"Solusinya yang jelas pemerintah harus mampu meningkatkan lapangan pekerjaan padat karya, seperti kuli bangunan dan lainnya, juga mengkontrol harga kebutuhan pokok seperti daging beras lainnya," pungkasnya.



Penulis: Hendro
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments